Rahasia Sains di Balik Camilan Transparan: Kripik Kaca

- Redaksi

Selasa, 23 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tipis, kriuk, pedas gurih, dan bikin nagih. Dari singkong sederhana jadi tren kuliner anak muda yang nggak ada matinya. Sumber: Fimela.com

Tipis, kriuk, pedas gurih, dan bikin nagih. Dari singkong sederhana jadi tren kuliner anak muda yang nggak ada matinya. Sumber: Fimela.com

Kripik kaca lagi naik daun banget belakangan ini. Camilan bening, tipis, dan super renyah ini jadi favorit banyak orang, terutama anak muda. Kalau buka media sosial, gampang banget nemuin konten orang makan kripik kaca dengan level pedas yang bikin ngiler. Dari tampilannya aja udah bikin penasaran, bening kayak kaca tapi kriuk abis.

Nah, yang bikin menarik, di balik kesederhanaannya ternyata ada sains keren yang bekerja. Bahan dasar kripik kaca adalah tepung tapioka. Ketika dicampur air lalu dipanaskan, granula pati di dalamnya menyerap air, mengembang, terus pecah.

Proses ini disebut gelatinisasi pati. Hasilnya? Adonan jadi transparan dan kenyal. Setelah dikeringkan tipis-tipis dan digoreng, lahirlah si kripik kaca dengan tekstur rapuh tapi tetap gurih dan renyah.

Selain enak buat ngemil, kripik kaca juga punya potensi besar buat jadi peluang usaha rumahan. Bahan bakunya gampang banget dicari, cara bikinnya juga simpel, dan modalnya relatif kecil.

Baca Juga :  Kehidupan di Desa yang Menyeramkan

Kalau dikasih sentuhan inovasi, misalnya bikin varian rasa unik atau kemasan yang lebih kekinian, ditambah promosi lewat media sosial, bisa banget jadi bisnis yang menjanjikan.

Tapi, meski lagi viral, kripik kaca juga punya sisi yang harus diperhatikan. Dari segi nutrisi, camilan ini didominasi karbohidrat dan minyak, jadi nilai gizinya nggak terlalu tinggi. Apalagi kalau pakai penyedap dan pewarna berlebihan, bisa bikin nggak sehat buat tubuh. Karena itu, penting banget buat para produsen mikirin kualitas bahan dan cara pengolahan, biar kripik kaca tetap aman dan enak dinikmati.

Intinya, kripik kaca bukan cuma sekadar camilan musiman yang ikut-ikutan tren. Makanan ini bukti nyata kalau ilmu pangan bisa hadir di meja makan sehari-hari. Dari singkong sederhana yang biasanya cuma digoreng, bisa diubah jadi camilan unik dengan tampilan bening yang bikin heboh.

Baca Juga :  Peningkatan Kualitas Pemulihan dan Kinerja Atlet Sepak Bola

Dengan sedikit sains, banyak kreativitas, dan peluang usaha yang terbuka lebar, kripik kaca sukses jadi camilan tipis-tipis yang justru punya tempat tebal di hati pecintanya.

Referensi

  • Costa, W. Y., & Manihuruk, F. M. (2021). Karakteristik Kimia Dan Organoleptik Kerupuk Daging Dengan Penambahan Tepung Tapioka Dan Waktu Pengukusan Berbeda. Jurnal AgroSainTa: Widyaiswara Mandiri Membangun Bangsa5(1), 9-14.
  • Dewi, R. D. C. (2021). Keripik Kaca Rasa Buah Pisang dan Strawbery Sebagai Nutrisi Meningkatkan Imunitas di Masa Pandemi Covid-19: Banana And Strawbery Flavor Glass Chips As Nutrition To Increase Immunity During The Covid-19 PandemicJurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan7(3), 47-53.

Penulis : Muhammad Arya Tama Dipa | Program Studi Teknologi Pangan | Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menguatkan Manajemen Risiko K3 di Proyek Gedung Bertingkat: Mencegah Bahaya Sebelum Menelan Korban
Bahaya Durasi Penggunaan Komputer di Tempat Kerja terhadap Kesehatan Mata
Di Balik Keindahan Pulau Bali: Problematika Akut Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Sektor Pariwisata
Ancaman di Balik Rutinitas Kerja: Mengungkap Risiko Carpal Tunnel Syndrome pada Pekerja Modern
Fenomena Influencer Saham di Media Sosial dan Urgensi Perlindungan Hukum bagi Investor Pemula
Pasal 412 UU No. 1 Tahun 2023 dan Tradisi Kawin Masyarakat Lampung (Sebambangan): Tinjauan Yuridis dan Maqāṣid al-Sharī‘ah
Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan
Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:56 WIB

Menguatkan Manajemen Risiko K3 di Proyek Gedung Bertingkat: Mencegah Bahaya Sebelum Menelan Korban

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:42 WIB

Bahaya Durasi Penggunaan Komputer di Tempat Kerja terhadap Kesehatan Mata

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:47 WIB

Di Balik Keindahan Pulau Bali: Problematika Akut Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Sektor Pariwisata

Senin, 25 Mei 2026 - 23:00 WIB

Ancaman di Balik Rutinitas Kerja: Mengungkap Risiko Carpal Tunnel Syndrome pada Pekerja Modern

Selasa, 12 Mei 2026 - 08:44 WIB

Fenomena Influencer Saham di Media Sosial dan Urgensi Perlindungan Hukum bagi Investor Pemula

Berita Terbaru