Magelang, Sorotnesia.com – Upaya penguatan mitigasi bencana di wilayah rawan erupsi Gunung Merapi terus dilakukan salah satunya di Desa Gulon, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Tim 39 Kuliah Kerja Nyata (KKN)-Tematik Universitas Diponegoro (UNDIP) menghadirkan sistem pemetaan digital berbasis Geographic Information System (GIS) untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat Desa Gulon terhadap potensi bencana.
Program ini mengusung tema Sinergi Mahasiswa dan Masyarakat dalam Peningkatan Ketahanan Desa terhadap Bencana Erupsi Merapi. Selama pelaksanaan KKN, tim mahasiswa bekerja bersama perangkat desa dan warga untuk menyusun berbagai instrumen mitigasi yang berbasis data geografis dan kebutuhan lapangan.
Salah satu luaran utama program tersebut adalah peta jalur aliran lahar erupsi Gunung Merapi. Peta ini memuat gambaran wilayah rawan terdampak aliran lahar dingin dan panas yang berpotensi mengancam permukiman warga. Berdasarkan pemetaan tersebut, tim kemudian menyusun peta jalur evakuasi terbaru Desa Gulon yang dirancang lebih adaptif terhadap kondisi geografis desa.

Untuk memperluas akses informasi, seluruh peta yang telah disusun dikembangkan dalam bentuk WebGIS. Melalui platform digital ini, masyarakat dapat mengakses informasi jalur evakuasi secara daring melalui link https://www.jalurevakuasigulon.com/ yang disediakan tim KKN. Akses tersebut juga dilengkapi dengan barcode yang dapat dipindai menggunakan telepon pintar, sehingga memudahkan warga memperoleh informasi secara cepat saat kondisi darurat.

Selain pemetaan digital, tim KKN-Tematik UNDIP juga menyusun modul kebencanaan bertajuk Merapi Alert. Modul ini berisi informasi teknis mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan warga saat terjadi peningkatan aktivitas Gunung Merapi. Di dalamnya tercantum gambaran umum kondisi Desa Gulon, potensi risiko bencana, serta visualisasi seluruh peta evakuasi dan jalur aliran lahar yang telah disusun.

Penguatan mitigasi juga dilakukan melalui pembaruan infrastruktur penunjang keselamatan. Tim mengganti rambu titik kumpul yang telah rusak dan memasang rambu baru di sejumlah lokasi strategis yang sebelumnya belum memiliki penanda evakuasi. Langkah ini ditujukan untuk memastikan warga memiliki panduan visual yang jelas saat harus melakukan evakuasi mandiri.
Seluruh proses pemetaan dilakukan dengan memanfaatkan perangkat lunak ArcGIS dan QGIS. Penggunaan teknologi ini memungkinkan penyusunan peta dengan tingkat akurasi yang tinggi, sehingga jalur evakuasi dan wilayah rawan bencana dapat dipetakan secara detail dan dapat dipertanggungjawabkan secara teknis.
Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Pada 21 Januari 2026, tim KKN menyelenggarakan forum diskusi kelompok terarah atau Forum Group Discussion (FGD) yang melibatkan perwakilan warga serta perangkat desa, termasuk kepala dusun, kepala wilayah, dan ketua RT/RW. Dalam forum tersebut, warga menyampaikan masukan terkait kondisi lapangan, akses jalan, serta titik-titik yang dinilai aman untuk evakuasi.

Masukan tersebut kemudian digunakan sebagai dasar penyempurnaan peta dan modul kebencanaan agar sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat. Pendekatan partisipatif ini dinilai penting untuk memastikan bahwa produk mitigasi yang dihasilkan tidak hanya akurat secara teknis, tetapi juga aplikatif dalam situasi darurat.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sosialisasi hasil akhir pada 31 Januari 2026. Dalam kegiatan tersebut, tim KKN menyerahkan modul Merapi Alert dan peta evakuasi secara simbolis kepada pemerintah desa. Sosialisasi juga menjadi sarana edukasi bagi warga untuk memahami jalur evakuasi dan prosedur keselamatan yang telah disusun.

Pemerintah Desa Gulon menyambut positif program tersebut. Keberadaan peta dan modul kebencanaan dinilai membantu desa dalam memperkuat sistem mitigasi bencana, sekaligus meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi erupsi Merapi.
Program ini juga mendukung upaya Desa Gulon sebagai bagian dari desa penyangga dalam skema Sister Village untuk evakuasi bencana gunung berapi. Dengan sistem pemetaan yang lebih tertata, Desa Gulon diharapkan mampu menjalankan peran strategis dalam sistem tanggap darurat kawasan Merapi.
Melalui program ini, Tim KKN-Tematik UNDIP menunjukkan peran perguruan tinggi dalam mendukung pengurangan risiko bencana berbasis komunitas. Sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun desa yang lebih tangguh menghadapi ancaman bencana alam.
Penulis : Benedictus Halleyando Muji
Editor : Anisa Putri









