Peran Fisioterapi dalam Mengatasi Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain)

- Redaksi

Rabu, 14 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nyeri punggung bawah atau yang sering disebut low back pain adalah salah satu keluhan tubuh yang paling sering dialami banyak orang. Hampir semua kelompok usia pernah mengalaminya, mulai dari remaja, orang dewasa, hingga lansia.

Namun, kondisi ini kini semakin sering muncul pada usia produktif, terutama mereka yang sehari-hari bekerja sambil duduk lama di depan komputer. Gaya hidup yang minim gerak, terlalu lama menatap layar, dan jarang berolahraga membuat nyeri punggung bawah menjadi masalah yang semakin umum.

Duduk berjam-jam dalam posisi yang sama membuat otot punggung dan pinggang bekerja secara tidak seimbang. Otot menjadi tegang, aliran darah melambat, dan tulang belakang menerima tekanan terus-menerus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika dibiarkan, kondisi ini bisa memicu rasa nyeri yang awalnya ringan, lalu berkembang menjadi keluhan yang mengganggu aktivitas harian. Di sinilah fisioterapi berperan penting sebagai solusi yang aman, efektif, dan berkelanjutan tanpa bergantung pada obat.

Fenomena nyeri punggung bawah sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak pekerja kantoran, mahasiswa, hingga pekerja lepas mengalami keluhan serupa. Salah satu contohnya adalah pegawai administrasi yang harus duduk hampir sepanjang hari. Kursi kerja yang tidak menopang punggung dengan baik, posisi duduk membungkuk, serta layar komputer yang terlalu rendah atau terlalu tinggi sering kali menjadi pemicu utama nyeri di area pinggang.

Saat tubuh berada dalam posisi duduk statis terlalu lama, beban pada segmen tulang belakang bagian bawah atau lumbal meningkat. Tanpa disadari, tekanan ini membuat otot bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan tubuh.

Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, bisa muncul berbagai masalah, mulai dari ketegangan otot, gangguan pada sendi kecil di tulang belakang, hingga risiko penonjolan bantalan tulang belakang yang dikenal sebagai hernia diskus. Oleh karena itu, pemahaman tentang posisi kerja yang ergonomis menjadi langkah awal yang sangat penting untuk mencegah nyeri punggung bawah.

Baca Juga :  Peningkatan Kreativitas Canva serta ChatGPT dalam Menguatkan Imajinasi

Secara global, nyeri punggung bawah termasuk masalah kesehatan dengan angka kejadian yang sangat tinggi. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan bahwa sekitar 70 hingga 80 persen orang dewasa pernah mengalami kondisi ini setidaknya sekali dalam hidupnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa nyeri punggung bawah bukan sekadar keluhan sepele, melainkan persoalan kesehatan yang berdampak luas terhadap produktivitas dan kualitas hidup.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa fisioterapi aktif memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan hanya beristirahat total atau mengandalkan obat pereda nyeri. Latihan yang dirancang secara khusus mampu meningkatkan aliran darah ke area yang bermasalah, membantu otot menjadi lebih lentur, serta mempercepat proses pemulihan jaringan. Sementara itu, obat pereda nyeri memang bisa mengurangi rasa sakit dalam waktu singkat, tetapi tidak menyentuh akar masalah yang sebenarnya.

Dalam praktik fisioterapi, ada beberapa metode yang umum digunakan untuk menangani nyeri punggung bawah. Salah satunya adalah Teknik McKenzie, yaitu rangkaian gerakan sederhana yang dilakukan secara berulang untuk membantu memperbaiki posisi tulang belakang dan mengurangi tekanan pada saraf. Teknik ini sering digunakan pada pasien yang merasakan nyeri menjalar ke kaki atau bokong.

Selain itu, latihan penguatan otot inti atau core strengthening juga menjadi bagian penting dari program fisioterapi. Otot inti berfungsi sebagai penopang utama tubuh. Jika otot-otot ini lemah, tulang belakang harus bekerja lebih keras untuk menjaga postur, sehingga risiko nyeri semakin besar. Dengan memperkuat otot inti, beban pada tulang belakang bisa dikurangi secara signifikan.

