Mojokerto, Sorotnesia.com – Pemupukan tanaman jagung di Desa Kuripansari, Jawa Timur, hingga kini masih banyak dilakukan secara manual. Cara ini membuat distribusi pupuk ke setiap tanaman tidak merata. Sebagian tanaman menerima pupuk berlebih, sementara tanaman lain justru kekurangan unsur hara yang dibutuhkan untuk tumbuh optimal.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada produktivitas jagung. Hasil panen kerap tidak stabil dari musim ke musim. Selain itu, pemupukan manual membutuhkan waktu dan tenaga cukup besar. Situasi ini menjadi kendala tersendiri, terutama bagi petani berusia lanjut yang memiliki keterbatasan fisik. Penggunaan pupuk tanpa takaran yang jelas juga berpotensi menimbulkan pemborosan dan meningkatkan biaya produksi.
Melihat persoalan itu, mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya yang melaksanakan program pengabdian masyarakat di Desa Kuripansari memperkenalkan alat penebar pupuk jagung sederhana. Alat tersebut dirancang agar mudah dioperasikan dan sesuai dengan kondisi lahan pertanian setempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Alat penebar pupuk ini memungkinkan petani menyalurkan pupuk secara lebih merata ke setiap tanaman. Dosis pupuk dapat diatur sehingga penggunaannya lebih terkontrol. Dengan demikian, potensi pemborosan pupuk dapat ditekan, sementara kebutuhan nutrisi tanaman dapat terpenuhi secara lebih tepat.
Selain meningkatkan ketepatan distribusi pupuk, penggunaan alat ini juga mempercepat proses pemupukan. Waktu kerja menjadi lebih singkat dan tenaga yang dikeluarkan petani berkurang signifikan. Efisiensi ini dinilai penting untuk mendukung keberlanjutan aktivitas pertanian, terutama bagi petani yang selama ini mengandalkan tenaga manual.
Mahasiswa UNTAG Surabaya tidak hanya menyediakan alat, tetapi juga melakukan pendampingan kepada petani. Mereka memberikan penjelasan mengenai cara penggunaan, perawatan, serta prinsip dasar pemupukan yang efisien. Pendekatan ini dilakukan agar petani tidak sekadar menggunakan alat, tetapi juga memahami manfaat dan cara mengoptimalkannya.
Peran mahasiswa dalam program ini difokuskan sebagai fasilitator inovasi teknologi tepat guna di sektor pertanian. Melalui pendampingan langsung, mahasiswa mendorong terjadinya transfer pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat desa. Harapannya, setelah program pengabdian selesai, petani dapat mengoperasikan dan merawat alat penebar pupuk secara mandiri.
Penerapan alat penebar pupuk jagung di Desa Kuripansari mulai menunjukkan manfaat. Penyebaran pupuk yang lebih merata membantu tanaman memperoleh nutrisi sesuai kebutuhan. Efisiensi tenaga kerja meningkat, sementara biaya produksi dapat ditekan karena penggunaan pupuk lebih terukur.
Program ini menjadi bagian dari upaya mendorong peningkatan produktivitas pertanian desa melalui inovasi sederhana. Meski berskala kecil, penggunaan alat penebar pupuk dinilai mampu memberikan dampak nyata terhadap kualitas dan kuantitas hasil panen jagung.
Ke depan, keberlanjutan penggunaan alat ini diharapkan mendapat dukungan dari masyarakat dan pemerintah desa. Dengan pengelolaan yang konsisten, inovasi tersebut berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan sektor pertanian di tingkat desa.
Penulis : Muhammad Alfian Ramadhani, Anastasia Tiffany Situngkir, Sazhana Nurul Jannah, Bima Kristiano Suroso, Reza Azahra Ramadhani | UNTAG
Editor : Fadli Akbar








