Peralatan Bantu Rehabilitasi Pasien Fraktur Siku Berbasis AI dan IoT untuk Meningkatkan Kualitas Terapi

- Redaksi

Rabu, 14 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto oleh Stephanie Allen on pexels.com

Foto oleh Stephanie Allen on pexels.com

Fraktur pada sendi siku sering kali dianggap cedera biasa. Padahal, bagi orang yang mengalaminya, kondisi ini bisa mengubah banyak hal dalam hidup sehari-hari. Gerakan sederhana seperti makan, menulis, atau mengambil gelas air tiba-tiba terasa rumit dan menyakitkan. Banyak kasus fraktur siku terjadi karena refleks alami menahan tubuh saat jatuh. Kejadian yang berlangsung singkat, tetapi dampaknya bisa terasa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Rasa nyeri dan pembengkakan memang perlahan mereda setelah penanganan medis. Namun, tantangan sebenarnya justru muncul setelah tulang dinyatakan menyatu. Sendi siku sering kali menjadi kaku, otot melemah, dan rentang gerak terbatas. Aktivitas yang dulu terasa otomatis kini harus dipikirkan ulang. Inilah fase rehabilitasi, tahap penting yang sering kali menentukan apakah pasien bisa kembali beraktivitas secara optimal atau tidak.

Masalahnya, rehabilitasi bukan proses yang mudah. Pasien dituntut melakukan latihan berulang secara rutin. Gerakannya kadang terasa membosankan, tidak jarang menimbulkan rasa tidak nyaman, dan membutuhkan komitmen jangka panjang. Dalam praktiknya, banyak pasien kehilangan motivasi di tengah jalan. Ada yang merasa progresnya lambat, ada pula yang ragu apakah gerakan yang dilakukan sudah benar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tengah tantangan tersebut, teknologi mulai menawarkan pendekatan baru. Peralatan rehabilitasi berbasis Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan dan Internet of Things hadir sebagai solusi yang menjanjikan. Teknologi yang dulu terasa jauh dari dunia medis sehari-hari, kini mulai masuk ke ruang terapi dan bahkan ke rumah pasien.

Alat rehabilitasi berbasis AI dan IoT ini bekerja dengan mengandalkan sensor pintar. Sensor tersebut merekam setiap gerakan siku pasien, mulai dari sudut tekukan, kecepatan, hingga konsistensi latihan. Data itu kemudian dianalisis oleh sistem cerdas untuk menilai apakah gerakan sudah sesuai dengan rekomendasi terapi. Jika gerakan terlalu cepat, kurang tepat, atau melewati batas aman, alat akan memberikan umpan balik secara langsung.

Baca Juga :  Perjuangan dalam Pendidikan: Menembus Batas dan Mimpi

Keunggulan lain dari teknologi ini adalah kemampuannya menyesuaikan latihan secara real time. Ketika kondisi pasien sedang tidak optimal, intensitas latihan bisa diturunkan. Sebaliknya, jika kemampuan meningkat, sistem akan menantang pasien dengan level latihan yang lebih tinggi. Pendekatan ini membuat terapi terasa lebih personal dan adaptif, seolah pasien selalu ditemani terapis.

Penelitian yang dilakukan Agus Sofwan dan Budi Santoso dari ISTN pada 2022 menunjukkan hasil yang cukup meyakinkan. Pasien fraktur siku yang menggunakan alat rehabilitasi berbasis AI dan IoT mengalami peningkatan fungsi gerak lebih cepat dibanding metode konvensional. Selain kemajuan fisik, kepercayaan diri pasien juga meningkat karena mereka merasa proses latihannya terpantau dengan baik.

Aspek lain yang membuat alat ini menarik adalah cara penyajian progres terapi. Pasien tidak lagi menebak-nebak perkembangan kondisinya. Grafik sudut gerak, frekuensi latihan, hingga jumlah repetisi bisa dilihat secara visual. Beberapa perangkat bahkan menambahkan unsur permainan sederhana, seperti poin, level, atau target harian. Pendekatan ini terbukti membantu menjaga semangat pasien agar tetap konsisten menjalani rehabilitasi.

