Magelang, Sortonesia.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 81 Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah bagi warga Dusun Seloprojo, Desa Seloprojo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi pengelolaan limbah rumah tangga sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
Pelatihan tersebut menyasar ibu rumah tangga sebagai peserta utama. Selain memberikan pemahaman tentang dampak limbah minyak bekas, mahasiswa juga memperkenalkan cara mengolahnya menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual.
Program ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya minyak jelantah rumah tangga yang dibuang langsung ke saluran air atau tanah tanpa proses pengolahan. Praktik tersebut berpotensi mencemari lingkungan dan mengganggu kualitas tanah serta air di sekitar permukiman.

Melalui pelatihan ini, mahasiswa KKN berupaya mengenalkan solusi sederhana yang dapat diterapkan masyarakat. Pemanfaatan limbah minyak jelantah menjadi produk lilin aromaterapi dinilai tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha skala rumah tangga.
Kegiatan berlangsung pada Rabu, 28 Januari 2026 pukul 20.00 WIB di rumah Kepala Dusun Pernolo, Desa Seloprojo. Acara diawali dengan pemaparan materi mengenai bahaya pembuangan minyak jelantah secara sembarangan serta potensi pemanfaatannya menjadi produk kreatif yang bernilai ekonomis.
Dalam sesi praktik, mahasiswa KKN memandu peserta melalui tahapan pembuatan lilin aromaterapi secara langsung. Proses pertama adalah merendam minyak jelantah menggunakan arang selama minimal 24 jam untuk mengurangi bau dan kotoran.
Setelah itu, minyak dipanaskan hingga mendidih dan kemudian disaring. Tahap berikutnya adalah mencampurkan minyak dengan bleaching earth untuk membantu proses penjernihan. Campuran tersebut kemudian didiamkan selama satu malam agar minyak menjadi lebih bersih dan siap digunakan.
Minyak yang telah jernih kembali dipanaskan sebelum dicampur dengan palm wax dengan perbandingan tiga banding satu. Campuran dipanaskan hingga larut dan berubah menjadi bening. Setelah suhu sedikit menurun, peserta menambahkan essence aromaterapi dan pewarna cair sesuai selera sebelum dituangkan ke dalam wadah yang telah dipasang sumbu lilin.

Selama proses praktik berlangsung, para peserta terlihat antusias mengikuti setiap tahapan. Beberapa di antaranya aktif bertanya mengenai komposisi bahan, teknik agar lilin tidak retak, hingga kemungkinan pemasaran produk sebagai usaha rumahan.
“Selama ini minyak bekas hanya dibuang begitu saja. Ternyata bisa diolah menjadi lilin yang cantik dan wangi,” ujar salah satu peserta pelatihan.
Menurut mahasiswa KKN, kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah, tetapi juga membuka peluang usaha baru. Produk lilin aromaterapi dari minyak jelantah dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai produk UMKM desa.
Selain mudah dibuat, bahan bakunya juga tersedia melimpah di lingkungan rumah tangga. Jika dikelola secara konsisten, produk tersebut dapat menjadi salah satu alternatif sumber pendapatan tambahan bagi warga.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa KKN juga menyerahkan contoh produk lilin aromaterapi beserta panduan pembuatannya kepada pemerintah desa. Langkah ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk mengembangkan produksi secara mandiri setelah program KKN selesai.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UNS Kelompok 81 berharap warga Desa Seloprojo semakin sadar akan pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga. Inovasi sederhana seperti pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi dinilai dapat menjadi langkah kecil yang berdampak nyata bagi lingkungan sekaligus perekonomian desa.
Penulis : Mahasiswa KKN 81 UNS
Editor : Intan Permata









