Dari Kafe Kembali ke Kampus: Memanfaatkan Ruang Belajar yang Sering Terlupakan

- Redaksi

Senin, 5 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini Nashwa Syarifa Kamila

Opini Nashwa Syarifa Kamila

Mengapa mahasiswa rela mengeluarkan uang untuk secangkir kopi hanya demi mendapatkan tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas, padahal mereka memiliki kampus?

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi menyimpan persoalan yang lebih besar. Di banyak tempat, kafe tidak lagi sekadar ruang untuk makan, berbincang, atau menghabiskan waktu bersama teman. Meja kafe berubah menjadi meja belajar. Laptop dibuka, tugas kuliah dikerjakan, referensi dicari, sementara segelas minuman menjadi teman selama berjam-jam.

Fenomena tersebut mudah dijumpai di kalangan mahasiswa. Kafe menawarkan suasana yang relatif santai, tidak terlalu formal, serta memberi jarak psikologis dari rutinitas perkuliahan. Bagi sebagian mahasiswa, perubahan suasana justru membantu mengembalikan konsentrasi setelah berjam-jam berada di ruang kelas.

Seorang mahasiswa yang saya wawancarai menyebut suasana kafe sebagai semacam “pancingan” untuk meningkatkan semangat mengerjakan tugas. Lingkungan yang lebih santai membuat pekerjaan terasa lebih ringan. Sebaliknya, suasana kampus yang terlalu formal terkadang justru menimbulkan tekanan karena identik dengan kegiatan perkuliahan, tugas, dan berbagai tuntutan akademik.

Pandangan tersebut tidak sepenuhnya sulit dipahami. Mahasiswa menghabiskan sebagian besar waktunya di kampus. Setelah mengikuti perkuliahan selama beberapa jam, kejenuhan dapat muncul. Berpindah tempat menjadi cara sederhana untuk menciptakan suasana baru. Bagi sebagian orang, perubahan lingkungan memang dapat membantu memulai kembali pekerjaan yang sebelumnya terasa berat.

Namun, persoalannya tidak berhenti pada soal suasana. Ada alasan lain yang membuat kafe dianggap lebih menarik, yakni fasilitas.

Seorang mahasiswa lainnya mengungkapkan bahwa sejumlah fasilitas di UIN masih memiliki keterbatasan. Salah satunya berkaitan dengan jam operasional perpustakaan. Koneksi Wi-Fi yang terkadang tidak stabil juga menjadi persoalan ketika mahasiswa membutuhkan internet untuk mencari referensi atau mengakses berbagai sumber pembelajaran.

Kendala semacam itu mungkin terlihat sepele bagi orang yang tidak sedang mengerjakan tugas. Bagi mahasiswa yang memiliki tenggat waktu, persoalannya berbeda. Ketika baru memiliki kesempatan mengerjakan tugas setelah seluruh kegiatan perkuliahan selesai, tetapi perpustakaan sudah tutup, pilihan ruang belajar menjadi semakin terbatas.

Begitu pula ketika tugas membutuhkan pencarian berbagai referensi melalui internet. Koneksi yang lambat atau tidak stabil dapat menghabiskan waktu dan mengganggu konsentrasi. Dalam situasi seperti itu, kafe menawarkan paket fasilitas yang relatif sederhana tetapi menarik: tempat duduk, koneksi internet, colokan listrik, serta keleluasaan untuk duduk lebih lama.

Karena itu, mahasiswa yang mengerjakan tugas di kafe tidak selalu sedang mencari tempat untuk nongkrong. Bisa jadi mereka sedang mencari tempat yang paling memungkinkan untuk menyelesaikan pekerjaan akademik.

Di sinilah persoalan mulai menarik untuk dilihat dari sudut pandang kampus. Jika mahasiswa merasa perlu membayar makanan atau minuman demi memperoleh tempat belajar yang nyaman, pertanyaannya bukan sekadar mengapa mereka memilih kafe. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kampus telah menyediakan alternatif yang sama memadai.

