Terbitan Berseri dan Ingatan Pengetahuan yang Terabaikan

- Redaksi

Minggu, 18 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi foto perpustakaan. Sumber: perpustakaan.unimed.ac.id

Ilustrasi foto perpustakaan. Sumber: perpustakaan.unimed.ac.id

Di tengah derasnya arus digitalisasi informasi, perpustakaan kerap dipersepsikan tertinggal. Persepsi ini semakin kuat ketika berbicara tentang koleksi terbitan berseri. Padahal, terbitan berseri merupakan salah satu fondasi penting dalam ekosistem pengetahuan yang justru menyimpan rekam jejak intelektual paling konsisten dan berkesinambungan.

Koleksi terbitan berseri mencakup berbagai publikasi yang terbit secara berkala, seperti surat kabar, majalah, jurnal ilmiah, prosiding, hingga buku tahunan. Karakter utamanya adalah kesinambungan isi dan keteraturan terbit, sehingga satu judul dapat memiliki puluhan bahkan ratusan nomor dan volume. Berbeda dengan buku monograf, pengelolaan terbitan berseri menuntut sistem penyimpanan, penelusuran, dan pelestarian yang lebih kompleks.

Nilai utama koleksi ini terletak pada kemampuannya menyediakan informasi mutakhir sekaligus terdokumentasi dengan baik. Terbitan berseri menjadi penopang proses belajar-mengajar, rujukan penelitian, serta sumber primer dan sekunder dalam kajian akademik. Dalam konteks tertentu, ia bahkan berfungsi sebagai arsip sosial yang merekam dinamika pemikiran, kebijakan, dan peristiwa pada suatu masa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ironisnya, kemajuan teknologi informasi justru menempatkan sebagian koleksi terbitan berseri pada posisi terpinggirkan. Akses cepat melalui mesin pencari dan media digital membuat publik terbiasa pada informasi instan, ringkas, dan populer.

Di tengah kecenderungan tersebut, terbitan berseri cetak sering dipandang usang, sulit diakses, dan tidak relevan. Padahal, justru melalui keteraturan penerbitannya, terbitan berseri memiliki tingkat akurasi dan kesinambungan analisis yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga :  Sekolah Gratis: Realita di Balik Janji

Tidak semua terbitan berseri mengalami nasib serupa. Jurnal ilmiah, misalnya, menunjukkan perkembangan signifikan, terutama di lingkungan perguruan tinggi. Digitalisasi dan kebijakan akses terbuka mendorong jurnal ilmiah menjadi rujukan utama dalam penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Keberadaan jurnal menjaga standar kredibilitas akademik sekaligus menjadi rekam jejak perkembangan isu dan disiplin ilmu secara sistematis.

Sebaliknya, majalah dan surat kabar cetak yang dahulu menjadi konsumsi utama masyarakat kini mengalami penurunan minat baca. Kehadirannya terdesak oleh platform digital yang menyajikan informasi secara cepat, visual, dan sering kali sensasional.

Rendahnya literasi informasi dan literasi perpustakaan memperparah kondisi ini. Di sisi lain, promosi dan inovasi layanan perpustakaan terhadap koleksi terbitan berseri masih terbatas, sehingga publik semakin jauh dari sumber informasi yang sesungguhnya kaya dan bernilai.

Stigma bahwa terbitan berseri bersifat kuno dan tidak praktis turut membentuk jarak psikologis antara pembaca dan perpustakaan. Akibatnya, koleksi tersebut tidak hanya sepi pemanfaatan, tetapi juga berisiko terabaikan dalam pengelolaan. Jika dibiarkan, situasi ini akan berdampak serius.

Pengabaian koleksi terbitan berseri berarti kehilangan sumber informasi yang terverifikasi dan berkelanjutan. Kualitas riset dan kajian ilmiah pun terancam menurun karena minimnya rujukan historis dan kontekstual. Lebih jauh, terputusnya dokumentasi perkembangan pengetahuan membuka ruang bagi dominasi informasi dangkal yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Baca Juga :  Pendidikan: Antara Mesin Produksi dan Laboratorium Kehidupan

Dalam konteks inilah peran perpustakaan dan pustakawan menjadi krusial. Mereka tidak sekadar penjaga koleksi, melainkan pengelola siklus hidup pengetahuan. Terobosan diperlukan untuk menghidupkan kembali terbitan berseri melalui strategi yang relevan dengan kebutuhan pengguna. Digitalisasi perlu dilakukan secara terencana, bukan sekadar memindahkan bentuk cetak ke daring, melainkan mengintegrasikannya ke dalam layanan referensi, pembelajaran, dan penelitian.

