Cerebral palsy adalah kondisi yang memengaruhi kemampuan anak dalam bergerak, menjaga keseimbangan, dan mengontrol postur tubuh. Gangguan ini terjadi akibat kerusakan otak pada masa awal kehidupan, baik sebelum, saat, maupun setelah kelahiran.
Kondisi tersebut bersifat menetap dan dapat berdampak jangka panjang terhadap kemandirian anak dalam beraktivitas sehari-hari. Di tengah tantangan ini, fisioterapi menjadi salah satu bentuk penanganan utama yang sangat berperan dalam membantu anak mencapai potensi terbaiknya.
Sayangnya, akses terhadap layanan fisioterapi di Indonesia masih belum merata dan sering kali sulit dijangkau oleh banyak keluarga. Karena itu, peran negara dalam memperluas akses layanan ini menjadi sangat penting untuk memastikan hak kesehatan anak benar-benar terpenuhi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Meskipun cerebral palsy tidak bisa disembuhkan, berbagai keterbatasan yang ditimbulkannya dapat dikurangi melalui terapi yang tepat dan berkelanjutan. Fisioterapi membantu anak melatih gerakan tubuh, memperkuat otot, menjaga kelenturan sendi, serta mencegah terjadinya kekakuan atau kelainan bentuk tubuh.
Terapi yang dimulai sejak usia dini cenderung memberikan hasil lebih baik, karena otak anak masih memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi. Tanpa dukungan fisioterapi yang cukup, anak dengan cerebral palsy berisiko mengalami keterbatasan gerak yang semakin berat seiring bertambahnya usia.
Sayangnya, banyak keluarga menghadapi berbagai hambatan dalam mendapatkan layanan fisioterapi. Biaya terapi yang cukup tinggi sering kali menjadi beban besar, terutama bagi keluarga dengan ekonomi terbatas. Di sisi lain, fasilitas rehabilitasi di rumah sakit atau puskesmas belum tersedia secara merata, terutama di daerah terpencil.
Jumlah fisioterapis yang terlatih juga masih terbatas dan terkonsentrasi di kota-kota besar. Akibatnya, banyak anak dengan cerebral palsy tidak mendapatkan terapi yang optimal, yang dapat meningkatkan ketergantungan mereka pada orang lain dan menurunkan kualitas hidup mereka di masa depan.
Setiap anak, termasuk anak dengan disabilitas, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Di sinilah negara memiliki peran kunci. Pemerintah perlu memastikan bahwa layanan fisioterapi tersedia, terjangkau, dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kebijakan yang mendukung perluasan layanan ini bukan sekadar bentuk bantuan, melainkan wujud tanggung jawab negara dalam menjunjung keadilan sosial dan hak asasi manusia. Tanpa keterlibatan negara, beban perawatan akan sepenuhnya berada di pundak keluarga, yang bisa menimbulkan tekanan ekonomi dan sosial dalam jangka panjang.
Penyediaan layanan fisioterapi yang memadai juga membawa manfaat besar bagi masyarakat secara keseluruhan. Anak yang mendapatkan terapi dengan baik memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh mandiri, bersekolah, dan berinteraksi secara aktif dalam lingkungan sosialnya.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengurangi beban biaya kesehatan dan ketergantungan sosial. Dengan kata lain, memperluas akses fisioterapi bukan hanya bentuk kepedulian, tetapi juga investasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang lebih inklusif dan berdaya.
Memperluas akses fisioterapi bagi anak dengan cerebral palsy merupakan langkah strategis yang perlu menjadi prioritas. Langkah ini tidak hanya didorong oleh rasa kemanusiaan, tetapi juga oleh pertimbangan keadilan, kesehatan masyarakat, dan manfaat ekonomi jangka panjang.
Melalui kebijakan yang berpihak pada penyediaan layanan rehabilitasi yang merata dan berkelanjutan, negara dapat membantu anak-anak dengan cerebral palsy menjalani hidup yang lebih bermakna sekaligus mendorong terciptanya masyarakat yang lebih adil dan inklusif.
Penulis : Imelda Meutya Zahra | Mahasiswa Prodi Fisioterapi | Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Anisa Putri









