Sleman, Krajan.id – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 233 Universitas Sebelas Maret (UNS) 2026 di Sumberharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman, melakukan pemberdayaan kelompok tani melalui inovasi alat tabur pupuk berbahan pipa PVC. Program tersebut diarahkan untuk membantu meningkatkan efisiensi proses pemupukan yang selama ini masih dilakukan secara manual menggunakan tangan.
Kegiatan dilaksanakan pada Jumat, (31/7/2026), melalui sosialisasi dan pelatihan kepada kelompok tani. Selain memperkenalkan fungsi dan manfaat alat, mahasiswa juga memberikan pelatihan mengenai cara pembuatan serta penggunaan alat tabur pupuk secara langsung.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN 233 UNS berhasil merancang dan membuat lima unit alat tabur pupuk berbahan pipa PVC. Bahan yang digunakan dipilih karena relatif mudah diperoleh, sementara mekanisme alat dibuat sederhana agar dapat digunakan masyarakat tanpa membutuhkan teknologi yang kompleks.
Program tersebut berangkat dari hasil observasi mahasiswa terhadap aktivitas pertanian masyarakat di Sumberharjo. Prambanan, Kabupaten Sleman, memiliki potensi pada sektor pertanian dan sebagian masyarakat menggantungkan aktivitas serta perekonomiannya pada kegiatan budidaya pertanian. Dalam aktivitas tersebut, kelompok tani menjadi salah satu unsur masyarakat yang secara rutin mengelola lahan pertanian.
Salah satu persoalan yang ditemukan adalah proses penaburan pupuk yang masih dilakukan menggunakan tangan. Cara tersebut dinilai membutuhkan waktu dan tenaga, terutama ketika pemupukan dilakukan pada lahan yang cukup luas. Selain persoalan efisiensi pekerjaan, metode manual juga berpotensi menyebabkan distribusi pupuk tidak merata.
Seorang petani yang diwawancarai mahasiswa mengatakan proses pemupukan secara manual cukup menyita tenaga dan waktu.
“Biasanya kami menabur pupuk masih menggunakan tangan, jadi cukup memakan waktu dan tenaga, apalagi kalau harus dilakukan di lahan yang cukup luas,” ujar petani tersebut dalam wawancara dengan mahasiswa.
Kondisi itu kemudian menjadi dasar mahasiswa untuk mengenalkan alternatif teknologi tepat guna yang dapat dibuat dan digunakan secara mandiri oleh masyarakat. Alat tabur pupuk berbahan pipa PVC dirancang dengan mekanisme sederhana sehingga diharapkan dapat membantu proses pemupukan tanpa mengharuskan petani menggunakan perangkat berteknologi kompleks.
“Melihat kondisi tersebut, kami berinisiatif membuat alat tabur pupuk sederhana dari pipa PVC. Alat ini diharapkan dapat membantu proses pemupukan agar lebih cepat, merata, dan mudah digunakan oleh petani,” kata mahasiswa dalam sesi wawancara tersebut.
Pelaksanaan program tidak hanya berfokus pada pemberian alat kepada kelompok tani. Mahasiswa juga menggunakan pendekatan praktik agar masyarakat memahami proses pembuatan sekaligus penggunaan alat. Dengan pendekatan tersebut, anggota kelompok tani memperoleh pengalaman langsung dalam mengoperasikan alat serta mengenali potensi pemanfaatannya dalam kegiatan pertanian.
Kegiatan ini diharapkan memberikan manfaat pada aspek efisiensi pemupukan. Penggunaan alat tabur pupuk ditujukan untuk membantu petani melakukan penaburan secara lebih cepat, merata, dan efisien. Di sisi lain, keterampilan membuat alat berbahan sederhana dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk melakukan pemeliharaan, perbaikan, maupun pengembangan alat sesuai kebutuhan di lapangan.

Keberlanjutan menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan program. Mahasiswa tidak hanya mengarahkan kegiatan pada penyelesaian persoalan pemupukan saat program berlangsung, tetapi juga mendorong kelompok tani agar mampu memanfaatkan inovasi tersebut secara berkelanjutan. Dengan keterampilan yang diperoleh, masyarakat diharapkan tidak bergantung sepenuhnya pada pihak luar apabila alat mengalami kerusakan atau membutuhkan penyesuaian.
Inovasi ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2: Zero Hunger (Tanpa Kelaparan) melalui dukungan terhadap produktivitas dan pertanian berkelanjutan. Program ini juga berkontribusi terhadap SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, melalui penerapan inovasi teknologi sederhana untuk menjawab permasalahan di sektor pertanian.
Selama pelaksanaan sosialisasi, pelatihan, dan praktik penggunaan alat, anggota kelompok tani menunjukkan respons positif. Antusiasme masyarakat menjadi bagian penting dalam penerapan inovasi karena keberhasilan teknologi tepat guna tidak hanya ditentukan oleh bentuk alat, tetapi juga oleh kemampuan pengguna dalam menerima dan memanfaatkannya sesuai kebutuhan.
KKN 233 UNS 2026 berharap lima unit alat yang telah dibuat dapat dimanfaatkan oleh kelompok tani sebagai salah satu alternatif dalam kegiatan pemupukan. Program tersebut juga diharapkan menjadi contoh pemanfaatan bahan sederhana untuk menghasilkan teknologi yang memiliki fungsi praktis bagi masyarakat.

Program KKN 233 UNS 2026 di Sumberharjo dilaksanakan oleh Alifian Syafiq Ashbar, Asyifa Hasna Muzakki, Dayana Lovin Raestian, Delta Sharla Kumaya Dewi, Diaz Putra Sagita, Fawzan Hatman Maqdhiyya, Frestia Deliana Putri, Gavin Athallah Danendra, Nafidza Shadrina, dan Rizky Putra Permana. Kegiatan tersebut berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Tetri Widiyani, S.Si., M.Si.
Melalui inovasi alat tabur pupuk berbahan pipa PVC, mahasiswa KKN 233 UNS berupaya menghubungkan kegiatan pengabdian dengan kebutuhan konkret masyarakat. Inovasi tersebut tidak diarahkan sebagai pengganti seluruh metode pemupukan yang telah digunakan petani, tetapi sebagai alternatif teknologi sederhana yang dapat dipelajari, dibuat, digunakan, dan dikembangkan oleh masyarakat sesuai kebutuhan pertanian di Sumberharjo.
Penulis : Fitri Handayani
Editor : Anisa Putri









