Pilangrejo, Sorotnesia.com – Minyak jelantah dari aktivitas memasak sehari-hari selama ini masih dipandang sebagai limbah rumah tangga yang sudah tidak memiliki kegunaan. Di Desa Pilangrejo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, masyarakat umumnya mengumpulkan minyak bekas tersebut untuk kemudian dijual kepada pengepul.

Kondisi itu menjadi perhatian mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) yang tergabung dalam KKN Kelompok 54. Mereka mengenalkan alternatif pemanfaatan minyak jelantah dengan mengolahnya menjadi sabun cuci piring yang dapat digunakan kembali untuk kebutuhan rumah tangga.
Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui demonstrasi pembuatan sabun cuci piring dan diikuti lebih dari 20 ibu-ibu PKK Desa Pilangrejo. Selain memperoleh penjelasan mengenai pemanfaatan minyak jelantah, peserta juga dilibatkan secara langsung dalam tahapan pembuatan sabun.
Pendekatan praktik tersebut dilakukan agar masyarakat tidak hanya mengetahui bahwa minyak jelantah dapat diolah kembali, tetapi juga memahami prosesnya secara langsung. Peserta diberi kesempatan untuk mengikuti tahapan pembuatan dan berdiskusi mengenai bahan yang digunakan serta pemanfaatan produk yang dihasilkan.
Selama kegiatan berlangsung, peserta aktif menyampaikan pertanyaan. Pembahasan tidak hanya berkaitan dengan proses pembuatan sabun, tetapi juga kemungkinan penggunaannya untuk kebutuhan sehari-hari.
Ketua PKK Desa Pilangrejo menyambut baik kegiatan yang dilakukan mahasiswa UNS tersebut. Menurut dia, kegiatan itu memberikan alternatif bagi masyarakat dalam memanfaatkan minyak jelantah sebelum akhirnya menjadi limbah.
“Saya sangat senang sekali dengan adanya program ini karena memberikan dampak positif di desa. Minyak jelantah yang biasanya hanya dikumpulkan dan dijual dapat dimanfaatkan terlebih dahulu menjadi produk yang berguna sebelum dibuang,” ujarnya.
Dari proses demonstrasi tersebut, mahasiswa dan peserta berhasil menghasilkan sabun cuci piring dengan aroma yang wangi. Sabun yang dibuat juga disebut tidak meninggalkan bau minyak jelantah yang menyengat.
Bagi masyarakat, pemanfaatan tersebut memberikan pilihan lain dalam mengelola minyak bekas memasak. Jika sebelumnya minyak jelantah langsung dikumpulkan untuk dijual kepada pengepul, minyak tersebut kini diperkenalkan sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan menjadi produk rumah tangga.
Potensi tersebut juga membuka pembahasan lebih jauh mengenai nilai ekonomi limbah. Produk yang dihasilkan dalam kegiatan tidak hanya dapat digunakan sendiri, tetapi berpeluang dikembangkan menjadi ide usaha sederhana apabila dikelola secara berkelanjutan.
Meski demikian, kegiatan KKN tersebut tidak semata-mata diarahkan pada aspek ekonomi. Edukasi mengenai pengelolaan limbah rumah tangga menjadi bagian penting dari kegiatan karena masyarakat diperkenalkan pada cara melihat kembali barang yang sebelumnya dianggap sudah tidak berguna.
Pemanfaatan minyak jelantah menjadi sabun juga dikaitkan dengan dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN 54 UNS mendorong masyarakat Desa Pilangrejo untuk melihat minyak jelantah dari sudut pandang berbeda. Limbah yang selama ini hanya dikumpulkan dan dijual dapat terlebih dahulu dimanfaatkan menjadi produk yang berguna bagi rumah tangga.
Bagi masyarakat Desa Pilangrejo, pengalaman praktik itu menjadi salah satu pengenalan terhadap pengolahan limbah yang dapat dilakukan secara sederhana. Sementara dari sisi ekonomi, keterampilan tersebut memberikan gambaran mengenai kemungkinan mengembangkan limbah rumah tangga menjadi produk bernilai guna.
Penulis : Nicholas Ryan | Universitas Sebelas Maret
Editor : Intan Permata









