Akar Bambu Jadi Solusi, KKN 138 UNS Sosialisasikan Pembuatan PGPR Ramah Lingkungan kepada Petani Kadipiro, Sragen

- Redaksi

Sabtu, 21 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa KKN 138 UNS memberikan sosilisasi dan demo tentang solusi PGPR kepada petani di Desa Kadipiro sebagai bagian dari mengatasi penyakit bercak coklat Senin (30/1/2026). Foto: Pribadi

Mahasiswa KKN 138 UNS memberikan sosilisasi dan demo tentang solusi PGPR kepada petani di Desa Kadipiro sebagai bagian dari mengatasi penyakit bercak coklat Senin (30/1/2026). Foto: Pribadi

Sragen, Sorotnesia.com – Tim KKN 138 Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar sosialisasi dan demonstrasi pembuatan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) berbahan akar bambu di Desa Kadipiro, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, Jumat (30/1/2026) malam. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong praktik pertanian ramah lingkungan berbasis potensi lokal.

Acara yang berlangsung di rumah Ketua Kelompok Tani Sri Makmur, Mardono, itu dihadiri sekitar 30 peserta. Mereka merupakan perwakilan kelompok tani di bawah naungan Gapoktan Amrih Utomo Desa Kadipiro. Kegiatan dimulai pukul 19.00 WIB dan berlangsung interaktif hingga selesai.

Ketua Gapoktan Kadipiro, Sugeng, mengatakan dalam beberapa tahun terakhir petani di wilayahnya menghadapi persoalan serius berupa penyakit bercak coklat pada daun padi. Serangan penyakit tersebut menyebabkan daun tidak seragam, muncul bercak kecoklatan, hingga terjadi nekrosis atau kematian jaringan.

“Akibatnya pertumbuhan tanaman terganggu, bahkan muncul gejala kerdil. Hasil panen pun tidak maksimal,” ujar Sugeng.

Ia menambahkan, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus diduga ikut memengaruhi keseimbangan hayati tanah. Populasi mikroorganisme antagonis yang berperan menekan patogen penyebab penyakit semakin berkurang. Kondisi itu membuat tanaman lebih rentan terhadap serangan penyakit.

Dalam konteks tersebut, PGPR diperkenalkan sebagai alternatif solusi. PGPR merupakan kelompok bakteri menguntungkan yang hidup di sekitar perakaran tanaman (rizosfer) dan berfungsi merangsang pertumbuhan sekaligus menekan perkembangan patogen di dalam tanah.

Baca Juga :  Mahasiswa Amikom Dorong Kreativitas UMKM Triharjo Melalui Workshop Fotografi dan Desain Grafis

Akar bambu dipilih sebagai bahan utama karena mengandung mikroorganisme lokal seperti Bacillus sp. dan Pseudomonas sp. Mikroorganisme tersebut berperan sebagai biofertilizer, biostimulan, dan bioprotektan yang mendukung kesehatan tanaman secara alami.

Materi sosialisasi disampaikan oleh Fifi Silfindya, mahasiswa S-1 Agroteknologi angkatan 2022 yang tergabung dalam tim KKN 138 UNS. Ia menjelaskan bahwa PGPR bekerja dengan meningkatkan ketersediaan unsur hara sekaligus memperkuat daya tahan tanaman.

“PGPR membantu merangsang pertumbuhan akar dan menekan patogen di dalam tanah. Bahan dasarnya, seperti akar bambu, mudah ditemukan di sekitar desa sehingga petani bisa memproduksinya sendiri dengan biaya lebih terjangkau,” kata Fifi.

Menurut dia, pupuk hayati ini bersifat slow release, sehingga mikroorganisme di dalamnya bekerja secara bertahap. Aplikasi dapat dilakukan pada berbagai fase pertumbuhan padi dengan interval tertentu, menyesuaikan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman.

Paparan tersebut disambut antusias peserta. Sejumlah petani mengaku telah memanfaatkan pupuk organik cair (POC) dari limbah sayur dan buah untuk menunjang produksi. Namun, potensi bahan alami lain di sekitar desa, seperti akar bambu, alang-alang, serai, dan rumput gajah, belum dimaksimalkan.

