Perpustakaan modern tengah mengalami transformasi mendasar yang melampaui sekadar perubahan tampilan. Rak-rak yang dahulu dipenuhi jurnal, majalah, dan buletin cetak kini perlahan digantikan oleh layar gawai yang menyimpan ribuan judul terbitan berseri dalam format digital.
Perubahan ini tidak hanya berlangsung di negara maju, tetapi juga merambah perpustakaan perguruan tinggi dan umum di Indonesia. Pergeseran tersebut menuntut pengelolaan terbitan berseri beradaptasi dengan logika era digital. Pertanyaannya, sejauh mana transformasi ini benar-benar menjawab tantangan zaman, dan apakah ia telah dikelola secara matang?
Terbitan berseri sejak lama menjadi tulang punggung koleksi perpustakaan karena menyajikan informasi mutakhir dari berbagai disiplin ilmu. Jurnal ilmiah, majalah, dan buletin menawarkan dinamika pengetahuan yang terus berkembang, sesuatu yang tidak selalu dapat dipenuhi oleh buku teks.
Dalam konteks tradisional, koleksi ini identik dengan deretan rak yang terorganisasi rapi, menunggu pembaca datang dan membuka halaman demi halaman. Namun, kebiasaan itu kini berubah drastis. Akses terhadap jurnal elektronik dan majalah digital semakin dominan, seiring meningkatnya kebutuhan akan kecepatan dan fleksibilitas dalam memperoleh informasi.
Preferensi pemustaka terhadap format digital bukan semata soal kenyamanan, melainkan juga efisiensi. Informasi dapat diakses kapan saja dan dari mana saja, tanpa terikat jam layanan atau lokasi fisik perpustakaan.
Bagi kalangan akademisi, mahasiswa, dan peneliti, akses daring menjadi solusi praktis untuk memenuhi tuntutan riset yang serba cepat. Perpustakaan pun terdorong menata ulang strategi layanan agar tetap relevan di tengah perubahan perilaku pengguna.
Meski demikian, digitalisasi terbitan berseri membawa tantangan pengelolaan yang tidak sederhana. Berbeda dengan buku cetak, terbitan berseri digital memerlukan sistem pengelolaan otomatis yang mampu menangani kompleksitas judul, perubahan frekuensi terbit, hingga dinamika penerbitan seperti penggabungan atau perubahan nama jurnal. Tanpa sistem yang andal, risiko kekeliruan informasi dan kesulitan penelusuran akan meningkat, merugikan pemustaka yang mengandalkan akurasi dan kemudahan akses.
Persoalan lain yang mengemuka adalah isu lisensi dan pembatasan akses. Banyak konten digital berada di bawah skema langganan dengan ketentuan ketat, seperti pembatasan akses berdasarkan institusi atau keharusan menggunakan jaringan tertentu. Kondisi ini kerap menyulitkan pengguna, terutama mereka yang berada di luar kampus atau wilayah dengan infrastruktur teknologi terbatas. Situasi tersebut kontras dengan koleksi cetak yang relatif bebas diakses selama tersedia secara fisik di perpustakaan.
Di sisi internal, pengelolaan terbitan berseri digital menuntut kompetensi baru dari pustakawan. Pemahaman terhadap klasifikasi konvensional tidak lagi memadai. Pustakawan perlu menguasai sistem manajemen jurnal elektronik, pengelolaan metadata, serta pemanfaatan perangkat lunak khusus seperti electronic journal management systems.
Teknologi ini memang membantu dalam melacak langganan, memperbarui perubahan judul, dan memastikan kelengkapan koleksi, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada kemampuan sumber daya manusia yang mengelolanya.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua perpustakaan memiliki kesiapan yang sama. Keterbatasan anggaran dan minimnya pelatihan membuat sebagian institusi tertinggal dalam mengoptimalkan pengelolaan terbitan berseri digital. Tantangan ini terasa lebih berat di daerah, di mana akses terhadap pelatihan teknologi informasi dan tenaga profesional masih terbatas. Akibatnya, potensi digitalisasi belum sepenuhnya dirasakan oleh pemustaka.
Di tengah arus digitalisasi, koleksi cetak tidak serta-merta kehilangan relevansinya. Banyak perpustakaan tetap mempertahankan terbitan berseri fisik karena nilai historis, kebutuhan referensi lokal, atau keterbatasan ketersediaan versi digital. Di Indonesia, rak koleksi berseri masih menjadi simbol identitas intelektual institusi sekaligus penyangga penelitian yang membutuhkan sumber primer dalam bentuk cetak.
Situasi ini menuntut pendekatan yang seimbang. Perpustakaan perlu mengembangkan sistem pengelolaan serial yang terintegrasi dan ramah pengguna, sehingga akses digital tidak menjadi beban baru bagi pemustaka.
Di saat yang sama, peningkatan kompetensi pustakawan harus ditempatkan sebagai prioritas strategis melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan. Kebijakan pengelolaan koleksi pun perlu dirancang secara inklusif, dengan mempertimbangkan keberagaman kebutuhan pengguna terhadap format cetak maupun digital.
Peralihan terbitan berseri dari rak ke layar merupakan bagian dari evolusi besar layanan informasi. Transformasi ini membuka peluang luas untuk memperluas akses pengetahuan, tetapi juga menyimpan tantangan struktural yang tidak bisa diabaikan.
Tanpa strategi pengelolaan yang adaptif, sumber daya manusia yang kompeten, dan kebijakan yang berpihak pada kepentingan publik, digitalisasi berisiko menjadi sekadar perubahan bentuk, bukan peningkatan kualitas layanan. Perpustakaan dituntut tidak hanya mengikuti arus teknologi, tetapi juga memastikan bahwa setiap inovasi benar-benar memperkuat perannya sebagai penjaga dan penyebar pengetahuan.
Penulis : Diah Qonita Rahma | Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam | Universitas Muhammadiyah Ponorogo
Editor : Anisa Putri









