Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan

- Redaksi

Selasa, 20 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suku Pamona dalam persiapan penanaman padi, sekitar awal abad ke-20. Sumber: Kruyt, A.C. & Adriani, N., De Bare'e Sprekende Toradja van Midden-Celebes, jilid I-III.

Suku Pamona dalam persiapan penanaman padi, sekitar awal abad ke-20. Sumber: Kruyt, A.C. & Adriani, N., De Bare'e Sprekende Toradja van Midden-Celebes, jilid I-III.

Indonesia memiliki tradisi pertanian yang beragam yang tidak hanya melestarikan teknik bercocok tanam tetapi juga makna-makna sakral yang menghubungkan manusia dengan leluhur, kosmos, dan yang ilahi. Salah satu tradisinya adalah Padungku, sebuah perayaan panen masyarakat Pamona di Sulawesi Tengah. Dirayakan di akhir siklus pertanian, tradisi ini melibatkan tarian, makanan, dan sukacita komunal.

Pada awalnya mungkin tampak hanya sebagai tradisi untuk menandai panen padi, tetapi jika kita melihat lebih dalam, kita dapat menemukan beberapa makna yang mendalam di dalamnya. Untuk memahami kedalaman tradisi ini, Rudolf Otto, Mircea Eliade, dan Emile Durkheim akan memberikan perspektif baru yang berharga. Pandangan mereka memungkinkan kita melihat Padungku tidak hanya sebagai tradisi budaya tetapi juga sebagai pertemuan dengan yang sakral yang menciptakan kembali tatanan kosmik dan memperbarui kehidupan komunal masyarakat Pamona.

Otto dan Numinous

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rudolf Otto, dalam bukunya The Idea of the Holy, menyatakan bahwa inti agama terletak pada pengalaman akan numinous. Kata ini mengacu pada pertemuan dengan yang ilahi sebagai mysterium tremendum et fascinans, suatu pengalaman yang menakutkan namun mengagumkan, tetapi juga sangat menarik.

Numinous menantang rasionalitas, ia dirasakan sebagai kehadiran yang membuat manusia kewalahan dengan kerendahan hati dan daya tarik. Ritual dan simbol dalam agama, menurut Otto, muncul sebagai cara untuk menanggapi dan membentuk pengalaman akan yang kudus ini.

Dilihat melalui lensa Otto, Padungku bukan hanya perayaan panen tetapi juga ungkapan kagum (awe) terhadap kekuatan yang mengendalikan kesuburan dan kelimpahan. Ritual masyarakat Pamona ini akan dimulai dari molamoa (doa sebelum membuka ladang), hingga puncaknya yaitu pesta Padungku (ungkapan syukur) itu sendiri, semua ini mencerminkan kesadaran mendalam akan ketergantungan pada kekuatan di luar kendali manusia. Persembahan hasil panen pertama, doa syukur, bahkan pembacaan tanda-tanda alam seperti bintang-bintang dalam tradisi ini mewujudkan rasa akan numinous. Komunitas tidak hanya merayakan hasil kerja mereka sendiri, tetapi mengakui kekuatan yang lebih besar dari diri mereka.

Eliade dan yang Sakral

Sementara Otto berfokus pada pengalaman subjektif akan yang sakral, Mircea Eliade memberikan interpretasi struktural tentang bagaimana agama mengorganisasikan kehidupan manusia. Bagi Eliade, perbedaan dasar namun penting adalah antara yang sakral (sacred) dan yang profan (profane). Yang profan adalah waktu normal, linear, penuh dengan urusan sehari-hari.

Baca Juga :  Manajemen Waktu terhadap Adaptasi Belajar pada Mahasiswa Semester Awal

Berbeda dengannya, yang sakral bersifat abadi (timeless), transenden, dan diwahyukan dalam mitos, ritual, dan simbol. Mitos menceritakan asal-usul dunia, dan ritual menciptakan kembali awal mula ini, memungkinkan komunitas untuk kembali ke waktu sakral (sacred time). Eliade menyebut ini sebagai sebuah proses kembali kepada unsur-unsur sakral (eternal return) untuk memastikan bahwa kehidupan manusia tetap selaras dengan tatanan kosmik.

Padungku dapat menjadi contoh dari proses kembali ke asal-usul sakral tersebut. Diceritakan bahwa tradisi ini diawali dengan kisah leluhur berdarah putih yang menikahi makhluk langit dan kemudian menciptakan Padungku sebagai ritual syukur.

Setiap fase dalam ritual dan perayaan menceritakan kembali mitos ini. Padungku juga tidak hanya tentang padi dan pertanian, ia adalah sebuah kembalinya ke momen primordial ketika pertanian itu sendiri menjadi diberkati dan bermakna. Komunitas Pamona melangkah keluar dari waktu profan (profane time) ke dalam waktu sakral (sacred time), menciptakan kembali tatanan kosmik dengan Padungku dan semua ritual di dalamnya.

