Bantul, Sorotnesia.com – Keterbatasan lahan menjadi salah satu kendala masyarakat dalam mengembangkan budidaya ikan dan tanaman pangan di lingkungan rumah. Kondisi tersebut mendorong Kelompok KKN 10 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengenalkan budidaya ikan dalam ember atau budikdamber kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Padukuhan Biro, Kalurahan Seloharjo, Kapanewon Pundong, Kabupaten Bantul.
Program tersebut menjadi bagian dari kegiatan KKN 10 UNS 2026 di Seloharjo. Edukasi ditujukan untuk memperkenalkan cara sederhana membudidayakan ikan lele sekaligus tanaman kangkung dalam satu wadah sehingga dapat diterapkan di lingkungan rumah dengan lahan terbatas.
Kegiatan berlangsung di rumah Bapak Dukuh Padukuhan Biro pada pukul 20.00 WIB dan diikuti ibu-ibu anggota KWT. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menjelaskan prinsip budikdamber sebagai bentuk akuaponik sederhana yang memadukan budidaya ikan dan tanaman.
Kelompok KKN 10 UNS yang terlibat dalam program tersebut terdiri atas Abid Naufal Wahyudi, Auliya Alfa Mufida, Azzaratul Iqma, Cahyo Bagus Prasetyo, Dinda Shafa Vania Putri, Hasna Mahira, Inna Mutmainnah, Nadia Deba Claradista, Revalia Ardani, dan Vivian Aileen Hersakenjtana. Kegiatan dilaksanakan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Fitria Roviqowati, S.P., M.P.
Cahyo selaku penanggung jawab program kerja menjelaskan tahapan pembuatan dan pemeliharaan budikdamber kepada peserta. Materi yang diberikan meliputi teknik perakitan, pemilihan bibit ikan dan tanaman, serta perawatan yang dapat dilakukan sehari-hari menggunakan peralatan sederhana.
Dalam sistem tersebut, ikan lele ditempatkan di dalam ember, sedangkan tanaman kangkung ditanam pada bagian atas wadah. Air dari media pemeliharaan ikan yang mengandung nutrisi kemudian dimanfaatkan untuk membantu pertumbuhan tanaman melalui sistem sumbu kain.
Selain mendapatkan penjelasan, peserta juga diberi kesempatan mempraktikkan secara langsung salah satu tahapan pembuatan budikdamber. Dengan didampingi mahasiswa KKN, ibu-ibu KWT mencoba melakukan penyemaian benih kangkung menggunakan rockwool sebagai media tanam sebelum nantinya ditempatkan pada netpot.

Praktik tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan edukasi karena peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga mengenal tahapan awal yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah.
Sebelum kegiatan dilaksanakan, Cahyo bersama anggota KKN terlebih dahulu melakukan uji coba pembuatan budikdamber. Uji coba dilakukan sekitar satu minggu sebelum edukasi dengan memanfaatkan galon bekas yang dipotong dan disesuaikan sebagai wadah budidaya.
Uji coba tersebut dilakukan untuk memastikan sistem dapat berjalan dengan baik. Bagi mahasiswa, proses itu sekaligus menjadi pengalaman awal sebelum teknik budikdamber diperkenalkan kepada anggota KWT.
Penggunaan ember maupun galon bekas membuat sistem budikdamber relatif mudah diterapkan pada lingkungan rumah yang memiliki keterbatasan ruang. Masyarakat tidak harus menyediakan lahan khusus untuk memulai budidaya ikan dan sayuran.
Selain menjadi sarana edukasi, program tersebut diarahkan untuk mendukung pemanfaatan lingkungan rumah sebagai sumber pangan. Ikan lele dan kangkung yang dibudidayakan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga ketika memasuki masa panen.
Ketua KWT Padukuhan Biro, Nastuti, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurut dia, keinginan untuk mengembangkan budidaya ikan di lingkungan KWT sebelumnya sudah ada. Namun, keterbatasan lahan dan pengetahuan mengenai teknik pembuatan serta perawatan menjadi kendala.
“Saya sangat senang dengan hadirnya program edukasi sistem akuaponik ini. Dulu saya pernah mengusulkan agar KWT mengembangkan budidaya ikan, namun terkendala karena belum ada lahan yang tersedia. Dengan sistem budikdamber ini, warga terutama ibu-ibu anggota KWT bisa mulai beternak ikan meski tidak memiliki lahan luas. Cukup dengan satu ember, kita sudah bisa memulai,” ujar Nastuti.
Setelah kegiatan edukasi, mahasiswa KKN menyerahkan unit budikdamber kepada KWT Padukuhan Biro. Sebanyak enam unit menggunakan ember dan satu unit menggunakan galon bekas yang telah disiapkan sebelumnya.
Unit-unit tersebut telah dilengkapi ikan lele dan tanaman kangkung yang sudah tumbuh. Penyerahan itu memungkinkan anggota KWT melanjutkan perawatan setelah kegiatan KKN selesai.

Ibu-ibu KWT Padukuhan Biro selanjutnya menjadi pengelola unit budikdamber tersebut. Perawatan dilakukan dengan melanjutkan pemeliharaan ikan lele dan tanaman kangkung hingga memasuki masa panen.
Keberadaan unit budikdamber juga membuka kemungkinan bagi KWT untuk mengembangkan kegiatan tersebut secara bertahap. Jika hasil budidaya dapat dipelihara dengan baik, ikan lele dan kangkung tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berpotensi menjadi sumber tambahan pendapatan.
Hasil panen dapat digunakan untuk konsumsi keluarga maupun dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Namun, pengembangan tersebut tetap bergantung pada kemampuan anggota KWT dalam merawat dan mengembangkan sistem budidaya secara berkelanjutan.
Program KKN 10 UNS tersebut diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan edukasi dan penyerahan unit selesai. Pengetahuan yang diberikan bersama sarana budidaya menjadi modal awal bagi anggota KWT Padukuhan Biro untuk melanjutkan praktik budikdamber secara mandiri.
Melalui pemanfaatan wadah sederhana, budidaya lele dan kangkung dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin menghasilkan pangan meski memiliki keterbatasan lahan. Bagi KWT Padukuhan Biro, program tersebut sekaligus menjadi langkah awal untuk mengembangkan kegiatan budidaya yang dapat dilakukan dari lingkungan rumah.
Penulis : Kelompok KKN 10 UNS Seloharjo
Editor : Anisa Putri









