Kurikulum Merdeka hadir sebagai jawaban atas kebutuhan pembelajaran yang lebih fleksibel dan relevan setelah pandemi. Kurikulum ini memberi ruang bagi sekolah dan guru untuk menyesuaikan proses belajar dengan kondisi serta karakter siswa. Tidak lagi terpaku pada pola lama yang seragam, Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran yang lebih manusiawi, adaptif, dan berpusat pada peserta didik.
Dalam pendekatan ini, peran guru ikut berubah. Guru tidak lagi berdiri sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi beralih menjadi pendamping yang membantu siswa memahami cara belajar, mengenali potensi diri, dan mengembangkan karakter.
Perubahan ini terasa kuat di jenjang SMA, terutama sejak sistem penjurusan di kelas X dihapus. Siswa diberi waktu untuk mengeksplorasi berbagai mata pelajaran sebelum menentukan minatnya, sementara guru memegang peran penting dalam membimbing proses tersebut.
Konsep Efektivitas Peran Guru dalam Kurikulum Merdeka
Secara sederhana, guru yang efektif adalah guru yang mampu membantu siswa mencapai tujuan belajar, baik secara akademik maupun non-akademik. Dalam Kurikulum Merdeka, efektivitas guru tidak hanya dilihat dari penguasaan materi, tetapi juga dari kemampuannya memahami kebutuhan siswa, membangun komunikasi yang hangat, serta menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan.
Guru berperan sebagai fasilitator yang membuka ruang diskusi, mentor yang memberi arahan personal, dan motivator yang menjaga semangat belajar siswa. Pembelajaran berpusat pada siswa menuntut guru untuk lebih peka terhadap perbedaan gaya belajar, kecepatan memahami materi, hingga latar belakang peserta didik. Di sinilah kompetensi guru menjadi kunci, mulai dari kemampuan pedagogik, profesional, sosial, hingga kepribadian.
Guru yang mampu mengelola pembelajaran berdiferensiasi, yaitu menyesuaikan metode dan materi dengan kebutuhan siswa, cenderung lebih berhasil menciptakan proses belajar yang bermakna. Ditambah dengan asesmen diagnostik, guru dapat memetakan kemampuan awal siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih tepat sasaran.
Dampak Implementasi Kurikulum Merdeka terhadap Prestasi Belajar Siswa
Penerapan Kurikulum Merdeka membawa perubahan nyata dalam cara siswa belajar. Siswa didorong untuk aktif bertanya, berdiskusi, dan memecahkan masalah. Mereka tidak hanya menghafal materi, tetapi belajar memahami dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini berkontribusi pada meningkatnya kemampuan berpikir kritis dan kreativitas siswa.
Penghapusan penjurusan awal memberi kesempatan bagi siswa untuk mengenali minat dan bakatnya secara lebih matang. Namun, kebijakan ini juga menambah tanggung jawab guru dalam memantau perkembangan siswa secara akademik maupun emosional. Guru dituntut lebih aktif memberi bimbingan dan umpan balik agar siswa tidak kehilangan arah dalam proses belajar.
Selain akademik, Kurikulum Merdeka juga menekankan pembentukan karakter melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Melalui proyek ini, guru membimbing siswa belajar bekerja sama, bertanggung jawab, mandiri, dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Prestasi belajar pun tidak hanya diukur dari nilai, tetapi juga dari sikap dan keterampilan hidup yang berkembang.
Strategi Peningkatan Efektivitas Peran Guru
Agar peran guru berjalan optimal, pengembangan profesional menjadi kebutuhan utama. Pelatihan berkelanjutan, pendampingan, dan forum berbagi praktik baik membantu guru lebih percaya diri menerapkan Kurikulum Merdeka di kelas. Penguasaan metode pembelajaran inovatif, seperti pembelajaran berbasis proyek dan pemanfaatan teknologi, juga memperkaya pengalaman belajar siswa.
Dukungan lingkungan sekolah turut menentukan keberhasilan guru. Kolaborasi antara guru, kepala sekolah, dan orang tua menciptakan ekosistem belajar yang sehat dan konsisten. Dengan dukungan sarana yang memadai serta evaluasi yang berkelanjutan, guru dapat menjalankan perannya secara efektif dan berkelanjutan.
Efektivitas peran guru menjadi penentu utama keberhasilan Kurikulum Merdeka di jenjang SMA. Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi pendamping yang membantu siswa tumbuh secara akademik dan karakter. Ketika guru mampu memahami kebutuhan siswa, menerapkan pembelajaran yang fleksibel, serta terus mengembangkan kompetensinya, prestasi belajar siswa pun meningkat secara lebih menyeluruh dan bermakna.
Penulis : Alya Putri Firdausi | S1 Akuntansi | Fakultas Ekonomi dan Bisnis | Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Anisa Putri