Pustakawan juga dituntut berperan sebagai mediator informasi yang aktif, menjembatani koleksi dengan kebutuhan pengguna. Upaya ini harus diiringi dengan penguatan literasi informasi masyarakat melalui pendekatan pembelajaran yang mudah dipahami dan aplikatif. Kolaborasi antara perpustakaan, institusi pendidikan, dan peneliti menjadi langkah strategis agar terbitan berseri kembali ditempatkan sebagai rujukan utama dalam proses akademik.

Dukungan kebijakan turut menentukan keberlanjutan koleksi ini. Pengelolaan dan pelestarian terbitan berseri memerlukan komitmen institusional agar tidak tergerus oleh perubahan teknologi dan selera pasar. Tanpa kebijakan yang jelas, terbitan berseri berpotensi kehilangan fungsinya sebagai penjaga memori kolektif bangsa.

Masyarakat juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga keberlangsungan terbitan berseri. Membaca dan memanfaatkan koleksi perpustakaan secara berkala merupakan bentuk partisipasi dalam merawat ekosistem pengetahuan.

Sikap kritis terhadap informasi digital perlu dibangun agar publik tidak sepenuhnya bergantung pada sumber instan yang kerap abai terhadap akurasi. Perpustakaan, dengan seluruh koleksi terbitan berserinya, tetap relevan sebagai ruang pembelajaran yang menumbuhkan kedalaman berpikir dan ketajaman analisis.

Penulis : Erlina Wardani | Mahasiswi Prodi Ilmu Perpustakan dan Informasi Islam | Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Inflasi Terkendali, Daya Beli Menyusut: Realitas yang Terlewat dari Narasi Resmi
Pasal Zina dalam KUHP Baru: Di Mana Posisi Keadilan Menurut Islam?
Korupsi dan Merosotnya Akuntabilitas dalam Praktik Kekuasaan
Persinggungan Hukum Pidana dan Perdata Internasional dalam Perlindungan TKI Indonesia di Luar Negeri: Pelajaran dari Kasus Satinah binti Jumadi Ahmad
Arduino dan Demokratisasi Inovasi Teknologi Elektro
Mahasiswa dan Tanggung Jawab Menjaga Nilai Pancasila di Daerah
Mahasiswa UNS Dukung Pembelajaran di Sekolah Indonesia Singapura lewat Pengajaran Lintas Bidang
Pergaulan Anak Sekolah Dasar yang Melampaui Usia Perkembangan

Berita Terkait

Minggu, 18 Januari 2026 - 07:21 WIB

Terbitan Berseri dan Ingatan Pengetahuan yang Terabaikan

Selasa, 13 Januari 2026 - 10:35 WIB

Inflasi Terkendali, Daya Beli Menyusut: Realitas yang Terlewat dari Narasi Resmi

Jumat, 9 Januari 2026 - 20:30 WIB

Pasal Zina dalam KUHP Baru: Di Mana Posisi Keadilan Menurut Islam?

Minggu, 4 Januari 2026 - 13:51 WIB

Korupsi dan Merosotnya Akuntabilitas dalam Praktik Kekuasaan

Jumat, 2 Januari 2026 - 17:59 WIB

Persinggungan Hukum Pidana dan Perdata Internasional dalam Perlindungan TKI Indonesia di Luar Negeri: Pelajaran dari Kasus Satinah binti Jumadi Ahmad

Berita Terbaru

Ilustrasi foto perpustakaan. Sumber: perpustakaan.unimed.ac.id

Opini

Terbitan Berseri dan Ingatan Pengetahuan yang Terabaikan

Minggu, 18 Jan 2026 - 07:21 WIB