Ketidakjelasan Peran Fisioterapi di Mata Publik: Terapis Penyembuh atau Tukang Pijat Mahal?

- Redaksi

Senin, 12 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah semakin berkembangnya layanan kesehatan, profesi fisioterapi justru masih sering disalahpahami. Tidak sedikit orang yang menganggap fisioterapis tak ubahnya tukang pijat, hanya saja dengan tarif lebih tinggi dan tempat praktik yang terlihat lebih “medis”. Anggapan ini bukan sekadar keliru, tetapi juga merugikan, baik bagi profesi fisioterapi maupun masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan yang tepat.

Kesalahpahaman ini muncul karena fisioterapi sering dikaitkan dengan aktivitas yang melibatkan sentuhan tubuh, tekanan otot, atau manipulasi sendi. Bagi sebagian besar masyarakat, semua tindakan semacam itu otomatis diberi label “pijat”. Padahal, di balik sentuhan seorang fisioterapis, ada proses berpikir klinis, analisis kondisi pasien, serta keputusan terapi yang didasarkan pada ilmu pengetahuan dan standar praktik kesehatan. Sayangnya, sisi ini jarang terlihat oleh publik.

Budaya pijat tradisional yang sudah lama mengakar di Indonesia ikut memperkuat persepsi tersebut. Sejak dulu, pijat dipercaya sebagai solusi untuk pegal, capek, masuk angin, atau nyeri ringan. Karena praktik ini sudah akrab dan diwariskan turun-temurun, masyarakat kemudian menganggap fisioterapi sebagai versi modern dari pijat yang sama. Minimnya edukasi publik membuat perbedaan mendasar antara keduanya jarang dibahas secara serius.

Media sosial juga punya andil dalam membingungkan persepsi ini. Banyak konten promosi yang menyebut fisioterapi sebagai “pijat medis” atau menonjolkan aspek relaksasi semata. Visual yang ditampilkan sering kali hanya memperlihatkan pasien dipijat atau diterapi secara manual, tanpa penjelasan tentang pemeriksaan awal, tujuan terapi, atau proses evaluasi yang menyertainya. Akibatnya, fisioterapi kembali direduksi menjadi layanan sentuh-sentuh yang dianggap sederhana.

Baca Juga :  Singkong Rebus: Tradisi Sehat dengan Segudang Manfaat

Dampak dari kesalahpahaman ini tidak bisa dianggap remeh. Ketika fisioterapis dipandang setara dengan tukang pijat, kepercayaan terhadap kompetensi klinis mereka ikut menurun. Masyarakat pun kerap salah mengambil keputusan saat mengalami gangguan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan sistem gerak, saraf, pernapasan, atau jantung. Banyak yang lebih memilih pijat tradisional, meski keluhannya membutuhkan penanganan medis berbasis evaluasi yang tepat.

Dalam banyak kasus, pilihan yang keliru ini justru memperpanjang proses pemulihan. Cedera yang seharusnya bisa ditangani sejak awal menjadi makin parah karena salah terapi. Tidak jarang pasien baru datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisinya sudah memburuk. Situasi ini bukan hanya merugikan pasien, tetapi juga menambah beban sistem kesehatan secara keseluruhan.

Padahal, secara keilmuan, fisioterapi adalah profesi kesehatan yang kompleks dan berbasis bukti ilmiah. Seorang fisioterapis tidak bekerja asal memijat. Mereka memulai dengan melakukan asesmen menyeluruh untuk memahami penyebab gangguan fungsi gerak pasien. Dari situ, fisioterapis menyusun diagnosis fungsional, merancang program terapi, lalu mengevaluasi hasilnya secara berkala.

Ruang lingkup fisioterapi sangat luas. Tidak hanya menangani nyeri otot atau sendi, tetapi juga rehabilitasi pasca-stroke, gangguan saraf, masalah pernapasan, pemulihan jantung, cedera olahraga, hingga tumbuh kembang anak dan kesehatan lansia.

