Mojokerto, Sorotnesia.com – Seorang mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, Dimas Arya Saputra, mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Bendunganjati, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pada 7–18 Januari 2026. Program ini menjadi bagian dari kewajiban akademik sekaligus sarana pembelajaran lapangan bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah.
Dimas, yang tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Administrasi Bisnis, menyebut KKN sebagai ruang belajar sosial yang tidak diperoleh di kelas. Menurut dia, keberadaan mahasiswa di desa tidak semata menjalankan program kerja, melainkan membangun pemahaman terhadap dinamika masyarakat secara langsung.
“Di desa, kami belajar bahwa pengabdian tidak bisa dilepaskan dari kemampuan mendengar, memahami kebutuhan warga, dan bekerja bersama,” kata Dimas saat ditemui di sela kegiatan KKN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Desa Bendunganjati menjadi lokasi pengabdian dengan karakter masyarakat yang masih kuat menjaga nilai gotong royong. Sejak hari pertama, mahasiswa KKN disambut secara terbuka oleh warga dan perangkat desa. Sikap tersebut memudahkan proses adaptasi mahasiswa dalam menjalankan program-program yang telah dirancang sebelumnya.
Selama hampir dua pekan, mahasiswa KKN terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari pendampingan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, hingga membantu aktivitas sosial desa. Kegiatan pendidikan menjadi salah satu fokus utama, terutama pendampingan belajar bagi anak-anak desa.
Dimas menilai, antusiasme anak-anak dalam mengikuti kegiatan belajar menjadi pengalaman yang membekas. Di tengah keterbatasan fasilitas, semangat belajar anak-anak justru terlihat tinggi. Kondisi tersebut, menurut dia, memberi perspektif baru tentang arti kesungguhan dalam menimba ilmu.
Selain kegiatan pendidikan, mahasiswa juga berinteraksi intens dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat. Dari proses tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman tentang pentingnya komunikasi yang efektif serta perencanaan program yang berbasis kebutuhan warga.
“Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Namun dari situ kami belajar menyesuaikan diri, berdiskusi, dan mencari solusi bersama masyarakat,” ujar Dimas.
Ia menambahkan, tantangan di lapangan justru menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Mahasiswa dituntut untuk bersikap fleksibel, kreatif, dan bertanggung jawab dalam menghadapi berbagai kondisi sosial yang berbeda dengan lingkungan kampus.
Kehidupan masyarakat Desa Bendunganjati yang sederhana, namun sarat kebersamaan, menjadi pelajaran tersendiri bagi mahasiswa. Nilai gotong royong tercermin dalam berbagai aktivitas warga, mulai dari kegiatan sosial hingga kerja bakti desa. Bagi Dimas, pengalaman tersebut memperkuat pemahaman bahwa keberhasilan program pengabdian sangat bergantung pada keterlibatan dan kepercayaan masyarakat.
Program KKN ini juga menjadi sarana pembentukan karakter mahasiswa. Melalui interaksi langsung dengan warga, mahasiswa dilatih untuk lebih peka terhadap persoalan sosial, menghargai perbedaan, serta mengimplementasikan ilmu secara kontekstual.
Menurut Dimas, KKN tidak dapat dipandang hanya sebagai kewajiban akademik semata. Program ini, kata dia, merupakan proses pembelajaran yang berkelanjutan dalam membentuk sikap empati dan kepedulian sosial mahasiswa sebagai calon sarjana.
Pengalaman di Desa Bendunganjati diharapkan menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat setelah lulus. Dimas menyebut, pembelajaran paling berharga justru lahir dari interaksi sederhana, kebersamaan, dan kerja kolektif bersama warga desa.
“Dari desa, kami belajar bahwa ilmu sejati tidak hanya tumbuh dari teori, tetapi dari pengalaman dan niat tulus untuk berbagi,” ujarnya.
Kegiatan KKN di Desa Bendunganjati pun menjadi penanda penting bagi mahasiswa UNTAG Surabaya dalam menjalankan peran tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, sebagai bagian dari kontribusi nyata dunia akademik bagi lingkungan sekitar.
Penulis : Dimas Arya Saputra | Prodi Administrasi Niaga | Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Editor : Fadli Akbar