Tentu, kampus bukan kafe. Kampus memiliki fungsi akademik yang jauh lebih luas. Namun, ruang belajar di dalamnya semestinya mampu menjawab kebutuhan dasar mahasiswa. Perpustakaan, ruang baca, ruang diskusi, hingga area terbuka dapat menjadi bagian dari ekosistem belajar jika dikelola dengan baik.

Persoalannya, menyediakan ruangan saja tidak cukup.

Ruang belajar harus mudah diakses, nyaman digunakan, memiliki pencahayaan yang memadai, menyediakan colokan listrik, serta didukung koneksi internet yang dapat diandalkan. Jam operasional juga menjadi bagian penting. Fasilitas yang bagus tetapi tidak dapat digunakan ketika mahasiswa membutuhkannya pada dasarnya tetap memiliki keterbatasan fungsi.

Baca Juga :  Sinergi Fintech Syariah dan Ekonomi Kreatif: Jalan Baru Ekonomi Berkeadilan

Kampus juga perlu memahami bahwa kebutuhan belajar mahasiswa tidak selalu sama. Tidak semua mahasiswa dapat berkonsentrasi dalam ruang yang sangat formal dan sunyi. Sebagian membutuhkan ruang untuk berdiskusi. Sebagian lainnya lebih nyaman bekerja secara individual. Ada pula mahasiswa yang membutuhkan tempat untuk sekadar duduk dengan laptop selama beberapa jam tanpa harus berpindah-pindah.

Karena itu, konsep ruang belajar kampus seharusnya tidak berhenti pada model perpustakaan konvensional. Kampus dapat mengembangkan ruang belajar yang lebih fleksibel dengan membedakan area berdasarkan kebutuhan. Ada ruang tenang untuk membaca dan menulis, ruang diskusi untuk kerja kelompok, serta area belajar informal yang memungkinkan mahasiswa bekerja dengan suasana lebih santai.

Model seperti itu bukan berarti kampus harus mengubah ruang akademiknya menjadi kafe. Yang dibutuhkan adalah menghadirkan aspek kenyamanan yang membuat mahasiswa betah tanpa menghilangkan fungsi pendidikan.

Masalah lain yang patut diperhatikan adalah jam operasional. Jika mahasiswa memiliki kegiatan perkuliahan hingga sore, fasilitas belajar yang hanya tersedia sampai sore berpotensi tidak menjawab kebutuhan mereka. Kampus dapat mengevaluasi jam layanan perpustakaan dan ruang belajar, terutama pada periode ketika beban akademik mahasiswa meningkat, seperti menjelang ujian atau masa pengumpulan tugas.

Evaluasi tersebut tentu harus mempertimbangkan sumber daya, keamanan, biaya operasional, dan kebutuhan nyata mahasiswa. Tidak semua fasilitas harus dibuka sepanjang hari. Yang lebih penting adalah adanya perencanaan berdasarkan pola penggunaan yang jelas.

Kampus juga perlu mengetahui apakah fasilitas yang selama ini disediakan benar-benar digunakan. Jangan sampai ruang belajar tersedia, tetapi mahasiswa tidak mengetahuinya. Atau mahasiswa mengetahui keberadaannya, tetapi enggan menggunakan karena fasilitasnya tidak memadai.

Di titik ini, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab.

Fasilitas kampus tidak akan berkembang jika hanya menjadi objek keluhan. Mahasiswa perlu memanfaatkannya sekaligus memberikan umpan balik. Jika koneksi internet bermasalah, sampaikan melalui mekanisme yang tersedia. Jika jam operasional perpustakaan dianggap terlalu terbatas, berikan masukan yang disertai alasan dan kebutuhan yang jelas.

Dengan cara itu, keluhan dapat berubah menjadi data bagi pengelola kampus. Suara mahasiswa tidak berhenti sebagai percakapan di kantin atau media sosial, tetapi menjadi bagian dari evaluasi layanan pendidikan.

