Peran Pendidikan Emosional dalam Membentuk Karakter Gen Alpha di Tengah Dominasi Kecerdasan Buatan

- Redaksi

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendidikan tidak hanya soal nilai rapor dan prestasi akademik. Lebih dari itu, pendidikan memegang peran penting dalam membentuk karakter, sikap, dan kematangan emosional, terutama bagi Generasi Alpha yang tumbuh di tengah derasnya arus teknologi.

Idealnya, pendidikan membantu anak berkembang secara utuh, baik dari sisi intelektual, sosial, maupun emosional. Sayangnya, praktik pendidikan masih sering menempatkan aspek akademik sebagai prioritas utama, sementara kemampuan emosional kerap terpinggirkan.

Padahal, kecerdasan emosional memiliki kontribusi besar dalam menentukan keberhasilan seseorang dalam kehidupan sosial dan profesional. Hermawati dkk. (2025) menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan juga ruang pembentukan kepekaan sosial dan emosional.

Pendidikan emosional membantu Gen Alpha mengenali perasaannya sendiri, mengelola emosi secara sehat, serta membangun relasi yang positif dengan lingkungan sekitar. Tanpa bekal ini, anak berisiko kesulitan beradaptasi, mudah tersulut emosi, dan kurang mampu bekerja sama.

Situasi ini semakin kompleks dengan hadirnya kecerdasan buatan dan teknologi digital yang sudah menjadi bagian dari keseharian Gen Alpha. Sejak usia dini, mereka terbiasa dengan gawai, aplikasi pintar, dan media sosial. Teknologi memang membuka akses belajar yang luas, tetapi penggunaan yang berlebihan juga membawa konsekuensi, terutama pada perkembangan sosial dan emosional. Tidak sedikit anak yang lebih nyaman berinteraksi dengan layar dibandingkan berkomunikasi secara langsung. Akibatnya, kesempatan melatih empati, komunikasi interpersonal, dan kerja sama sosial menjadi semakin terbatas.

Baca Juga :  Hanjeli: Superfood Lokal yang Bisa Jadi Pengganti Nasi

Pentingnya Kecerdasan Emosional sebagai Penyeimbang Kemajuan Teknologi

Kecerdasan emosional merujuk pada kemampuan mengenali dan mengelola emosi diri, memahami perasaan orang lain, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Dalam konteks pendidikan, kecerdasan emosional berfungsi sebagai penyeimbang antara kemampuan akademik dan kemajuan teknologi. Anak tidak hanya diajarkan menjadi pintar secara kognitif, tetapi juga bijak dalam bersikap dan berinteraksi.

Kecerdasan emosional bukan sekadar konsep teoritis. Ia tampak dalam perilaku sehari-hari, seperti kemampuan menahan diri, berempati, termotivasi, dan menjalin hubungan sosial yang sehat. Kesadaran diri membantu anak memahami apa yang ia rasakan dan dampaknya terhadap tindakan. Pengaturan diri membuat anak tidak mudah impulsif, terutama saat menghadapi tekanan.

Empati dan keterampilan sosial memperkuat kemampuan bekerja sama dan menghargai perbedaan. Goleman menekankan bahwa kemampuan-kemampuan ini bersifat praktis dan sangat menentukan kesiapan anak menghadapi dinamika sosial di era digital.

Transformasi pendidikan di era disrupsi juga menuntut pendekatan baru. Proses belajar yang semakin digital perlu diimbangi dengan penguatan aspek emosional. Adaptasi teknologi tidak cukup jika hanya berfokus pada perangkat dan platform, tanpa memperhatikan kebutuhan psikologis anak. Pendidikan perlu memberi ruang agar anak tetap terhubung secara manusiawi, bukan hanya secara digital.

Baca Juga :  Islam Menjunjung Tinggi Kesetaraan Gender

Dampak Dominasi Kecerdasan Buatan terhadap Perkembangan Emosional Gen Alpha

Ketergantungan pada teknologi dapat memengaruhi perkembangan emosi anak. Interaksi digital yang dominan mengurangi kesempatan anak belajar membaca ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan intonasi suara. Selain itu, paparan konten cepat membuat anak kurang terbiasa berkonsentrasi dalam waktu lama dan lebih mudah merasa bosan.

Media sosial juga berperan besar dalam membentuk cara Gen Alpha memandang diri mereka. Perbandingan sosial yang terus-menerus dapat memicu rasa rendah diri, kecemasan, dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri jika tidak disertai kemampuan berpikir kritis dan pengelolaan emosi yang baik. Di sisi lain, kehadiran AI sebagai teman virtual menawarkan kenyamanan, tetapi juga berisiko mengurangi kualitas hubungan sosial nyata jika tidak didampingi secara tepat.

Strategi Pendidikan Emosional untuk Mendorong Empati dan Kolaborasi

Pendidikan emosional dapat diperkuat melalui pembelajaran kolaboratif yang melibatkan kerja kelompok, diskusi, dan pembagian peran. Interaksi semacam ini membantu anak belajar mendengarkan, menghargai pendapat, dan membangun empati.

Selain itu, pembelajaran sosial-emosional atau SEL menjadi fondasi penting untuk melatih pengendalian diri, tanggung jawab, dan toleransi. Pendekatan berbasis pengalaman juga relevan karena memberi kesempatan anak belajar langsung dari situasi nyata, bukan sekadar teori. Melalui pengalaman, anak belajar menyelesaikan perbedaan secara konstruktif dan membangun hubungan sosial yang sehat.

Penulis : Nayli Akma Qatrunnada Zahwa | S1 Akuntansi | Fakultas Ekonomi dan Bisnis | Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Fadli Akbar

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Probabilitas Prospek Kerja Terbaik bagi Mahasiswa Manajemen di Tengah Revolusi Industri Digital
Peran Penting Teknologi Digital dalam Transformasi Pendidikan di Sekolah Perdesaan
Tantangan dan Peluang Pendidikan dalam Membentuk Generasi Berkarakter Unggul di Era Digital
Terkikisnya Norma Pendidikan Terhadap Anak Remaja di Era Digitalisasi
Pendidikan Karakter Berkualitas terhadap Upaya Pencegahan Bullying di Lingkungan Pendidikan
Peran Laporan Keuangan dalam Menentukan Strategi Pengembangan Bisnis di Era Modernisasi
Pengaruh Kinerja Lingkungan dan Produktivitas terhadap Reputasi Publik pada Nilai Perusahaan
Tantangan Literasi Keuangan pada Generasi Muda dalam Menghadapi Perubahan Ekonomi Global

Berita Terkait

Jumat, 9 Januari 2026 - 18:55 WIB

Probabilitas Prospek Kerja Terbaik bagi Mahasiswa Manajemen di Tengah Revolusi Industri Digital

Kamis, 8 Januari 2026 - 23:17 WIB

Peran Penting Teknologi Digital dalam Transformasi Pendidikan di Sekolah Perdesaan

Kamis, 8 Januari 2026 - 23:13 WIB

Tantangan dan Peluang Pendidikan dalam Membentuk Generasi Berkarakter Unggul di Era Digital

Kamis, 8 Januari 2026 - 23:10 WIB

Terkikisnya Norma Pendidikan Terhadap Anak Remaja di Era Digitalisasi

Kamis, 8 Januari 2026 - 23:00 WIB

Pendidikan Karakter Berkualitas terhadap Upaya Pencegahan Bullying di Lingkungan Pendidikan

Berita Terbaru