Baca Juga :  Mahasiswa PGSD UNISRI Hidupkan Kearifan Lokal Lewat Eksperimen Motif Batik di SD Negeri 1 Sorogaten

Diskusi semakin hidup ketika petani muda, Kholis, berbagi pengalaman membuat PGPR secara mandiri. Ia menekankan pentingnya proses fermentasi yang tepat.

“Fermentasi optimal biasanya lebih dari dua sampai tiga minggu. Kalau masih ada gas keluar dari wadah, berarti larutan masih masam. Sebelum diaplikasikan ke lahan, kondisinya harus netral agar aman bagi tanaman,” ujarnya.

Setelah sesi materi, tim KKN melanjutkan dengan demonstrasi pembuatan PGPR. Tahapan dimulai dari penyiapan bahan, proses perendaman akar bambu, pencampuran bahan pendukung, hingga teknik fermentasi.

Peserta memperhatikan ciri-ciri fermentasi yang berhasil, seperti munculnya aroma khas menyerupai tape yang tidak menyengat serta terbentuknya lapisan mikroorganisme di permukaan larutan. Penjelasan teknis tersebut dinilai memudahkan petani untuk mempraktikkan secara mandiri.

Melalui kegiatan ini, tim KKN 138 UNS berharap petani Kadipiro mampu memproduksi pupuk hayati secara berkelanjutan. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada sarana produksi berbasis kimia sintetis, memperbaiki kualitas tanah, serta memperkuat sistem pertanian berkelanjutan di tingkat desa.

Pendekatan berbasis mikroorganisme lokal dinilai tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem tanah dalam jangka panjang. Di tengah tantangan penyakit tanaman dan degradasi lahan, inovasi sederhana dari akar bambu itu menjadi langkah kecil menuju kemandirian petani.

Penulis : Fifi Silfindya | Prodi S-1 Agroteknologi | UNS

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswa KKN UNS 74 Manfaatkan Galon Bekas untuk Hidroponik, Dorong Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Magelang
Mahasiswa KKN UNS 74 Edukasi Warga Desa Gunungsari Olah Limbah Sayuran Menjadi Ecoenzyme
Latih Keterampilan Bernilai Ekonomis, KKN 74 UNS Gelar Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Piring di Desa Gunungsari
Atasi Genangan Air, Mahasiswa KKN UNS Kenalkan Biopori di Desa Gunungsari
Mahasiswa KKN-T 100 UNS Gelar Workshop Eco Print dan Sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan di Pacitan
Siswa SDN Seloprojo Antusias Ikuti Kegiatan Ecoprint Bersama Tim KKN UNS 81
Kolaborasi Mahasiswa KKN UNS dan Desa Seloprojo Hadirkan Inovasi Alat Penabur Pupuk Ergonomis
Kolaborasi KKN UNS 81 dan Desa Seloprojo Berdayakan Ibu Rumah Tangga melalui Pelatihan Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah

Berita Terkait

Minggu, 8 Maret 2026 - 20:30 WIB

Mahasiswa KKN UNS 74 Manfaatkan Galon Bekas untuk Hidroponik, Dorong Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Magelang

Minggu, 8 Maret 2026 - 20:04 WIB

Mahasiswa KKN UNS 74 Edukasi Warga Desa Gunungsari Olah Limbah Sayuran Menjadi Ecoenzyme

Minggu, 8 Maret 2026 - 17:50 WIB

Latih Keterampilan Bernilai Ekonomis, KKN 74 UNS Gelar Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Piring di Desa Gunungsari

Minggu, 8 Maret 2026 - 16:50 WIB

Atasi Genangan Air, Mahasiswa KKN UNS Kenalkan Biopori di Desa Gunungsari

Jumat, 6 Maret 2026 - 19:30 WIB

Siswa SDN Seloprojo Antusias Ikuti Kegiatan Ecoprint Bersama Tim KKN UNS 81

Berita Terbaru