Meski begitu, teknologi bukan solusi tunggal. Disiplin pasien tetap menjadi faktor penentu. Alat secanggih apa pun tidak akan efektif jika jarang digunakan atau dipakai tanpa mengikuti panduan. Pasien yang menjalani latihan secara rutin dan terstruktur cenderung mengalami pemulihan lebih cepat dibanding mereka yang berlatih seadanya.

Jika teknologi ini dapat diterapkan lebih luas di Indonesia, dampaknya akan sangat signifikan. Pasien di daerah yang jauh dari pusat layanan kesehatan tidak harus bolak-balik ke rumah sakit hanya untuk sesi rehabilitasi. Dengan koneksi internet, fisioterapis dapat memantau perkembangan pasien dari jarak jauh dan memberikan penyesuaian latihan sesuai kebutuhan. Pendekatan ini membuka peluang besar bagi layanan rehabilitasi jarak jauh.

Baca Juga :  Kemiskinan di Indonesia

Tentu saja, penerapannya masih menghadapi sejumlah tantangan. Harga perangkat yang relatif tinggi membuat sebagian fasilitas kesehatan belum mampu mengadopsinya. Tenaga medis juga perlu pelatihan khusus agar mampu membaca dan memanfaatkan data yang dihasilkan sistem AI. Di sisi lain, keterbatasan jaringan internet di beberapa wilayah menjadi hambatan tersendiri bagi pemanfaatan IoT secara optimal.

Namun, hasil uji coba yang sudah dilakukan menunjukkan potensi yang sulit diabaikan. Dalam rentang enam minggu, beberapa pasien melaporkan peningkatan rentang gerak siku hingga 40 persen. Visualisasi progres membantu pasien memahami kapan mereka perlu meningkatkan intensitas latihan, kapan harus beristirahat, dan kapan teknik gerakan perlu dikoreksi.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, institusi kesehatan, dan industri teknologi, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengintegrasikan AI dalam sistem rehabilitasi modern. Jika digabungkan dengan layanan telemedicine, pasien bisa mendapatkan ekosistem perawatan yang utuh, mulai dari konsultasi dokter, pendampingan fisioterapi, hingga alat rehabilitasi pintar yang terhubung secara digital.

Teknologi AI dan IoT dalam rehabilitasi bukan sekadar simbol kemajuan. Kehadirannya memberi pasien ruang untuk lebih aktif terlibat dalam proses penyembuhan. Rehabilitasi tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang membebani, melainkan sebagai perjalanan yang terarah, terukur, dan lebih manusiawi. Dengan pendekatan ini, pemulihan fraktur siku tidak hanya soal menyambung tulang, tetapi juga mengembalikan kualitas hidup.

Penulis : Royyan Akbar R | Mahasiswa Prodi Fisioterapi | Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Fadli Akbar

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?
Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?
Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis
Pendekatan Fisioterapi dalam Rehabilitasi Anak dengan Down Syndrome
Pengembangan Karier Fisioterapi: Dari Ruang Klinik hingga Dunia Akademik
Peran Fisioterapi dalam Mengatasi Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain)
Peran Pendidikan, Soft Skills, dan Teknologi dalam Meningkatkan Kualitas Tenaga Fisioterapi
Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pelayanan Fisioterapi

Berita Terkait

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:45 WIB

Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?

Rabu, 14 Januari 2026 - 21:49 WIB

Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?

Rabu, 14 Januari 2026 - 19:56 WIB

Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis

Rabu, 14 Januari 2026 - 18:00 WIB

Pendekatan Fisioterapi dalam Rehabilitasi Anak dengan Down Syndrome

Rabu, 14 Januari 2026 - 16:59 WIB

Peralatan Bantu Rehabilitasi Pasien Fraktur Siku Berbasis AI dan IoT untuk Meningkatkan Kualitas Terapi

Berita Terbaru