Pengaruh Konflik Keluarga terhadap Prestasi dan Motivasi Belajar Siswa SMA

- Redaksi

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masa remaja adalah fase penting dalam kehidupan seseorang. Di tahap ini, anak mulai beralih dari dunia kanak-kanak menuju kedewasaan, baik secara fisik maupun emosional. Banyak perubahan terjadi sekaligus, mulai dari cara berpikir, mengelola emosi, hingga membangun identitas diri. Tak heran jika masa ini kerap disebut sebagai masa pencarian jati diri.

Dalam proses tersebut, keluarga memegang peran yang sangat besar. Lingkungan rumah menjadi tempat pertama remaja belajar memahami emosi, menyelesaikan masalah, dan merasa aman. Ketika suasana keluarga harmonis, remaja cenderung tumbuh lebih percaya diri dan fokus pada pendidikan. Sebaliknya, konflik keluarga yang berkepanjangan sering kali menjadi beban emosional yang mengganggu konsentrasi belajar.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konflik antara orang tua dan anak, komunikasi yang tidak sehat, serta kurangnya perhatian dapat menurunkan motivasi belajar siswa SMA. Remaja yang hidup di tengah pertengkaran rumah tangga lebih mudah merasa cemas, sulit fokus di kelas, dan kehilangan minat untuk berprestasi. Dukungan emosional yang seharusnya mereka terima justru tergantikan oleh tekanan psikologis.

Penguatan Komunikasi Keluarga terhadap Prestasi Siswa

Keluarga sering disebut sebagai sekolah pertama bagi anak. Di rumah, anak belajar nilai, sikap, dan kebiasaan yang akan terbawa hingga ke lingkungan sekolah. Pola komunikasi dalam keluarga tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui interaksi sehari-hari yang berulang.

Komunikasi yang terbuka dan hangat antara orang tua dan anak terbukti berkaitan erat dengan prestasi akademik. Anak yang merasa didengar dan dipahami akan lebih berani menyampaikan kesulitan belajar serta termotivasi untuk memperbaiki diri.

Baca Juga :  Mengapa Mochi Bisa Kenyal? Ini Penjelasan Sainsnya!

Dalam banyak keluarga, ibu kerap menjadi figur utama yang mendampingi anak belajar, mendengarkan keluh kesah, dan memberi dukungan emosional, terutama ketika ayah memiliki kesibukan kerja yang tinggi.

Sebaliknya, kurangnya perhatian atau pola asuh yang terlalu keras dapat memicu masalah perilaku di sekolah. Anak yang merasa diabaikan cenderung mencari perhatian dengan cara negatif, sulit diatur, dan menunjukkan prestasi akademik yang rendah. Namun, perhatian yang berlebihan dan disiplin yang terlalu ketat juga tidak ideal karena bisa menimbulkan sikap memberontak. Kunci utamanya adalah keseimbangan, yakni perhatian yang cukup, aturan yang jelas, dan komunikasi yang sehat.

Dampak Emosional Konflik Keluarga terhadap Psikologis Siswa SMA

Konflik keluarga tidak hanya berdampak pada nilai rapor, tetapi juga pada kondisi psikologis remaja. Anak yang sering menyaksikan pertengkaran orang tua berisiko mengalami kecemasan, stres, bahkan perasaan tidak aman di rumah. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang justru terasa menekan.

Pada usia SMA, remaja berada dalam fase transisi yang rawan secara emosional. Mereka membutuhkan dukungan, kasih sayang, dan bimbingan untuk menghadapi perubahan dalam diri mereka. Lingkungan keluarga yang penuh konflik dapat menghambat perkembangan emosi, membuat remaja sulit mengelola perasaan, dan berdampak pada hubungan sosial mereka di sekolah.

Baca Juga :  Pentingnya Pendidikan Sekolah Dasar

Sebaliknya, keluarga yang mampu menjaga suasana hangat dan saling mendukung membantu remaja tumbuh lebih stabil secara emosional. Anak menjadi lebih siap menghadapi tantangan akademik dan sosial karena memiliki fondasi psikologis yang kuat.

Upaya Menciptakan Komunikasi Positif untuk Mendukung Belajar Siswa

Upaya menciptakan komunikasi positif perlu dimulai dari pola asuh orang tua. Setiap gaya pengasuhan memiliki dampak berbeda terhadap perkembangan anak. Pola asuh yang permisif, misalnya, memberi kebebasan berlebihan tanpa arahan yang jelas, sehingga anak kurang memiliki kontrol diri. Sementara itu, pola asuh yang terlalu menekan juga berisiko menghambat perkembangan emosional.

Kerja sama antara orang tua dan guru menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat. Komunikasi yang empatik, dua arah, dan penuh penghargaan akan membuat anak merasa didukung, baik di rumah maupun di sekolah. Ketika keluarga dan sekolah berjalan seiring, motivasi belajar siswa pun tumbuh secara alami.

Konflik keluarga terbukti berpengaruh besar terhadap motivasi dan prestasi belajar siswa SMA. Ketegangan di rumah dapat mengganggu fokus, menurunkan semangat belajar, dan berdampak pada hasil akademik. Sebaliknya, perhatian orang tua, komunikasi yang sehat, serta lingkungan keluarga yang harmonis menjadi modal penting bagi keberhasilan belajar anak. Dengan dukungan yang tepat, remaja memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara emosional dan meraih prestasi yang optimal.

Penulis : Alinia Amanda Lestari | S1 Akuntansi | Fakultas Ekonomi dan Bisnis | Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peran Penting Teknologi Digital dalam Transformasi Pendidikan di Sekolah Perdesaan
Tantangan dan Peluang Pendidikan dalam Membentuk Generasi Berkarakter Unggul di Era Digital
Terkikisnya Norma Pendidikan Terhadap Anak Remaja di Era Digitalisasi
Peran Pendidikan Emosional dalam Membentuk Karakter Gen Alpha di Tengah Dominasi Kecerdasan Buatan
Pendidikan Karakter Berkualitas terhadap Upaya Pencegahan Bullying di Lingkungan Pendidikan
Peran Laporan Keuangan dalam Menentukan Strategi Pengembangan Bisnis di Era Modernisasi
Pengaruh Kinerja Lingkungan dan Produktivitas terhadap Reputasi Publik pada Nilai Perusahaan
Tantangan Literasi Keuangan pada Generasi Muda dalam Menghadapi Perubahan Ekonomi Global

Berita Terkait

Kamis, 8 Januari 2026 - 23:17 WIB

Peran Penting Teknologi Digital dalam Transformasi Pendidikan di Sekolah Perdesaan

Kamis, 8 Januari 2026 - 23:13 WIB

Tantangan dan Peluang Pendidikan dalam Membentuk Generasi Berkarakter Unggul di Era Digital

Kamis, 8 Januari 2026 - 23:10 WIB

Terkikisnya Norma Pendidikan Terhadap Anak Remaja di Era Digitalisasi

Kamis, 8 Januari 2026 - 23:07 WIB

Peran Pendidikan Emosional dalam Membentuk Karakter Gen Alpha di Tengah Dominasi Kecerdasan Buatan

Kamis, 8 Januari 2026 - 23:00 WIB

Pendidikan Karakter Berkualitas terhadap Upaya Pencegahan Bullying di Lingkungan Pendidikan

Berita Terbaru