Kombinasi latihan McKenzie dan penguatan otot inti terbukti mampu menurunkan intensitas nyeri dalam waktu relatif singkat, asalkan dilakukan secara rutin dan sesuai arahan fisioterapis. Namun, fisioterapi tidak berhenti pada latihan fisik saja. Edukasi juga menjadi bagian penting, mulai dari cara duduk yang benar, kebiasaan bergerak setiap satu jam, hingga pentingnya menjaga aktivitas fisik ringan di sela pekerjaan.

Baca Juga :  Pengaruh Media Sosial Terhadap Perilaku Remaja

Penanganan nyeri punggung bawah sejak awal sangat menentukan hasil jangka panjang. Semakin cepat ditangani, semakin kecil risiko nyeri berkembang menjadi kronis. Latihan yang dilakukan secara teratur membantu menjaga kekuatan otot, mempertahankan fleksibilitas, dan mencegah kekambuhan. Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang konsisten menjalani program latihan memiliki risiko kekambuhan yang jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan obat.

Sebaliknya, kebiasaan mengabaikan nyeri dan hanya mengonsumsi obat pereda nyeri sering kali membuat masalah berulang. Rasa nyeri memang bisa mereda sementara, tetapi struktur dan fungsi otot serta sendi tidak mengalami perbaikan.

Jika kondisi ini berlangsung lama, dampaknya tidak hanya terasa secara fisik, tetapi juga mental. Nyeri berkepanjangan dapat mengganggu tidur, menurunkan produktivitas, membatasi aktivitas sosial, bahkan memicu stres.

Fisioterapi hadir sebagai pendekatan yang lebih menyeluruh. Tidak hanya fokus pada menghilangkan rasa nyeri, tetapi juga membantu tubuh beradaptasi agar lebih kuat dan tahan terhadap aktivitas sehari-hari. Perubahan kebiasaan kecil, seperti memperbaiki posisi duduk, memilih kursi yang menopang punggung, serta rutin melakukan peregangan, bisa memberikan dampak besar dalam jangka panjang.

Di tengah era digital yang menuntut banyak orang untuk duduk lebih lama, menjaga kesehatan punggung menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Dengan dukungan fisioterapi, gaya hidup aktif, dan lingkungan kerja yang lebih ergonomis, nyeri punggung bawah bukan lagi masalah yang harus diterima sebagai hal biasa. Tubuh memiliki kemampuan untuk pulih dan beradaptasi, asalkan diberi perhatian dan perawatan yang tepat.

Penulis : Pristio Naufal Rafif | Mahasiswa Prodi Fisioterapi | Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Intan Permata

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?
Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?
Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis
Pendekatan Fisioterapi dalam Rehabilitasi Anak dengan Down Syndrome
Peralatan Bantu Rehabilitasi Pasien Fraktur Siku Berbasis AI dan IoT untuk Meningkatkan Kualitas Terapi
Pengembangan Karier Fisioterapi: Dari Ruang Klinik hingga Dunia Akademik
Peran Pendidikan, Soft Skills, dan Teknologi dalam Meningkatkan Kualitas Tenaga Fisioterapi
Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pelayanan Fisioterapi

Berita Terkait

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:45 WIB

Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?

Rabu, 14 Januari 2026 - 21:49 WIB

Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?

Rabu, 14 Januari 2026 - 19:56 WIB

Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis

Rabu, 14 Januari 2026 - 18:00 WIB

Pendekatan Fisioterapi dalam Rehabilitasi Anak dengan Down Syndrome

Rabu, 14 Januari 2026 - 16:59 WIB

Peralatan Bantu Rehabilitasi Pasien Fraktur Siku Berbasis AI dan IoT untuk Meningkatkan Kualitas Terapi

Berita Terbaru