Pendekatan Fisioterapi dalam Rehabilitasi Anak dengan Down Syndrome

- Redaksi

Rabu, 14 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto oleh Karola G on pexels.com

Foto oleh Karola G on pexels.com

Down Syndrome adalah kondisi genetik yang terjadi karena adanya kelebihan kromosom 21. Kondisi ini memengaruhi banyak aspek perkembangan anak, terutama kemampuan gerak, kekuatan otot, dan keseimbangan tubuh.

Anak dengan Down Syndrome umumnya memiliki otot yang lebih lemah atau dikenal dengan istilah hipotonia, sendi yang lebih lentur, serta koordinasi tubuh yang belum optimal. Dampaknya, proses tumbuh kembang, khususnya pada kemampuan motorik kasar, sering berjalan lebih lambat dibandingkan anak seusianya.

Dalam keseharian, keterbatasan ini bisa terlihat dari sulitnya anak mempertahankan posisi duduk, berdiri tanpa bantuan, hingga berjalan mandiri. Aktivitas sederhana seperti berpindah posisi atau menaiki tangga pun bisa menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, anak dengan Down Syndrome membutuhkan pendampingan dan intervensi yang tepat sejak usia dini agar potensi perkembangannya dapat berkembang secara maksimal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu pendekatan yang memiliki peran penting dalam proses ini adalah fisioterapi. Fisioterapi merupakan bentuk terapi yang berfokus pada gerak dan fungsi tubuh. Tujuannya membantu anak mengembangkan kemampuan motorik, meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki postur tubuh, serta mendukung anak agar lebih mandiri dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Dengan pendekatan yang tepat, fisioterapi tidak hanya membantu anak bergerak lebih baik, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri dan kualitas hidupnya.

Peran Fisioterapi dalam Mengembangkan Kemampuan Motorik

Dalam rehabilitasi anak dengan Down Syndrome, fisioterapi berfokus pada pengembangan motorik kasar. Program latihan disusun secara bertahap dan disesuaikan dengan usia serta kemampuan masing-masing anak. Beberapa latihan dasar yang sering dilakukan antara lain tummy time untuk melatih otot leher dan punggung, latihan duduk seimbang, latihan berdiri, hingga latihan berjalan.

Baca Juga :  Dampak Kelelahan Mental terhadap Prestasi Siswa di Kalangan Ekonomi Menengah ke Bawah

Di praktik klinis, latihan yang dilakukan secara rutin dan konsisten menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Anak yang awalnya belum mampu duduk tegak dalam waktu lama perlahan mulai bisa duduk mandiri. Dari situ, kemampuan berdiri dengan bantuan pun mulai berkembang, hingga akhirnya anak berani melangkah sendiri meski masih memerlukan pengawasan. Proses ini memang tidak instan, tetapi setiap kemajuan kecil menjadi langkah penting bagi perkembangan anak.

Melatih Keseimbangan dan Koordinasi Lewat Aktivitas Bermain

Masalah keseimbangan dan koordinasi merupakan tantangan yang sering dialami anak dengan Down Syndrome. Oleh karena itu, latihan keseimbangan menjadi bagian penting dalam program fisioterapi. Menariknya, latihan ini tidak selalu dilakukan dalam bentuk gerakan yang kaku. Banyak fisioterapis mengemasnya dalam aktivitas bermain agar anak merasa lebih nyaman dan menikmati proses terapi.

Contohnya, anak diajak berjalan mengikuti garis di lantai, berdiri di atas matras empuk, atau bermain lempar tangkap bola. Aktivitas semacam ini membantu merangsang sistem sensorik tubuh, termasuk proprioseptif, yaitu kemampuan tubuh mengenali posisi dan geraknya sendiri. Ketika latihan dilakukan dengan cara yang menyenangkan, anak cenderung lebih aktif, termotivasi, dan tidak merasa sedang menjalani terapi yang berat.

Seiring waktu, kemampuan anak dalam menjaga keseimbangan dan mengoordinasikan gerakan tubuhnya akan semakin baik. Hal ini terlihat dari meningkatnya kelancaran gerak saat berjalan, berlari kecil, atau melakukan aktivitas fungsional lainnya.

Mendorong Kemandirian Anak dalam Aktivitas Sehari-hari

Fisioterapi tidak hanya berfokus pada kemampuan bergerak, tetapi juga pada peningkatan kemandirian anak. Latihan diarahkan pada aktivitas yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti berpindah dari duduk ke berdiri, berjalan tanpa bantuan, naik dan turun tangga, hingga menjaga keseimbangan saat membawa benda.

Baca Juga :  Mindset adalah Doa dalam Pandangan Islam

Kemampuan ini sangat penting agar anak dapat berpartisipasi aktif di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Anak yang mampu bergerak dengan lebih mandiri biasanya memiliki rasa percaya diri yang lebih baik. Kepercayaan diri ini berpengaruh besar pada perkembangan sosial dan emosional, termasuk keberanian untuk berinteraksi dengan orang lain dan mencoba hal-hal baru.

Dukungan Penelitian dan Peran Keluarga

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa fisioterapi yang diberikan sejak usia dini memberikan dampak positif bagi anak dengan Down Syndrome. Ulrich pada tahun 2019 menyebutkan bahwa latihan motorik yang terstruktur dapat meningkatkan kemampuan berjalan dan keseimbangan anak. Sementara itu, Mahoney dan Perales pada 2018 menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dalam proses rehabilitasi.

Peran orang tua dan keluarga sangat krusial dalam keberhasilan fisioterapi. Latihan yang dilakukan di klinik perlu dilanjutkan di rumah agar hasilnya lebih optimal. Dengan pendampingan, dukungan emosional, dan konsistensi latihan, anak akan merasa lebih aman dan termotivasi untuk terus berkembang.

Pendekatan fisioterapi yang terarah, berkelanjutan, dan didukung lingkungan yang positif dapat membantu anak dengan Down Syndrome mencapai kemampuan terbaiknya. Melalui proses ini, anak tidak hanya belajar bergerak, tetapi juga belajar mengenal tubuhnya, membangun kepercayaan diri, dan menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik.

Penulis : Ratu Az zahra Hidayah | Mahasiswa Prodi Fisioterapi | Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Fadli Akbar

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?
Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?
Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis
Peralatan Bantu Rehabilitasi Pasien Fraktur Siku Berbasis AI dan IoT untuk Meningkatkan Kualitas Terapi
Pengembangan Karier Fisioterapi: Dari Ruang Klinik hingga Dunia Akademik
Peran Fisioterapi dalam Mengatasi Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain)
Peran Pendidikan, Soft Skills, dan Teknologi dalam Meningkatkan Kualitas Tenaga Fisioterapi
Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pelayanan Fisioterapi

Berita Terkait

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:45 WIB

Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?

Rabu, 14 Januari 2026 - 21:49 WIB

Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?

Rabu, 14 Januari 2026 - 19:56 WIB

Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis

Rabu, 14 Januari 2026 - 18:00 WIB

Pendekatan Fisioterapi dalam Rehabilitasi Anak dengan Down Syndrome

Rabu, 14 Januari 2026 - 16:59 WIB

Peralatan Bantu Rehabilitasi Pasien Fraktur Siku Berbasis AI dan IoT untuk Meningkatkan Kualitas Terapi

Berita Terbaru