Boyolali, Krajan.id – Tim mahasiswa Program Hibah Pembelajaran Berdampak Universitas Sebelas Maret (UNS) yang tergabung dalam tim LamtoroNova (ID Tim 2146) menggelar kegiatan sosialisasi riset di SMA Negeri 1 Banyuduono, Jembungan, Kecamatan Banyuduono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada Rabu, 21 Mei 2026 pukul 09.15 WIB hingga selesai. Kegiatan yang menyasar siswa kelas X5 ini memperkenalkan hasil penelitian pemanfaatan limbah kulit lamtoro (Leucaena leucocephala) sebagai bahan baku material adsorben magnetik untuk remediasi antibiotik amoksisilin di perairan.
Kegiatan ini berangkat dari keprihatinan terhadap fakta yang kerap luput dari perhatian publik: sebanyak 30–90% amoksisilin yang dikonsumsi manusia tidak terserap sempurna oleh tubuh, melainkan diekskresi melalui urine, kemudian masuk ke badan air, dan pada akhirnya memicu munculnya bakteri resistan antibiotik (antimicrobial resistance/AMR). Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, sementara teknologi pengolahan air konvensional yang ada kerap mahal dan menghasilkan produk samping yang berbahaya.
Menjawab tantangan tersebut, tim LamtoroNova yang diketuai oleh Najwa Rahma bersama anggotanya, Azahra Andira Putri, Denayya Zalfa Nabila, Hayyan Freshia Wijaya, dan Lintang Widhi Asih, menawarkan pendekatan berbasis kimia hijau (green chemistry). Mereka memanfaatkan limbah kulit lamtoro (tanaman polong yang akrab ditemui di pedesaan Jawa dan kerap hanya dibuang begitu saja) sebagai bahan baku biochar berpori tinggi atau disebut Biochar Lamtoro Peel (BLP). Biochar tersebut kemudian diintegrasikan dengan kitosan dari cangkang udang serta Fe3O4 (magnetit), membentuk mikrokomposit magnetik Chi–BLP-Fe3O4 yang mampu menyerap amoksisilin dari air tercemar dan dipisahkan kembali secara mudah menggunakan magnet.
Magnetic Challenge: Sains Menjadi Nyata di Tangan Siswa
Salah satu momen paling berkesan dalam kegiatan ini adalah demonstrasi langsung bertajuk Magnetic Challenge. Perwakilan siswa diminta maju ke depan dan ditantang untuk membersihkan serbuk Fe3O4 dari dalam gelas berisi air tanpa menyentuh air dan tanpa menuangnya.
Mayoritas siswa tampak kebingungan, hingga tim memberikan sebuah magnet. Dalam hitungan detik, serbuk hitam itu tertarik sempurna ke sisi gelas, meninggalkan air yang jernih. Demonstrasi itu mengilustrasikan keunggulan material yang diteliti: adsorben yang telah menyerap amoksisilin dapat diambil kembali dari air cukup dengan magnet, sehingga ramah lingkungan.
Sebelum sesi praktik, siswa juga diajak melihat dan menyentuh langsung komponen fisik material, mulai dari kulit lamtoro kering, serbuk kitosan, hingga serbuk Fe3O4, yang diedarkan ke seluruh kelas dalam wadah kaca arloji.
Respons antusias pun datang dari Revita, salah satu siswa kelas X5 yang aktif mengikuti jalannya kelas sejak awal.
“Asli, aku baru tahu pas dijelasin sama tim kakak-kakak UNS tadi. Tebakanku selama ini kan obat amoksisilin kalau udah diminum ya udah habis to, ternyata zatnya masih aktif terus bisa nyampah di sungai dan bikin bakteri kebal. Agak syok sih, tapi untung penjelasannya seru dan gampang dipahami jadi nggak bosan. Apalagi ada solusi pakai material magnet dari kulit lamtoro atau mlanding ini, keren pol risetnya!” seru Revita.
Senada dengan Revita, Vega yang juga merupakan siswa kelas X5 mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai pemanfaatan bahan alam setelah melihat demonstrasi tersebut.”Seru banget, terutama pas bagian magnetic challenge. Kami jadi bisa melihat langsung bagaimana teori kimia diaplikasikan secara canggih tapi lewat bahan yang sederhana. Ini bikin kami lebih tertarik untuk melihat potensi limbah-limbah lain yang ada di sekitar rumah,” ungkap Vega antusias.

