Mojokerto, Sorotnesia.com – Limbah peternakan kerap menjadi persoalan laten di wilayah pedesaan. Di banyak desa sentra sapi perah, kotoran ternak tidak hanya memicu bau menyengat, tetapi juga berpotensi mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan warga. Kondisi tersebut masih ditemui di Dusun Pringwulung, Desa Bendungan Jati, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Persoalan itu mendorong mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menghadirkan solusi berbasis teknologi tepat guna. Melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dimulai pada Januari 2026, mereka memperkenalkan inovasi pengolahan kotoran sapi menjadi briket biomassa sebagai sumber energi alternatif.
Program ini dipimpin oleh Dr. Tan Evan Tandiyono, S.E., S.Pd.K., M.PSDM., CHCM., CKWU, yang juga bertindak sebagai dosen pembimbing lapangan. Kegiatan melibatkan lima mahasiswa UNTAG Surabaya, yakni Danendra Raditya Ramiro, Muhammad Bangun Saputra, Diana Eka Shintia, Fitrah Yunanda, dan Achmad Alifi Albastomi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Inovasi utama yang diperkenalkan adalah tungku pirolisis sederhana berbahan dasar drum bekas. Melalui teknologi ini, kotoran sapi dikeringkan lalu diproses melalui pembakaran tertutup untuk menghasilkan arang atau biochar. Arang tersebut kemudian dicetak menjadi briket biomassa yang dapat digunakan sebagai bahan bakar.
Selama ini, limbah kotoran sapi di Pringwulung umumnya hanya ditumpuk di sekitar kandang atau dibuang ke lahan terbuka tanpa pengolahan. Selain menimbulkan bau, kondisi tersebut berisiko mencemari tanah dan air. Dengan penerapan teknologi pirolisis, limbah yang sebelumnya dianggap masalah kini memiliki nilai guna baru.
Keunggulan program ini terletak pada kesederhanaan teknologi. Seluruh peralatan dirancang dari bahan yang mudah diperoleh di sekitar desa, seperti drum bekas, kaleng cat, dan rangka besi sederhana. Proses pengoperasiannya pun tidak bergantung pada listrik maupun mesin kompleks, sehingga dapat dipelajari dan direplikasi oleh peternak secara mandiri.
Briket yang dihasilkan memiliki nilai kalor relatif stabil dan menghasilkan asap lebih sedikit dibandingkan kayu bakar. Bagi warga, keberadaan briket biomassa ini membantu menekan pengeluaran rumah tangga, terutama untuk kebutuhan energi memasak yang selama ini bergantung pada LPG atau kayu.
Dari sisi lingkungan, program ini turut mendorong perbaikan sanitasi kandang dan pengelolaan limbah yang lebih tertata. Penumpukan kotoran dapat dikurangi, sementara potensi pencemaran lingkungan menjadi lebih terkendali.
Mahasiswa UNTAG Surabaya juga mendorong pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) sebagai pengelola produksi dan distribusi briket. Dengan kapasitas produksi awal sekitar 50 hingga 75 kilogram per minggu, briket biomassa tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk energi alternatif berbasis desa.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa inovasi di tingkat akar rumput tidak selalu menuntut teknologi canggih atau biaya besar. Kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, ditopang teknologi tepat guna, mampu mengubah persoalan limbah menjadi peluang ekonomi.
Meski masa pengabdian mahasiswa bersifat terbatas, program ini diharapkan dapat berlanjut melalui pengelolaan mandiri warga. Bagi masyarakat Pringwulung, briket kotoran sapi bukan sekadar produk energi, melainkan simbol perubahan cara pandang terhadap limbah dari beban lingkungan menjadi sumber daya yang bernilai.
Penulis : Danendra Raditya Ramiro | Prodi Administrasi Negara | Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Editor : Intan Permata