Konsep hierophany oleh Eliade, perwujudan yang sakral dalam bentuk materi, terbukti dalam unsur-unsur Padungku. Prinsip mosintuwu (kerjasama timbal balik antar manusia) melambangkan kesatuan sakral, mangkoni dan mangkeni (berbagi makanan) mewujudkan kelimpahan sakral, dan dero (tarian komunal) menunjukkan harmoni sakral. Semua ini bukan hanya budaya biasa, tetapi fenomena di mana yang sakral menjadi terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Durkheim dan yang Sakral dalam Masyarakat

Émile Durkheim juga menjelaskan perbedaan sakral dan profan sebagai sesuatu yang penting bagi kehidupan beragama, tetapi berbeda dari Eliade, dia menjelaskan yang sakral bukan sebagai realitas transenden tetapi dalam kehidupan kolektif itu sendiri. Dalam bukunya The Elementary Forms of Religious Life, Durkheim menunjukkan bahwa apa yang disebut komunitas sebagai “sakral” sebenarnya adalah simbol dari komunitas itu sendiri, yang muncul melampaui kepentingan individu.

Bagi Durkheim, agama menunjukkan nilai-nilai bersama suatu komunitas dan menjaga orang tetap bersama dalam suatu kelompok berdasarkan moral. Ritual memperkuat ikatan ini melalui apa yang disebutnya “collective effervescence,” yaitu energi khusus yang dirasakan orang ketika mereka berkumpul dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.

Baca Juga :  Kunci Sukses di Usia Muda

Dalam perspektif Durkheim, Padungku adalah perwujudan nyata dari konsep kekuatan sosial yang mentransendensi pengalaman individual. Perayaan ini mengesampingkan urusan profan sehari-hari dan memusatkan komunitas Pamona dalam satu kesatuan ritual. Melalui kegiatan makan bersama, tarian dero yang melingkar, serta praktik mosintuwu (saling menghidupi) yang terwujud dalam gotong royong dan berbagi makanan, terciptalah apa yang disebut Durkheim sebagai collective effervescence—energi kolektif yang memperkuat solidaritas dan identitas kelompok. Bagi Durkheim, kesakralan Padungku justru bersumber dari kekuatan sosial ini, di mana komunitas itu sendiri yang mengonstruksi makna sakral melalui kebersamaan yang mereka ciptakan.

Padungku dalam Berbagai Perspektif

Menggunakan Otto, Eliade, dan Durkheim dalam dialog teoritis menunjukkan berbagai dimensi Padungku. Otto menekankan perasaan religius internal akan awe dan ketertarikan di hadapan kekuatan ilahi. Eliade memberikan penjelasan tentang struktur kosmik, menunjukkan bagaimana mitos dan ritual dalam Padungku mengembalikan asal-usul sakral kepada komunitas.

Kemudian Durkheim datang untuk menekankan fungsi sosial tradisi, mengungkapkan bagaimana Padungku menciptakan solidaritas dan mewujudkan nilai-nilai kolektif komunitas. Semua konsep mereka menangkap aspek kesakralan: yang eksperiensial, temporal-kosmik, dan komunal.

Perspektif-perspektif ini menunjukkan bahwa Padungku tidak dapat direduksi menjadi satu dimensi tunggal. Ia adalah sebuah pertemuan dengan yang numinous, sebuah kembalinya ke waktu sakral (sacred time), dan sebuah perayaan komunitas sosial sebagai satu kesatuan. Padungku sebagai tradisi lokal mengintegrasikan perasaan individu, tatanan kosmik, dan kohesi sosial ke dalam satu siklus ritual.

Padungku sebagai perayaan panen dan ritual masyarakat Pamona menggambarkan kekayaan tradisi budaya dan agama ketika ditafsirkan melalui berbagai perspektif. Perspektif Otto, Eliade, dan Durkheim melihat tradisi ini sebagai lebih dari sekadar tradisi budaya biasa yang dirayakan setahun sekali.

Kita memahami bahwa Padungku adalah tindakan sakral dimana pertemuan ilahi, pembaruan kosmik, dan persatuan sosial menjadi lebih kuat. Padungku juga mencakup irama tarian, berbagi makanan, dan cerita mitos. Semua proses ini menunjukkan bahwa masyarakat Pamona tidak hanya bersyukur kepada Tuhan atas panen tetapi juga secara bersamaan menciptakan kembali fondasi sakral dunia mereka.

Penulis : Marsekal Gimbo, Mahasiswa Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?
Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?
Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis
Pendekatan Fisioterapi dalam Rehabilitasi Anak dengan Down Syndrome
Peralatan Bantu Rehabilitasi Pasien Fraktur Siku Berbasis AI dan IoT untuk Meningkatkan Kualitas Terapi
Pengembangan Karier Fisioterapi: Dari Ruang Klinik hingga Dunia Akademik
Peran Fisioterapi dalam Mengatasi Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain)
Peran Pendidikan, Soft Skills, dan Teknologi dalam Meningkatkan Kualitas Tenaga Fisioterapi

Berita Terkait

Selasa, 20 Januari 2026 - 08:57 WIB

Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:45 WIB

Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?

Rabu, 14 Januari 2026 - 21:49 WIB

Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?

Rabu, 14 Januari 2026 - 19:56 WIB

Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis

Rabu, 14 Januari 2026 - 18:00 WIB

Pendekatan Fisioterapi dalam Rehabilitasi Anak dengan Down Syndrome

Berita Terbaru

Ilustrasi foto perpustakaan. Sumber: perpustakaan.unimed.ac.id

Opini

Terbitan Berseri dan Ingatan Pengetahuan yang Terabaikan

Minggu, 18 Jan 2026 - 07:21 WIB