Pendidikan karakter sejak lama menjadi fondasi penting dalam membentuk kepribadian individu. Melalui pendidikan karakter, peserta didik tidak hanya diajak memahami mana yang benar dan salah, tetapi juga dilatih untuk menerapkan nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan integritas tidak muncul begitu saja, melainkan perlu ditanamkan secara sadar, konsisten, dan berkelanjutan melalui proses pendidikan.
Di sisi lain, kehidupan modern tidak bisa dilepaskan dari teknologi digital. Internet, media sosial, dan beragam aplikasi daring kini menjadi bagian dari keseharian siswa di berbagai jenjang pendidikan. Kehadiran teknologi ini membuka peluang besar bagi dunia pendidikan untuk berinovasi. Proses belajar tidak lagi terbatas ruang kelas, melainkan bisa berlangsung kapan saja dan di mana saja. Tantangannya, pemanfaatan teknologi tersebut harus tetap sejalan dengan tujuan utama pendidikan, yakni membentuk manusia yang berkarakter.
Teknologi dapat menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai moral jika digunakan secara tepat. Melalui pembelajaran digital, siswa dapat belajar bekerja sama, menghargai pendapat orang lain, serta mengembangkan empati melalui interaksi yang sehat di ruang digital. Namun, tanpa pendampingan yang memadai, teknologi juga berpotensi membawa dampak sebaliknya.
Peluang Pendidikan di Era Digital
Era digital memberi ruang luas bagi siswa untuk mengembangkan potensi diri. Akses terhadap informasi yang begitu terbuka memungkinkan siswa menggali minat, memperluas wawasan, dan mengasah keterampilan sesuai bakat masing-masing. Beragam platform pembelajaran daring, webinar, pelatihan online, hingga konten edukatif di media sosial dapat menjadi sumber belajar alternatif yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Media digital juga mendorong lahirnya pembelajaran yang lebih kreatif dan interaktif. Materi yang disajikan dalam bentuk video, infografis, simulasi, atau diskusi daring membuat proses belajar terasa lebih hidup dan tidak monoton. Siswa didorong untuk berpikir kritis, mandiri, dan aktif mencari pengetahuan, tidak hanya bergantung pada buku teks.
Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti Augmented Reality atau AR mulai banyak diterapkan dalam dunia pendidikan. Teknologi ini memungkinkan siswa mempelajari konsep yang kompleks melalui visualisasi interaktif, sehingga lebih mudah dipahami dan diingat. Pengalaman belajar semacam ini dapat meningkatkan minat belajar sekaligus membantu siswa membangun pemahaman yang lebih mendalam.
Ancaman Teknologi terhadap Pembentukan Generasi Berkarakter Unggul di Era Digital
Di balik peluang yang ditawarkan, teknologi digital juga membawa sejumlah risiko. Media sosial, misalnya, membuka ruang interaksi tanpa batas, tetapi sekaligus meningkatkan kemungkinan terpapar konten negatif. Konten yang bersifat merendahkan, melecehkan, atau penuh kekerasan dapat memengaruhi cara berpikir dan bersikap generasi muda.
Interaksi yang tidak sehat di dunia maya, seperti perundungan digital, berpotensi melemahkan empati dan membentuk sikap agresif. Selain itu, paparan konten negatif secara terus-menerus dapat berdampak pada kesehatan mental dan kepercayaan diri siswa.
Risiko lain yang tak kalah serius adalah kecanduan internet. Kemudahan akses informasi sering kali membuat siswa menggunakan gawai secara berlebihan. Ketergantungan ini dapat menghambat kreativitas, menurunkan kemampuan berpikir kritis, serta membiasakan pola pikir instan tanpa proses refleksi yang mendalam. Jika dibiarkan, kondisi ini berkontribusi pada tumbuhnya sikap individualistis dan menurunnya kualitas interaksi sosial.
Upaya dalam Menanggulangi Ancaman Teknologi terhadap Pembentukan Karakter
Menghadapi tantangan tersebut, penguatan literasi digital menjadi langkah strategis. Literasi digital tidak sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kecakapan memilah informasi, mengenali hoaks, serta memahami etika dan tanggung jawab di ruang digital. Melalui literasi digital yang baik, siswa diharapkan mampu bersikap kritis dan bijak dalam memanfaatkan teknologi.
Peran orang tua dan guru juga sangat krusial. Di lingkungan keluarga, orang tua berfungsi sebagai pendamping yang mengarahkan sekaligus mengawasi penggunaan teknologi. Di sekolah, guru tidak hanya menyampaikan materi akademik, tetapi juga menjadi teladan dalam penggunaan teknologi yang sehat dan bertanggung jawab.
Upaya membentuk generasi berkarakter di era digital membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah, hingga penyedia platform digital. Dengan pendekatan yang kolaboratif, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendukung pendidikan yang memperkuat nilai kemanusiaan, bukan sebaliknya.
Penulis : Nayla Cahaya Putri | S1 Akuntansi | Fakultas Ekonomi dan Bisnis | Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Anisa Putri









