Kedisiplinan belajar sering dianggap hal sepele, padahal perannya sangat besar dalam menentukan keberhasilan siswa di sekolah. Banyak orang masih mengira prestasi belajar hanya ditentukan oleh kecerdasan. Kenyataannya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa sikap disiplin justru menjadi faktor pendukung yang tidak kalah penting.
Nur Rofiuddin dan Darmawan (2024) menegaskan bahwa keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual, tetapi juga oleh konsistensi siswa dalam menerapkan disiplin, baik di sekolah maupun saat belajar mandiri.
Siswa yang disiplin biasanya lebih teratur dalam mengatur waktu, terbiasa mematuhi aturan, dan bertanggung jawab terhadap tugas akademik. Kebiasaan ini membantu mereka menghadapi tuntutan belajar yang semakin kompleks. Di jenjang sekolah menengah atas, kedisiplinan menjadi semakin penting karena siswa mulai dituntut untuk mandiri dan mengambil banyak keputusan sendiri.
Tekanan akademik, persaingan masuk perguruan tinggi, serta tuntutan untuk mengelola waktu secara mandiri membuat kedisiplinan bukan lagi sekadar aturan, melainkan kebutuhan pribadi (G dan Sulaiman, 2024). Karena itu, membahas hakikat kedisiplinan, kaitannya dengan prestasi belajar, serta cara meningkatkannya menjadi hal yang relevan.
Hakikat Kedisiplinan dalam Lingkungan Pendidikan
Dalam dunia pendidikan, kedisiplinan tidak hanya dimaknai sebagai kepatuhan terhadap tata tertib sekolah. Lebih dari itu, kedisiplinan merupakan proses pembentukan perilaku yang melibatkan kesadaran siswa, dukungan sistem sekolah, dan keteladanan pendidik. Paramitha dan rekan-rekan (2025) menjelaskan bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga membentuk karakter siswa, dengan kedisiplinan sebagai salah satu fondasi utamanya.
Kedisiplinan yang diterapkan secara konstruktif mampu menciptakan suasana belajar yang tertib, nyaman, dan kondusif. Siswa merasa aman dan memiliki pola belajar yang jelas. Selain itu, kedisiplinan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam diri siswa maupun dari lingkungan sekitarnya. Aurelya Purba dan Amin (2023) menyebutkan bahwa hasil belajar merupakan hasil interaksi antara kecerdasan, motivasi, kebiasaan belajar, serta dukungan lingkungan sekolah dan keluarga. Dalam konteks ini, kedisiplinan menempati posisi strategis karena dibentuk oleh lingkungan, sekaligus membentuk perilaku belajar siswa itu sendiri.
Hubungan Kedisiplinan dengan Prestasi Belajar Siswa Menengah Atas
Hubungan antara kedisiplinan dan prestasi belajar siswa sekolah menengah atas terbukti cukup kuat. Telaumbanua dan rekan-rekan (2024) menjelaskan bahwa kedisiplinan mencerminkan kemampuan siswa dalam menaati aturan dan mengendalikan diri secara sadar. Sikap ini menciptakan keteraturan dalam proses pembelajaran. Siswa yang disiplin cenderung belajar secara konsisten, tidak menunda tugas, dan lebih siap menghadapi evaluasi akademik.
Penelitian Asri dan rekan-rekan (2025) juga menunjukkan bahwa kebiasaan belajar yang disiplin membantu siswa memahami materi secara bertahap. Pemahaman yang dibangun sedikit demi sedikit membuat hasil belajar menjadi lebih optimal.
Sebaliknya, rendahnya kedisiplinan sering kali membuat siswa kewalahan menghadapi beban akademik. Andri Eko Prabowo dan Yustri Yuhelma (2024) mencatat bahwa kurangnya disiplin dapat memicu penurunan prestasi belajar, terutama di jenjang sekolah menengah atas yang materinya semakin padat dan menantang.
Upaya Peningkatan Kedisiplinan Siswa Menengah Atas dalam Mendukung Prestasi Belajar
Meningkatkan kedisiplinan siswa tidak bisa dilakukan secara instan. Upaya ini perlu dirancang secara terencana dan berkelanjutan. Telaumbanua dan rekan-rekan (2024) menekankan pentingnya penerapan peraturan sekolah yang jelas, sistematis, dan konsisten. Aturan yang dipahami bersama akan membantu siswa membentuk kebiasaan disiplin. Selain itu, sistem penghargaan dan sanksi yang proporsional juga dapat menjadi alat pendukung jika diterapkan secara adil (Rossa et al., 2025).
Peran guru memegang posisi kunci dalam pembinaan kedisiplinan. Keteladanan guru dalam menghargai waktu, mengelola kelas, dan bersikap konsisten menjadi contoh nyata bagi siswa. Astuti dan Teza (2025) menambahkan bahwa pembelajaran yang menarik dan melibatkan siswa secara aktif mampu meningkatkan motivasi sekaligus kedisiplinan belajar. Di sisi lain, layanan bimbingan dan konseling juga berperan membantu siswa mengenali potensi diri, mengendalikan emosi, serta membangun kebiasaan belajar yang lebih teratur (Sa’adah, 2023; Fatimah, 2023).
Kedisiplinan bukan hanya soal mematuhi aturan, tetapi tentang kesadaran siswa dalam mengelola waktu, mengendalikan perilaku, dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Sinergi antara kebijakan sekolah, keteladanan guru, dukungan layanan pendukung, dan peran keluarga akan membantu siswa berkembang secara akademik sekaligus membangun karakter yang kuat.
Penulis : Indira Noor Azzurah | S1 Manajemen | Fakultas Ekonomi dan Bisnis | Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Anisa Putri









