Terkikisnya Norma Pendidikan Terhadap Anak Remaja di Era Digitalisasi

- Redaksi

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perkembangan teknologi digital bergerak begitu cepat dan menyentuh hampir seluruh sisi kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Cara belajar yang dulu bertumpu pada pertemuan tatap muka kini bergeser ke sistem yang lebih fleksibel melalui platform digital, pembelajaran jarak jauh, dan media sosial. Perubahan ini membawa banyak kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru yang tidak bisa diabaikan.

Remaja menjadi kelompok yang paling kuat merasakan dampak digitalisasi. Mereka tumbuh dan berkembang bersama gawai, internet, dan media sosial. Ponsel bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari rutinitas harian. Akses informasi yang cepat dan instan memang membuka peluang belajar yang luas. Namun, di sisi lain, kebiasaan ini juga berpotensi mengikis proses pembentukan karakter jika tidak diimbangi dengan penguatan norma pendidikan.

Pendidikan di era digital bukan hanya soal penguasaan teknologi atau kecakapan akademik. Di balik layar gawai, ada nilai, etika, dan tanggung jawab yang perlu terus ditanamkan. Tanpa fondasi norma yang kuat, kemajuan teknologi justru dapat menjauhkan remaja dari sikap disiplin, kejujuran, dan empati yang seharusnya tumbuh seiring proses belajar.

Pemahaman Mengenai Norma Pendidikan di Era Digitalisasi

Norma pendidikan dapat dipahami sebagai seperangkat nilai dan pedoman yang membimbing perilaku peserta didik dalam proses belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Norma ini berfungsi membantu remaja membangun karakter, memahami batasan, serta bertindak sesuai nilai moral yang berlaku di masyarakat.

Baca Juga :  Pentingnya Pendidikan untuk Membangun Generasi Masa Depan

Norma pendidikan tidak hanya berbicara tentang aturan tertulis di ruang kelas. Lebih dari itu, norma menjadi sarana penanaman etika, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap orang lain. Di era digital yang serba cepat, norma pendidikan berperan menjaga keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan pembentukan sikap.

Jika pendidikan hanya berfokus pada pencapaian akademik tanpa memperhatikan aspek moral, proses belajar akan kehilangan makna. Remaja mungkin cakap secara teknologi, tetapi rapuh dalam menyikapi tantangan etika. Oleh karena itu, norma pendidikan menjadi penyangga utama agar perkembangan intelektual berjalan seiring dengan kematangan karakter.

Dampak Era Digitalisasi terhadap Norma Pendidikan

Digitalisasi mengubah cara siswa belajar dan menyelesaikan tugas. Ketergantungan pada teknologi membuat sebagian siswa cenderung mencari jalan pintas, seperti menyalin informasi tanpa proses berpikir yang mendalam. Kebiasaan ini perlahan memengaruhi sikap tanggung jawab dan kejujuran dalam belajar.

Jika dibiarkan, pola belajar instan dapat menghambat perkembangan karakter remaja. Proses memahami, menganalisis, dan merefleksikan materi tergeser oleh keinginan serba cepat. Di sinilah peran pendidik menjadi sangat penting. Guru tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga mengawasi dan mengarahkan pemanfaatan teknologi agar tetap sejalan dengan norma pendidikan.

Baca Juga :  Peran Bidan Dalam Meningkatkan Kesehatan Ibu Dan Anak Di Wilayah Perdesaan

Meski demikian, digitalisasi tidak selalu berdampak negatif. Teknologi membuka akses luas ke sumber belajar yang beragam dan mendorong metode pembelajaran yang lebih interaktif. Jika digunakan dengan bijak dan disertai penguatan nilai moral, teknologi justru dapat memperkaya pengalaman belajar dan menumbuhkan kreativitas siswa.

Penguatan Pendidikan Karakter pada Anak Remaja Masa Kini di Era Teknologi

Penguatan pendidikan karakter menjadi kebutuhan utama di tengah masifnya penggunaan media digital. Pendidikan karakter berfungsi menanamkan kesadaran moral agar remaja mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. Proses pembelajaran berbasis digital perlu dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kecerdasan, tetapi juga membentuk sikap disiplin dan rasa tanggung jawab.

Peran sekolah perlu didukung oleh keluarga sebagai lingkungan awal pembentukan karakter. Di rumah, remaja belajar bagaimana bersikap bijak dalam menggunakan teknologi melalui contoh nyata dari orang tua. Kerja sama antara sekolah dan keluarga menjadi kunci agar norma pendidikan diterapkan secara konsisten.

Selain itu, lingkungan sosial juga berperan memperkuat nilai dan etika. Masyarakat yang mendorong perilaku positif akan membantu remaja menempatkan teknologi sebagai alat pendukung, bukan pengendali. Dengan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, norma pendidikan dapat tetap terjaga di tengah arus digitalisasi yang terus berkembang.

Penulis : Muhammad Rifky Fuaddi | S1 Hukum Keluarga Islam | Fakultas Agama Islam | Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Intan Permata

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pasal 412 UU No. 1 Tahun 2023 dan Tradisi Kawin Masyarakat Lampung (Sebambangan): Tinjauan Yuridis dan Maqāṣid al-Sharī‘ah
Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan
Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?
Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?
Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis
Pendekatan Fisioterapi dalam Rehabilitasi Anak dengan Down Syndrome
Peralatan Bantu Rehabilitasi Pasien Fraktur Siku Berbasis AI dan IoT untuk Meningkatkan Kualitas Terapi
Pengembangan Karier Fisioterapi: Dari Ruang Klinik hingga Dunia Akademik

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:21 WIB

Pasal 412 UU No. 1 Tahun 2023 dan Tradisi Kawin Masyarakat Lampung (Sebambangan): Tinjauan Yuridis dan Maqāṣid al-Sharī‘ah

Selasa, 20 Januari 2026 - 08:57 WIB

Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:45 WIB

Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?

Rabu, 14 Januari 2026 - 21:49 WIB

Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?

Rabu, 14 Januari 2026 - 19:56 WIB

Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis

Berita Terbaru