KKN 62 UNS Dorong Desa Sewurejo Jadi Percontohan Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan Lewat Biopori

- Redaksi

Minggu, 7 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa KKN 62 UNS bersama warga Desa Sewurejo melakukan praktik langsung pembuatan lubang resapan biopori sebagai upaya pengelolaan sampah organik dan pencegahan genangan air. Foto: KKN 62 UNS

Mahasiswa KKN 62 UNS bersama warga Desa Sewurejo melakukan praktik langsung pembuatan lubang resapan biopori sebagai upaya pengelolaan sampah organik dan pencegahan genangan air. Foto: KKN 62 UNS

Karanganyar, Sorotnesia.com – Permasalahan sampah rumah tangga kerap dianggap sepele, padahal jika dibiarkan menumpuk dapat menimbulkan persoalan serius, mulai dari pencemaran lingkungan hingga genangan air saat musim hujan. Menyadari hal itu, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) 62 hadir dengan solusi praktis dan ramah lingkungan di Desa Sewurejo, Kecamatan Mojogedang.

Melalui program pembuatan lubang resapan biopori dan pemanfaatan sampah organik, para mahasiswa berupaya membangun kesadaran masyarakat bahwa menjaga lingkungan bisa dilakukan dengan cara sederhana, murah, dan berkelanjutan.

Lubang biopori yang diperkenalkan memiliki kedalaman sekitar satu meter dengan diameter 10 cm. Bagian dalamnya dipasang pipa berlubang kecil agar air hujan dapat terserap lebih cepat ke tanah. Sampah organik rumah tangga dimasukkan ke dalam lubang tersebut, yang seiring waktu akan terurai menjadi kompos alami kaya nutrisi untuk tanaman.

Koordinator program kerja biopori, Lintang Wirayuda, menjelaskan bahwa inisiatif ini bukan hanya sekadar proyek jangka pendek, tetapi diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan baru dalam pengelolaan lingkungan di tingkat desa.

Baca Juga :  Dosen UPITRA Ajak Siswa SD Negeri 1 Trayu Bersahabat dengan Teknologi dan Internet Lewat Program Pengabdian Masyarakat

“Lubang biopori dapat mengurangi risiko banjir kecil akibat genangan air, sekaligus mengubah sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat. Kami ingin masyarakat melihat bahwa menjaga lingkungan tidak selalu butuh biaya besar,” ujarnya.

Kegiatan dimulai dengan sosialisasi kepada warga mengenai manfaat lubang biopori serta cara pembuatannya. Setelah itu, masyarakat diajak terjun langsung membuat lubang di beberapa titik yang telah ditentukan. Antusiasme warga terlihat dari partisipasi mereka, meskipun di lapangan muncul tantangan berupa kondisi tanah berbatu yang cukup menyulitkan proses pengeboran.

Mahasiswa KKN 62 UNS berfoto bersama warga Desa Sewurejo usai kegiatan sosialisasi dan praktik pembuatan lubang resapan biopori sebagai solusi pengelolaan sampah organik dan pencegahan genangan air. Foto: KKN 62 UNS
Mahasiswa KKN 62 UNS berfoto bersama warga Desa Sewurejo usai kegiatan sosialisasi dan praktik pembuatan lubang resapan biopori sebagai solusi pengelolaan sampah organik dan pencegahan genangan air. Foto: KKN 62 UNS

Kendati demikian, kolaborasi antara mahasiswa dan warga membuat pekerjaan tetap berjalan. Bahkan, diskusi-diskusi kecil mengenai persoalan lingkungan desa turut memperkaya program tersebut. Salah satu warga, Ibu Sri, mengaku merasakan manfaat nyata dari lubang biopori.

Baca Juga :  Siap Hadapi Keadaan Darurat, Pokdarwis dan Dewasa Muda Desa Sumberdem Belajar Pertolongan Pertama  

“Sejak ada biopori, halaman rumah tidak lagi mudah tergenang saat hujan deras. Solusi sederhana ini ternyata berdampak besar bagi kami,” katanya.

Melihat respons positif warga, mahasiswa KKN 62 berharap program ini tidak berhenti ketika masa pengabdian berakhir. Mereka mendorong agar masyarakat Desa Sewurejo mampu melanjutkannya secara mandiri, sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.

Lebih jauh, program ini juga diharapkan dapat menjadikan Sewurejo sebagai contoh desa ramah lingkungan. Dengan biopori, tidak hanya persoalan sampah rumah tangga yang dapat teratasi, tetapi juga kualitas tanah meningkat dan ketersediaan air tanah lebih terjaga.

Langkah kecil yang dimulai dari desa ini menjadi bukti bahwa solusi lingkungan tidak harus selalu kompleks. Kolaborasi mahasiswa dan masyarakat bisa menjadi inspirasi untuk desa-desa lain dalam menjaga kelestarian alam dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat.

Penulis : Tim KKN 62 UNS

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serai Merah Tak Sekadar Tanaman, KKN UNS Kenalkan Potensinya untuk Produk Rumah Tangga
Dorong Persiapan Kehamilan Sehat, Mahasiswa Gizi UAD Edukasi Calon Pengantin di KUA Ngaglik
Penerapan K3 di Sekolah: Membangun Lingkungan Belajar yang Aman, Nyaman, dan Tangguh
Lomba Seni Literasi KKN 292 UNS Dorong Kreativitas Anak Desa Tawangsari
Dorong Daya Saing UMKM Desa Brunosari, KKN 214 UNS Inovasikan Produk dan Perkuat Identitas Kemasan
KKN-T UAA Bekali Pelaku UMKM Ngablak Magelang Kelola Keuangan lewat Program 30 Hari
Tak Hanya Edukasi, Mahasiswa KKN 142 UNS Ajak Pemuda Pemudi Tegalgondo Tingkatkan Kesadaran Hidup Sehat 
KKN 54 UNS Dorong Ibu-ibu PKK Pilangrejo Olah Jambu Air Menjadi Produk Bernilai Jual

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 10:47 WIB

Dorong Persiapan Kehamilan Sehat, Mahasiswa Gizi UAD Edukasi Calon Pengantin di KUA Ngaglik

Rabu, 23 September 2026 - 18:02 WIB

Penerapan K3 di Sekolah: Membangun Lingkungan Belajar yang Aman, Nyaman, dan Tangguh

Minggu, 20 September 2026 - 11:51 WIB

Lomba Seni Literasi KKN 292 UNS Dorong Kreativitas Anak Desa Tawangsari

Sabtu, 19 September 2026 - 15:42 WIB

Dorong Daya Saing UMKM Desa Brunosari, KKN 214 UNS Inovasikan Produk dan Perkuat Identitas Kemasan

Rabu, 16 September 2026 - 06:12 WIB

KKN-T UAA Bekali Pelaku UMKM Ngablak Magelang Kelola Keuangan lewat Program 30 Hari

Berita Terbaru

Ilustrasi sawah dan industri

Opini

Karawang Makin Dipenuhi Pabrik, Bagaimana Nasib Sawahnya?

Minggu, 11 Okt 2026 - 20:30 WIB