Mojokerto, Sorotnesia.com – Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menghadirkan inovasi teknologi tepat guna berupa mesin pemotong pisang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Bendungan Jati, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Inovasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku pisang yang selama ini belum tergarap maksimal.
Program pengabdian masyarakat itu dilaksanakan oleh Tim KKN R11 Sub Kelompok 1 UNTAG Surabaya pada 7–18 Januari 2026 di UMKM Kurnia yang berlokasi di RT 003 Dusun Merak. Kegiatan berlangsung di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan, Dr. Tan Evan Tandiyono, S.E., S.Pd.K., M.PSDM.
Dalam keterangan tertulis yang disampaikan pada 14 Januari 2026, tim KKN menjelaskan bahwa pelaku UMKM pengolahan pisang di desa tersebut menghadapi persoalan klasik dalam proses produksi. Pemotongan pisang yang masih dilakukan secara manual menyebabkan irisan tidak seragam, sehingga berpengaruh pada kualitas produk akhir, baik sale pisang maupun keripik pisang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain berdampak pada mutu produk, proses manual juga menyita waktu dan tenaga kerja. Kondisi tersebut membuat peningkatan kapasitas produksi sulit dicapai. Di sisi lain, pisang hasil sortasi yang tidak memenuhi standar bahan baku sale kerap terbuang, padahal masih berpotensi diolah menjadi produk bernilai tambah.
Berangkat dari persoalan itu, tim KKN merancang mesin slicer pisang yang sederhana, terjangkau, dan mudah dioperasikan. Mesin ini dirancang agar dapat digunakan pelaku UMKM tanpa memerlukan keahlian teknis khusus. Alat tersebut mampu menghasilkan irisan pisang dengan ketebalan seragam dan mempercepat proses pemotongan secara signifikan.
Tim KKN yang terlibat dalam perancangan dan implementasi alat ini terdiri atas Kamalya Gavra Jacinda, Aloysius Lionel Moise, Odilia Taek, Shinta Rizki Oktaviani, dan Muhammad Ridho Fahreza. Selain menyerahkan mesin, mereka juga memberikan pendampingan intensif kepada pelaku usaha.
Pendampingan mencakup pelatihan pengoperasian alat, pengaturan ketebalan irisan, perawatan rutin, serta sosialisasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Langkah ini dilakukan untuk memastikan alat dapat digunakan secara berkelanjutan dan aman dalam aktivitas produksi harian.

“Kami tidak hanya menyerahkan alat, tetapi juga memastikan mitra memahami cara penggunaan dan perawatannya. Harapannya, mesin ini benar-benar membantu operasional usaha,” ujar salah satu perwakilan tim KKN dalam kegiatan tersebut.
Dosen pembimbing lapangan, Dr. Tan Evan Tandiyono, menilai inovasi berskala kecil seperti mesin slicer pisang dapat memberikan dampak signifikan bagi keberlangsungan UMKM desa. Menurut dia, peningkatan volume produksi tanpa mengorbankan kualitas merupakan kunci agar usaha kecil mampu bertahan dan berkembang.
“Inovasi teknologi tepat guna harus berangkat dari kebutuhan riil di lapangan. Pendekatan partisipatif seperti ini penting agar solusi yang diberikan tidak berhenti sebagai proyek sesaat,” kata Tan Evan.
Kegiatan pengabdian juga dilengkapi dengan sosialisasi pemasaran sederhana melalui media sosial. Tim KKN memperkenalkan strategi dasar promosi digital yang relevan dengan karakter UMKM desa, sebagai upaya memperluas jangkauan pasar produk olahan pisang.
Pemilik UMKM Kurnia, Iwan, mengapresiasi kehadiran mahasiswa KKN dan inovasi yang dihasilkan. Ia menilai mesin slicer pisang tersebut sesuai dengan kebutuhan usahanya.
“Terima kasih sudah mendukung dari awal. Banyak ilmu dan informasi yang dibagikan. Alat yang diberikan bisa saya manfaatkan sebaik mungkin untuk usaha,” ujar Iwan.
Ia menambahkan, kehadiran mahasiswa juga membuka ruang berbagi pengetahuan dan peluang kerja sama ke depan. “Kami terbuka untuk terus belajar dan bekerja sama,” katanya.
Manfaat penggunaan mesin slicer pisang dirasakan secara langsung. Proses produksi menjadi lebih cepat dan rapi, penggunaan tenaga kerja lebih efisien, serta limbah pisang dapat dikurangi melalui pemanfaatan bahan sisa menjadi keripik pisang. Diversifikasi produk tersebut turut membuka peluang peningkatan pendapatan.
Pemerintah desa dan masyarakat setempat turut memberikan apresiasi terhadap program KKN tersebut. Inisiatif ini dinilai sebagai contoh sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mendukung penguatan ekonomi lokal berbasis potensi desa.
Pengalaman KKN UNTAG Surabaya di Desa Bendungan Jati menunjukkan bahwa teknologi tepat guna masih memiliki peran strategis dalam pengembangan UMKM pedesaan. Dengan pendekatan yang kontekstual dan berkelanjutan, inovasi sederhana dapat menjadi pendorong efisiensi, adaptasi usaha, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat desa.
Penulis : Kamalya Gavra Jacinda | Administrasi Negara | Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Editor : Anisa Putri