Kulit Mlanding/Lamtoro yang Selama Ini Hanya Jadi Sampah
Guru Kimia SMAN 1 Banyuduono, Bu Parjiyem, turut menyambut kegiatan ini dengan penuh kehangatan. Dengan logat khasnya, ia merefleksikan betapa dekatnya tanaman lamtoro (atau mlanding dalam bahasa Jawa) dengan keseharian masyarakat sekitar Solo Raya atau Boyolali, namun potensinya selama ini nyaris tak tersentuh di ranah sains lingkungan.
“Selama ini anak-anak mungkin tahunya mlanding itu cuma sebatas buat campuran jangan lodeh atau dibikin botok. Ternyata, lewat kreativitas ilmiah mahasiswa UNS, kulitnya yang biasanya mung dadi sampah bisa dipakai buat membersihkan air sungai. Ini edukasi yang bagus banget agar anak-anak tidak sepele terhadap hal-hal kecil di sekitar mereka,” jelas Bu Parjiyem.

Karakterisasi Material: Bukti Ilmiah di Balik Inovasi
Ketua tim LamtoroNova, Najwa Rahma (K3323055), menjelaskan bahwa riset mereka tidak sekadar konsep, melainkan telah melalui serangkaian uji laboratorium yang valid dan terbukti berhasil. Penelitian ini telah menyelesaikan tahap karakterisasi material sekaligus uji performa adsorpsi amoksisilin secara langsung.
Analisis FTIR menunjukkan keberhasilan penggabungan gugus fungsi khas dari kitosan (–NH2, –OH), biochar kulit lamtoro, dan Fe3O4 dalam satu material komposit. Uji PSA mengonfirmasi ukuran partikel pada skala mikro, sementara analisis TGA membuktikan stabilitas termal material yang memadai untuk aplikasi pengolahan air di berbagai kondisi lingkungan.
“Kami telah melakukan uji adsorpsi amoksisilin secara langsung di laboratorium, dan hasilnya material komposit ini terbukti sangat efektif dan cepat dalam menyerap residu antibiotik tersebut dari air. Kami bersyukur performa material ini di lapangan terbukti nyata sesuai dengan hasil karakterisasi yang direncanakan,” ujar Najwa mantap.

Relevansi SDGs dan Kontribusi Pendidikan Sains
Dosen pembimbing tim, Dr. Budi Hastuti, S.Pd., M.Si., menyatakan bahwa kegiatan sosialisasi ini selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pemberian pengalaman belajar berbasis riset nyata yang aplikatif bagi siswa, serta SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui inovasi teknologi remediasi lingkungan untuk mengatasi polusi air.
Melalui program ini, mahasiswa Pendidikan Kimia FKIP UNS berhasil menjembatani hasil sains laboratorium langsung kepada generasi muda di sekolah. Dengan memperlihatkan bahwa limbah tanaman di sekitar rumah dapat menjadi solusi permasalahan lingkungan yang kompleks, tim LamtoroNova berharap siswa SMAN 1 Banyuduono terdorong untuk melihat sains bukan sekadar teori di buku teks, melainkan alat nyata untuk membuat perubahan.
Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan dan perkembangan penelitian tim LamtoroNova dapat diikuti melalui akun Instagram @lamtoronova.
Penulis : Tim LamtoroNova / Universitas Sebelas Maret
Editor : Anisa Putri