Namun, membicarakan persoalan ini bukan berarti harus memosisikan kafe sebagai lawan kampus. Kafe tetap memiliki tempat dalam kehidupan mahasiswa. Suasana yang berbeda dapat membantu sebagian orang menemukan kembali konsentrasi dan kreativitas. Selama dilakukan secara proporsional dan sesuai kemampuan finansial, belajar di kafe bukanlah persoalan.

Yang perlu dipertanyakan adalah ketika kafe menjadi pilihan utama bukan karena mahasiswa menginginkan suasana berbeda, melainkan karena mereka merasa tidak memiliki pilihan yang lebih baik di kampus.

Perbedaan ini penting. Jika mahasiswa sesekali memilih kafe karena ingin mengubah suasana, persoalannya bersifat personal. Tetapi jika mahasiswa terus-menerus keluar kampus karena tidak menemukan ruang belajar yang nyaman, masalah tersebut sudah menyentuh kualitas fasilitas akademik.

Kebiasaan mengerjakan tugas di kafe, dengan demikian, dapat dibaca sebagai semacam cermin. Ia memperlihatkan preferensi mahasiswa, tetapi sekaligus dapat menunjukkan celah dalam layanan kampus. Kampus perlu bertanya bukan hanya mengapa mahasiswa pergi, tetapi apa yang mereka cari ketika meninggalkan lingkungan akademiknya.

Baca Juga :  Ketika Orang Biasa Menjadi Korban Perubahan: Refleksi dari Sri Sumarah dan Bawuk

Jawabannya mungkin tidak rumit. Mereka mencari tempat yang nyaman, internet yang memadai, colokan listrik, ruang yang tidak terlalu kaku, dan waktu penggunaan yang sesuai dengan jadwal mereka.

Sebagian besar kebutuhan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang mustahil disediakan kampus.

Ada pula persoalan biaya yang tidak boleh diabaikan. Mengerjakan tugas di kafe berarti ada pengeluaran yang menyertai aktivitas belajar. Jika sekali kunjungan menghabiskan Rp20.000 hingga Rp30.000 dan dilakukan beberapa kali dalam sebulan, biaya tersebut dapat menjadi beban tersendiri bagi mahasiswa.

Uang yang dikeluarkan untuk minuman dan makanan di kafe tentu dapat digunakan untuk kebutuhan lain, termasuk buku, transportasi, pulsa, atau keperluan akademik. Karena itu, kafe sebaiknya menjadi pilihan tambahan, bukan satu-satunya ruang yang dianggap layak untuk belajar.

Kampus memiliki keunggulan yang tidak dimiliki kafe: mahasiswa tidak perlu membeli sesuatu agar dapat menggunakan ruang belajar yang menjadi bagian dari fasilitas pendidikan mereka.

Persoalannya sekarang adalah bagaimana keunggulan tersebut benar-benar dirasakan mahasiswa.

Kampus tidak cukup hanya memiliki gedung, perpustakaan, atau ruang baca. Fasilitas harus hidup karena digunakan. Ruang yang kosong karena tidak nyaman, sulit diakses, atau memiliki jam layanan yang tidak sesuai kebutuhan pada dasarnya belum sepenuhnya menjalankan fungsinya.

Karena itu, sudah waktunya ruang belajar kampus dipandang sebagai bagian dari pengalaman akademik, bukan sekadar fasilitas pelengkap. Kenyamanan belajar berhubungan dengan bagaimana mahasiswa mengatur waktu, berkonsentrasi, berdiskusi, menyelesaikan tugas, dan mengembangkan gagasan.

Mahasiswa pun perlu kembali melihat kampus sebagai lebih dari sekadar tempat menghadiri kuliah. Ada banyak ruang yang sebenarnya dapat dimanfaatkan sebelum mereka memutuskan mencari tempat lain. Perpustakaan, ruang diskusi, area baca, maupun ruang terbuka kampus dapat menjadi alternatif selama fasilitas tersebut tersedia dan dikelola dengan baik.

