Mahasiswa KKN UNS 74 Dorong Pengendalian Hama Terpadu di Desa Gunungsari Magelang

- Redaksi

Senin, 9 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kelompok KKN UNS 74 bersama Kelompok Tani Desa Gunungsari. Foto: KKN 74 UNS

Kelompok KKN UNS 74 bersama Kelompok Tani Desa Gunungsari. Foto: KKN 74 UNS

Magelang, Sorotnesia.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 74 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berkolaborasi dengan kelompok tani di Desa Gunungsari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, untuk memperkenalkan pengendalian hama terpadu berbasis bahan alami. Program ini bertujuan mendorong praktik pertanian berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia.

Kegiatan tersebut difokuskan pada pemanfaatan bahan alami, salah satunya daun pepaya, sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama kutu-kutuan pada tanaman cabai. Selain itu, mahasiswa juga memperkenalkan penggunaan botol bekas sebagai perangkap sederhana untuk mengendalikan hama seperti kutu dan lalat buah yang kerap menyerang tanaman cabai.

Wildan Fajar, mahasiswa UNS yang terlibat dalam kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa pendekatan pengendalian hama terpadu dapat membantu menjaga kesehatan lingkungan pertanian tanpa bergantung pada bahan kimia secara terus-menerus.

Menurut dia, kegiatan ini juga bertujuan memperluas wawasan petani mengenai alternatif pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa ada berbagai cara mengendalikan hama selain menggunakan pestisida kimia. Harapannya, petani dapat memahami dampak penggunaan bahan kimia secara berlebihan terhadap lingkungan maupun kesehatan dalam jangka panjang,” ujar Wildan.

Baca Juga :  FIFA Ancam Coret Bahrain dari Kualifikasi Piala Dunia 2026 Jika Tolak Bermain di Indonesia

Dalam praktiknya, daun pepaya dimanfaatkan karena mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, dan enzim papain yang efektif menekan populasi hama. Senyawa tersebut bekerja dengan merusak sistem pernapasan dan pencernaan serangga sehingga hama tidak berkembang dengan cepat.

Keunggulan lain dari pestisida nabati berbahan daun pepaya adalah tidak meninggalkan residu berbahaya pada tanah maupun tanaman. Bahan ini juga relatif mudah diperoleh dan murah karena dapat memanfaatkan tanaman yang tersedia di sekitar lingkungan petani.

Kanang (38), warga Desa Gunungsari yang mewakili kelompok tani setempat, menyambut baik kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN UNS tersebut. Ia menilai penyuluhan dan praktik langsung yang diberikan mampu menambah pengetahuan petani mengenai cara pengendalian hama yang lebih aman.

“Petani mendapatkan ilmu baru dengan memanfaatkan daun pepaya sebagai pestisida. Dengan cara ini, petani tidak harus terus membeli bahan kimia untuk menyemprot hama,” kata Kanang.

Selain memperkenalkan pestisida nabati, mahasiswa juga mengenalkan penggunaan yellow trap atau pelikat kuning sebagai alat pengendali hama lalat buah pada tanaman cabai. Perangkap ini memanfaatkan warna kuning yang menarik perhatian serangga sehingga hama akan mendekat dan terperangkap pada permukaan yang telah dilapisi perekat.

Baca Juga :  Dari Limbah Jadi Peluang Ekonomi, Mahasiswa UNS Olah Daun Jati Jadi Teh Herbal

Metode sederhana ini dinilai cukup efektif untuk menekan populasi lalat buah yang kerap menyebabkan kerusakan pada buah cabai serta menurunkan kualitas hasil panen.

Parji (56), Wakil Ketua Kelompok Tani Desa Gunungsari, mengatakan penggunaan pelikat kuning memberikan manfaat nyata bagi petani. Ia mengaku tertarik untuk menerapkan metode tersebut secara lebih luas di lahan pertaniannya.

“Saya sangat berminat menggunakan pelikat kuning karena cabai tidak mudah terserang lalat buah. Dengan begitu, hasil panen bisa lebih terjaga dan harga jual tetap stabil,” ujar Parji.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UNS berharap semakin banyak petani mulai beralih ke metode pengendalian hama ramah lingkungan. Upaya tersebut dinilai penting untuk menciptakan keseimbangan antara produktivitas pertanian, kelestarian lingkungan, serta keberlanjutan ekonomi petani di masa depan.

Penulis : Mahasiswa KKN 74 UNS

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wujudkan Anak Desa Sehat dan Mandiri, PPK Ormawa BEM FKEP UNEJ Padukan Gerakan PHBS dengan Pelatihan Lilin Aromaterapi
Mahasiswa KKN UINSA Dampingi UMKM Desa Jabung Bangun Jejak Digital dan Perkuat Legalitas Usaha
Outbound di Kendal Tutup Rangkaian MATAMUDA MI Muhammadiyah 11 Jabung, Perkuat Kekompakan Siswa Baru
Mahasiswa KKN UIN Sunan Ampel Perkuat Branding Tiga UMKM Unggulan di Jambangan untuk Tingkatkan Daya Saing
960 Mahasiswa KKN MIT UIN Walisongo Diterima di Kabupaten Semarang, Siap Jalankan Pengabdian di 64 Posko
Mahasiswa UNS Teliti Empat Metode Ekstraksi Antosianin Buah Murbei untuk Dukung Pengembangan Bahan Bioaktif Bernilai Tinggi
Dari Laboratorium ke Ruang Kelas, Tim Teman Riset 1790 UNS Kenalkan Kimia Hijau lewat Riset Senyawa Antibakteri di SMA Al-Islam Surakarta
Kajian Tim JARPAK UNS Ungkap Posisi Strategis Desa Sumbung sebagai Penopang Ekonomi Wilayah Cepogo

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 21:46 WIB

Wujudkan Anak Desa Sehat dan Mandiri, PPK Ormawa BEM FKEP UNEJ Padukan Gerakan PHBS dengan Pelatihan Lilin Aromaterapi

Kamis, 30 Juli 2026 - 15:00 WIB

Mahasiswa KKN UINSA Dampingi UMKM Desa Jabung Bangun Jejak Digital dan Perkuat Legalitas Usaha

Minggu, 26 Juli 2026 - 21:13 WIB

Outbound di Kendal Tutup Rangkaian MATAMUDA MI Muhammadiyah 11 Jabung, Perkuat Kekompakan Siswa Baru

Minggu, 26 Juli 2026 - 15:25 WIB

Mahasiswa KKN UIN Sunan Ampel Perkuat Branding Tiga UMKM Unggulan di Jambangan untuk Tingkatkan Daya Saing

Jumat, 24 Juli 2026 - 12:53 WIB

960 Mahasiswa KKN MIT UIN Walisongo Diterima di Kabupaten Semarang, Siap Jalankan Pengabdian di 64 Posko

Berita Terbaru