Mojokerto, Sorotnesia.com – Persoalan limbah kotoran sapi masih menjadi tantangan sanitasi di banyak kawasan pedesaan. Bau menyengat, potensi pencemaran air tanah, hingga penumpukan limbah kerap mengganggu kenyamanan warga. Menjawab persoalan tersebut, tim pengabdian masyarakat Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menghadirkan solusi berbasis teknologi tepat guna di Dusun Pringwulung, Desa Bendungan Jati, Kabupaten Mojokerto.
Program pengabdian masyarakat yang berlangsung pada 7–18 Januari 2026 ini memperkenalkan Tungku Pirolisis Tipe Drum, alat sederhana yang dirancang ergonomis, mudah dipindahkan, dan dapat dirakit dari material lokal. Kegiatan ini berada di bawah bimbingan dosen UNTAG Surabaya, Dr. Tan Evan Tandiyono, S.E., S.Pd.K., M.PSDM., CHCM., CKWU.
Salah satu anggota tim, Diana Eka Shintia, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum dengan NIM 1312300060, terlibat aktif dalam proses edukasi warga. Ia menekankan pentingnya pengelolaan limbah peternakan yang tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai tambah secara ekonomi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Teknologi pirolisis yang diperkenalkan bekerja melalui proses karbonisasi, yakni memanaskan biomassa kotoran sapi dalam ruang tertutup tanpa oksigen. Proses ini mengubah limbah yang semula menjadi sumber polusi menjadi arang atau biochar berkualitas. Selain ramah lingkungan, alat ini dinilai ekonomis karena memanfaatkan drum besi bekas yang mudah diperoleh dan direplikasi oleh peternak secara mandiri.
Hasil uji coba lapangan menunjukkan capaian teknis yang cukup signifikan. Dari setiap 10 kilogram kotoran sapi kering, dihasilkan sekitar 3,5 hingga 4 kilogram arang, dengan rendemen berkisar 35–40 persen. Arang tersebut kemudian dicetak menjadi briket menggunakan perekat tapioka sebanyak 5–10 persen. Briket mampu menyala stabil selama 90 hingga 120 menit dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar rumah tangga.
Proses pirolisis berlangsung selama dua hingga tiga jam tanpa memerlukan pengawasan konstan. Kondisi ini memungkinkan peternak tetap menjalankan aktivitas rutin di kandang tanpa terganggu oleh proses produksi.
Dampak program ini dirasakan langsung oleh warga RT 01/RW 07 Dusun Pringwulung. Lingkungan pemukiman menjadi lebih bersih karena limbah ternak tidak lagi menumpuk. Di sisi lain, briket biomassa menjadi sumber energi alternatif yang membantu mengurangi ketergantungan terhadap LPG dan bahan bakar fosil lainnya.
“Kami berharap teknologi ini dapat dilanjutkan secara mandiri oleh warga melalui pembentukan Kelompok Usaha Bersama. Kami juga menyerahkan modul standar operasional agar proses produksi tetap aman dan konsisten,” ujar tim pengabdian saat penyerahan alat kepada warga.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan kolaboratif dan teknologi yang tepat, limbah peternakan dapat diolah menjadi sumber energi ramah lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
Penulis : Diana Eka Shintia | Program Studi Ilmu Hukum | Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Editor : Anisa Putri