Mungkin sudah waktunya kita membalik pertanyaan. Bukan hanya mengapa mahasiswa senang mengerjakan tugas di kafe, tetapi mengapa kampus belum selalu menjadi tempat pertama yang mereka pikirkan ketika membutuhkan ruang untuk belajar.

Jika fasilitas kampus semakin nyaman, akses semakin mudah, koneksi internet semakin baik, dan mahasiswa ikut memanfaatkannya, pilihan belajar tidak lagi bergantung pada kemampuan membeli secangkir kopi.

Kampus seharusnya tidak sekadar menjadi tempat mahasiswa datang ketika ada jadwal kuliah. Ia juga perlu menjadi ruang tempat mahasiswa membaca, berdiskusi, menyusun tugas, bertukar gagasan, dan mengembangkan diri.

Jangan sampai mahasiswa lebih hafal kafe yang memiliki banyak colokan daripada ruang belajar yang tersedia di kampusnya sendiri. Sebab, ketika mahasiswa merasa lebih mudah menemukan ruang belajar di luar kampus daripada di dalamnya, yang perlu dievaluasi bukan hanya kebiasaan mahasiswa, tetapi juga cara kampus memahami kebutuhan mereka.

Kalau fasilitas kampus semakin nyaman, aksesnya semakin mudah, dan mahasiswa juga mau menggunakannya, mungkin kita tidak perlu selalu pergi jauh hanya untuk mencari tempat yang enak buat nugas. Cukup membawa laptop, mencari tempat yang nyaman, lalu menyelesaikan tugas di kampus sendiri.

Penulis : Nashwa Syarifa Kamila | UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Editor : Fadli Akbar

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswa Organisasi dan Seni Mengatur Waktu: Menjaga Keseimbangan antara Kuliah, Tanggung Jawab, dan Kehidupan Pribadi
Guru di Tengah Deras Arus Iptek dan Abu-Abunya Zaman yang Selalu Menjaga Hati dan Karakter Siswa dengan 7 Jurus Hebat
Gen Z di Ruang Publik Digital, Menjaga Partisipasi di Tengah Kendali Algoritma TikTok
Kesetaraan Gender dalam Olahraga, Mewujudkan Kesempatan yang Sama dari Lapangan hingga Podium
Belajar Berdamai dengan Diri melalui Evaluasi: Menelisik Medan Makna dalam Perspektif Semantik Makyun Subuki
Runtuhnya Dinding Kamus: Menilik Evolusi Bahasa Indonesia di Ruang Digital
Memilih Lingkaran Pertemanan, Kunci Keberhasilan Akademik Mahasiswa Perantau
Karier Guru yang Terhambat Mengancam Masa Depan Pendidikan Indonesia

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 22:36 WIB

Dari Kafe Kembali ke Kampus: Memanfaatkan Ruang Belajar yang Sering Terlupakan

Senin, 5 Oktober 2026 - 09:53 WIB

Mahasiswa Organisasi dan Seni Mengatur Waktu: Menjaga Keseimbangan antara Kuliah, Tanggung Jawab, dan Kehidupan Pribadi

Kamis, 30 Juli 2026 - 20:07 WIB

Guru di Tengah Deras Arus Iptek dan Abu-Abunya Zaman yang Selalu Menjaga Hati dan Karakter Siswa dengan 7 Jurus Hebat

Kamis, 23 Juli 2026 - 13:37 WIB

Gen Z di Ruang Publik Digital, Menjaga Partisipasi di Tengah Kendali Algoritma TikTok

Jumat, 17 Juli 2026 - 17:58 WIB

Kesetaraan Gender dalam Olahraga, Mewujudkan Kesempatan yang Sama dari Lapangan hingga Podium

Berita Terbaru