Memasuki usia lanjut, banyak orang menghadapi perubahan yang tidak selalu mudah. Tubuh tidak lagi sekuat dulu, daya ingat mulai melemah, dan ruang untuk berinteraksi sosial sering kali menyempit. Dalam keseharian, tidak sedikit lansia yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, jarang berbincang dengan orang lain, dan perlahan merasa terasing.
Kondisi ini kerap dipicu oleh berkurangnya aktivitas, kehilangan pasangan hidup, atau minimnya pendampingan dari keluarga. Jika dibiarkan, rasa sepi dan kurangnya stimulasi dapat berdampak pada kesehatan mental serta fungsi kognitif lansia.
Padahal, lansia tetap membutuhkan aktivitas yang memberi rasa bermakna. Mereka perlu ruang untuk bergerak, berbagi cerita, dan merasa dihargai. Salah satu pendekatan yang relatif sederhana namun berdampak nyata adalah terapi aktivitas kelompok.
Terapi ini berupa kegiatan bersama yang dirancang untuk mendorong interaksi sosial sekaligus menstimulasi kerja otak. Bentuknya beragam, mulai dari senam ringan, permainan kelompok, diskusi santai, hingga aktivitas kreatif yang menyenangkan.
Berdasarkan pengamatan di lingkungan masyarakat, khususnya di posyandu lansia, terapi aktivitas kelompok mampu menciptakan suasana yang lebih hidup. Lansia yang awalnya cenderung pendiam mulai berani menyapa, tertawa, dan terlibat dalam percakapan.
Kegiatan bersama memberi mereka alasan untuk keluar rumah dan berinteraksi. Dari situ, rasa percaya diri perlahan tumbuh dan semangat hidup pun meningkat. Interaksi sederhana seperti saling bertanya kabar atau berbagi pengalaman sehari-hari ternyata memiliki makna besar bagi kesehatan psikologis lansia.
Manfaat terapi aktivitas kelompok tidak berhenti pada aspek sosial. Aktivitas yang melibatkan permainan memori, tebak gambar, atau latihan konsentrasi juga berperan dalam menjaga fungsi kognitif. Stimulasi otak yang dilakukan secara rutin membantu lansia tetap fokus, melatih daya ingat, dan mempertahankan kemampuan berpikir sederhana.
Di lapangan, terlihat perubahan positif, seperti lansia yang mulai mampu mengingat jadwal kegiatan atau aturan permainan tanpa banyak bantuan. Hal ini menunjukkan bahwa otak tetap perlu diajak “berolahraga” agar tidak cepat mengalami penurunan fungsi.
Temuan tersebut sejalan dengan berbagai hasil penelitian. Sari dan Utami mencatat adanya peningkatan kemampuan bersosialisasi dan fungsi kognitif pada lansia yang rutin mengikuti terapi aktivitas kelompok. Wulandari menemukan bahwa permainan memori dan senam otak dapat membantu menurunkan risiko demensia.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa lansia yang aktif berinteraksi sosial memiliki risiko penurunan kognitif yang lebih rendah dibandingkan mereka yang menjalani hari-hari secara pasif. Organisasi kesehatan dunia pun menekankan pentingnya aktivitas sosial dalam menjaga kesehatan mental dan memperlambat penuaan otak.
Keberhasilan terapi aktivitas kelompok sangat bergantung pada cara pelaksanaannya. Kegiatan perlu disesuaikan dengan kondisi fisik dan psikologis lansia, serta dikemas secara santai agar tidak terasa membebani. Dukungan keluarga dan tenaga kesehatan juga memegang peranan penting. Lansia yang didorong dan ditemani cenderung lebih konsisten mengikuti kegiatan dan memperoleh manfaat yang lebih optimal.
Terapi aktivitas kelompok membuktikan bahwa upaya menjaga kualitas hidup lansia tidak selalu harus rumit. Melalui kegiatan sederhana yang dilakukan bersama, lansia dapat tetap aktif, merasa dihargai, dan menjalani masa tua dengan lebih sehat serta bermakna.
Penulis : Nakhesya Alifia Indrani / Mahasiswa Prodi Fisioterapi | Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Anisa Putri