Teknik yang digunakan pun beragam, mulai dari latihan terapeutik, edukasi postur dan gerak, latihan pernapasan, hingga penggunaan alat seperti ultrasound, stimulasi listrik saraf, atau teknologi rehabilitasi lainnya. Semua intervensi ini dilakukan dengan tujuan yang jelas dan terukur.

Baca Juga :  Manajemen Waktu terhadap Adaptasi Belajar pada Mahasiswa Semester Awal

Perbedaan antara pijat tradisional dan fisioterapi sebenarnya cukup tegas jika dilihat dari tujuannya. Pijat tradisional umumnya bertujuan memberikan rasa nyaman dan relaksasi. Sementara fisioterapi berfokus pada pemulihan fungsi, pencegahan gangguan jangka panjang, serta peningkatan kualitas hidup pasien. Seorang fisioterapis juga menempuh pendidikan formal, mempelajari anatomi, fisiologi, biomekanik, hingga metode evaluasi yang objektif. Ini bukan keterampilan instan yang bisa dipelajari secara otodidak.

Menyamakan fisioterapis dengan tukang pijat berarti mengabaikan proses panjang pendidikan dan kedalaman ilmu yang mereka miliki. Lebih dari itu, anggapan tersebut berpotensi membuat masyarakat meremehkan pentingnya rehabilitasi yang tepat dan aman.

Perbaikan persepsi publik tentu tidak bisa dilakukan oleh fisioterapis sendirian. Dibutuhkan peran aktif dari institusi pendidikan, organisasi profesi, fasilitas kesehatan, hingga pemerintah. Edukasi yang konsisten melalui media sosial, seminar kesehatan, dan konten populer yang mudah dipahami perlu terus digencarkan. Fisioterapis juga memiliki peran penting untuk menjelaskan kepada pasien apa yang sedang mereka lakukan dan mengapa terapi tersebut dibutuhkan.

Jika masyarakat mulai memahami bahwa fisioterapi bukan sekadar pijatan, melainkan bagian penting dari sistem kesehatan modern, maka akses terhadap layanan yang tepat akan semakin terbuka. Kepercayaan publik akan tumbuh, dan profesi fisioterapi bisa berdiri pada posisi yang semestinya, sebagai mitra penting dalam menjaga dan memulihkan kualitas hidup manusia.

Penulis : Ragatra Hanggara Saputra | Mahasiswa Prodi Fisioterapi | Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menyambut Ramadhan: Memahami Puasa Rajab–Sya’ban dan Qadha Menurut Empat Mazhab
Pusat Layanan Fisioterapi Kampus: Investasi Strategis untuk Kesehatan dan Pendidikan Masyarakat
Peningkatan Kualitas Pemulihan dan Kinerja Atlet Sepak Bola
Probabilitas Prospek Kerja Terbaik bagi Mahasiswa Manajemen di Tengah Revolusi Industri Digital
Terkikisnya Norma Pendidikan Terhadap Anak Remaja di Era Digitalisasi
Pendidikan Karakter Berkualitas terhadap Upaya Pencegahan Bullying di Lingkungan Pendidikan
Pengaruh Kinerja Lingkungan dan Produktivitas terhadap Reputasi Publik pada Nilai Perusahaan
Tantangan Literasi Keuangan pada Generasi Muda dalam Menghadapi Perubahan Ekonomi Global

Berita Terkait

Senin, 12 Januari 2026 - 14:44 WIB

Ketidakjelasan Peran Fisioterapi di Mata Publik: Terapis Penyembuh atau Tukang Pijat Mahal?

Minggu, 11 Januari 2026 - 19:30 WIB

Menyambut Ramadhan: Memahami Puasa Rajab–Sya’ban dan Qadha Menurut Empat Mazhab

Minggu, 11 Januari 2026 - 18:00 WIB

Pusat Layanan Fisioterapi Kampus: Investasi Strategis untuk Kesehatan dan Pendidikan Masyarakat

Minggu, 11 Januari 2026 - 10:36 WIB

Peningkatan Kualitas Pemulihan dan Kinerja Atlet Sepak Bola

Kamis, 8 Januari 2026 - 23:10 WIB

Terkikisnya Norma Pendidikan Terhadap Anak Remaja di Era Digitalisasi

Berita Terbaru