Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pelayanan Fisioterapi

- Redaksi

Selasa, 13 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto oleh Funkcinės Terapijos Centras on pexels.com

Foto oleh Funkcinės Terapijos Centras on pexels.com

Bahasa memegang peran penting dalam dunia kesehatan, terutama ketika tenaga medis berhadapan langsung dengan pasien. Dalam layanan fisioterapi, bahasa bukan sekadar alat bicara, melainkan jembatan utama agar pesan, instruksi, dan tujuan terapi bisa dipahami dengan baik. Penggunaan Bahasa Indonesia yang tepat membantu mengurangi kesalahpahaman dan membuat pasien merasa lebih tenang serta percaya selama menjalani proses terapi.

Fisioterapi sendiri merupakan layanan kesehatan yang berfokus pada pemulihan fungsi gerak, pencegahan cedera, dan peningkatan kualitas hidup pasien. Proses ini tidak hanya mengandalkan teknik dan alat, tetapi juga komunikasi yang efektif antara fisioterapis dan pasien. Di sinilah peran bahasa menjadi sangat krusial. Bahasa yang terlalu teknis atau dipenuhi istilah medis kerap membuat pasien bingung, bahkan ragu untuk mengikuti arahan yang diberikan.

Penggunaan Bahasa Indonesia yang sederhana, jelas, dan komunikatif memungkinkan pasien memahami kondisi tubuhnya sendiri. Misalnya, dibanding menjelaskan “kontraksi otot isometrik”, fisioterapis bisa mengatakan “menegangkan otot tanpa menggerakkan sendi”.

Baca Juga :  Pendekatan Fisioterapi dalam Rehabilitasi Anak dengan Down Syndrome

Penjelasan seperti ini lebih mudah diterima, terutama oleh pasien awam yang tidak memiliki latar belakang medis. Dengan pemahaman yang baik, pasien akan lebih percaya diri menjalani setiap tahap terapi.

Selain kejelasan, sikap empatik juga sangat penting dalam pemilihan bahasa. Kata-kata yang ramah, nada bicara yang tenang, serta cara penyampaian yang tidak menggurui dapat menciptakan suasana nyaman. Pasien pun merasa dihargai dan didengar. Hal ini berpengaruh besar terhadap hubungan terapeutik, yakni hubungan kerja sama antara fisioterapis dan pasien dalam mencapai tujuan pemulihan.

Bahasa yang digunakan juga perlu disesuaikan dengan kondisi pasien. Pada pasien lanjut usia, misalnya, fisioterapis sebaiknya berbicara lebih pelan, menggunakan kalimat pendek, dan mengulang instruksi jika diperlukan.

Sementara pada anak-anak, bahasa yang ringan, disertai contoh gerakan atau permainan kecil, akan membantu mereka lebih cepat memahami instruksi. Untuk pasien dengan tingkat pendidikan tertentu atau kondisi psikologis khusus, pendekatan bahasa yang fleksibel menjadi kunci agar pesan tetap tersampaikan tanpa menimbulkan tekanan.

Baca Juga :  Ketidakjelasan Peran Fisioterapi di Mata Publik: Terapis Penyembuh atau Tukang Pijat Mahal?

Dampak dari penggunaan Bahasa Indonesia yang efektif dalam pelayanan fisioterapi sangat terasa. Pasien lebih memahami tujuan latihan, lebih patuh menjalankan instruksi, dan tidak ragu bertanya ketika mengalami kesulitan. Proses pemulihan pun berjalan lebih optimal karena pasien terlibat aktif dalam terapinya. Kepercayaan yang terbangun antara pasien dan fisioterapis juga menjadi modal penting dalam keberhasilan layanan kesehatan secara keseluruhan.

Dengan demikian, kemampuan berbahasa Indonesia yang baik bukan hanya pelengkap, tetapi bagian dari profesionalisme seorang fisioterapis. Komunikasi yang jelas, bersahabat, dan empatik membantu menjadikan fisioterapi bukan sekadar tindakan medis, melainkan proses pemulihan yang manusiawi dan mudah dijalani oleh siapa pun.

Penulis : Muhammad Rasya Ramadhan / Mahasiswa Prodi Fisioterapi | Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Fadli Akbar

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pasal 412 UU No. 1 Tahun 2023 dan Tradisi Kawin Masyarakat Lampung (Sebambangan): Tinjauan Yuridis dan Maqāṣid al-Sharī‘ah
Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan
Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?
Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?
Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis
Pendekatan Fisioterapi dalam Rehabilitasi Anak dengan Down Syndrome
Peralatan Bantu Rehabilitasi Pasien Fraktur Siku Berbasis AI dan IoT untuk Meningkatkan Kualitas Terapi
Pengembangan Karier Fisioterapi: Dari Ruang Klinik hingga Dunia Akademik

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:21 WIB

Pasal 412 UU No. 1 Tahun 2023 dan Tradisi Kawin Masyarakat Lampung (Sebambangan): Tinjauan Yuridis dan Maqāṣid al-Sharī‘ah

Selasa, 20 Januari 2026 - 08:57 WIB

Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:45 WIB

Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?

Rabu, 14 Januari 2026 - 21:49 WIB

Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?

Rabu, 14 Januari 2026 - 19:56 WIB

Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis

Berita Terbaru