Islam Menjunjung Tinggi Kesetaraan Gender

- Redaksi

Kamis, 17 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi foto: shutterstock

Ilustrasi foto: shutterstock

Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, isu kesetaraan gender masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat. Meski berbagai diskursus telah digaungkan, pemahaman yang utuh mengenai peran perempuan dalam kehidupan sosial masih sering terhambat oleh pandangan konservatif yang berakar dari budaya patriarki.

Realita di lapangan menunjukkan bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan masih sering dibedakan. Perbedaan ini tampak dalam pembagian tugas, kewenangan, hingga hak-hak dasar. Tak jarang, perempuan yang memiliki pendidikan tinggi justru dianggap mengancam peran laki-laki.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa suara-suara keadilan gender sering kali hanya menjadi jargon tanpa realisasi. Banyak perempuan yang dibatasi dalam menentukan pilihan hidupnya sendiri, bahkan tidak diberi ruang untuk menyuarakan haknya. Akibatnya, diskriminasi terhadap perempuan terus berulang.

Namun, penting untuk dicatat bahwa Islam sejatinya datang sebagai agama yang membela hak-hak perempuan. Sejarah mencatat bahwa sebelum Islam hadir, perempuan sering kali diperlakukan secara tidak manusiawi.

Mereka diposisikan hanya sebagai objek pemuas nafsu, dijadikan budak, dan dikendalikan penuh oleh laki-laki. Islam membawa revolusi besar terhadap kondisi ini dengan menghadirkan nilai-nilai yang menjunjung tinggi kehormatan dan martabat perempuan.

Salah satu bukti kuat bahwa Islam mendukung kesetaraan gender dapat ditemukan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13, yang berbunyi:    

Baca Juga :  Gelombang Suara yang Menggelora: Menjelajahi Fenomena K-Band dan Daya Tarik "Wave to Earth"
 يٰٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰٰ وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَإِۤىلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ  اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللِّٰ اَتْقٰىكُمْْۗ اِنَّ اللَّٰ عَلِيْمٌ خَبِيٌْْ ١٣۝

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah. Satu-satunya pembeda hanyalah ketakwaan, bukan jenis kelamin, suku, ras, atau status sosial. Artinya, Islam menghapus diskriminasi dan memberikan dasar spiritual yang kuat untuk memperjuangkan kesetaraan gender.

Selain itu, Islam juga sangat menekankan pentingnya pendidikan bagi setiap individu, tanpa memandang gender. Rasulullah SAW bersabda:

  مسْلِ م  كُ ل  عَلَ  فَرِيضَ ة  الْعِلْمِ  طَلَ ب 

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Kata “setiap Muslim” dalam hadits ini merujuk pada seluruh umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan. Maka jelas bahwa Islam tidak membatasi akses perempuan terhadap ilmu pengetahuan. Justru, perempuan diberikan hak dan kewajiban yang sama untuk menuntut ilmu, demi membentuk generasi yang cerdas dan berakhlak.

Baca Juga :  Kunci Sukses di Usia Muda

Dalam keluarga, seorang ibu adalah “madrasah pertama” bagi anak-anaknya. Maka dari itu, perempuan perlu dibekali ilmu agar mampu menjalankan perannya dengan bijak dan penuh kesadaran.

Sayangnya, dalam praktik sosial, semangat kesetaraan yang dibawa oleh Islam ini belum sepenuhnya diwujudkan. Masih banyak masyarakat yang berpegang pada budaya patriarki yang kaku, seolah-olah perempuan adalah makhluk kelas dua. Pandangan seperti inilah yang perlu dikritisi dan diluruskan dengan pemahaman keislaman yang utuh dan progresif.

Islam tidak hanya mendukung kesetaraan gender, tapi juga menempatkan perempuan pada posisi yang terhormat. Al-Qur’an dan Hadits telah menunjukkan bahwa perempuan memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dengan laki-laki.

Tantangannya terletak pada pola pikir masyarakat yang masih dibelenggu oleh budaya lama. Untuk itu, dibutuhkan edukasi, dakwah yang ramah gender, dan kesadaran kolektif bahwa keadilan tidak akan tercapai jika separuh populasi terus-menerus dipinggirkan.

Sudah saatnya anak muda menjadi pelopor perubahan dalam memperjuangkan kesetaraan gender dalam perspektif Islam. Dengan pemahaman yang benar, kita bisa menciptakan lingkungan yang inklusif, adil, dan penuh penghargaan terhadap peran perempuan.

Penulis : Fitri Yani

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Probabilitas Prospek Kerja Terbaik bagi Mahasiswa Manajemen di Tengah Revolusi Industri Digital
Peran Penting Teknologi Digital dalam Transformasi Pendidikan di Sekolah Perdesaan
Tantangan dan Peluang Pendidikan dalam Membentuk Generasi Berkarakter Unggul di Era Digital
Terkikisnya Norma Pendidikan Terhadap Anak Remaja di Era Digitalisasi
Peran Pendidikan Emosional dalam Membentuk Karakter Gen Alpha di Tengah Dominasi Kecerdasan Buatan
Pendidikan Karakter Berkualitas terhadap Upaya Pencegahan Bullying di Lingkungan Pendidikan
Peran Laporan Keuangan dalam Menentukan Strategi Pengembangan Bisnis di Era Modernisasi
Pengaruh Kinerja Lingkungan dan Produktivitas terhadap Reputasi Publik pada Nilai Perusahaan

Berita Terkait

Jumat, 9 Januari 2026 - 18:55 WIB

Probabilitas Prospek Kerja Terbaik bagi Mahasiswa Manajemen di Tengah Revolusi Industri Digital

Kamis, 8 Januari 2026 - 23:17 WIB

Peran Penting Teknologi Digital dalam Transformasi Pendidikan di Sekolah Perdesaan

Kamis, 8 Januari 2026 - 23:13 WIB

Tantangan dan Peluang Pendidikan dalam Membentuk Generasi Berkarakter Unggul di Era Digital

Kamis, 8 Januari 2026 - 23:10 WIB

Terkikisnya Norma Pendidikan Terhadap Anak Remaja di Era Digitalisasi

Kamis, 8 Januari 2026 - 23:00 WIB

Pendidikan Karakter Berkualitas terhadap Upaya Pencegahan Bullying di Lingkungan Pendidikan

Berita Terbaru