KKN 241 UNS Dorong Warga Dukuh Sawo Jadikan Sedekah Sampah sebagai Kebiasaan

- Redaksi

Selasa, 8 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dokumetasi bersama setelah pelaksanaan program Sosialisasi, Edukasi, dan Pembentukan Kelompok Sedekah Sampah di Padukuhan Sawo, Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Dok. Pribadi/KKN 241 UNS)

Dokumetasi bersama setelah pelaksanaan program Sosialisasi, Edukasi, dan Pembentukan Kelompok Sedekah Sampah di Padukuhan Sawo, Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Dok. Pribadi/KKN 241 UNS)

Sleman, Sorotnesia.com – Upaya pengelolaan sampah di di Padukuhan Sawo, Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta diarahkan tidak sekadar pada penyediaan fasilitas, tetapi pada pembentukan kebiasaan warga. Kelompok KKN 241 Universitas Sebelas Maret (UNS) memperkenalkan program Sosialisasi, Edukasi, dan Pembentukan Kelompok Sedekah Sampah sebagai langkah awal mendorong masyarakat memilah sampah sejak dari rumah.

Program tersebut dilaksanakan pada 13 Agustus 2026 di Rumah Kepala/Ibu Dukuh Sawo. Kegiatan menghadirkan Leni Triastuti, ST. dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sebagai narasumber.

Kelompok KKN 241 turut menyediakan tong sampah umum khusus botol plastik. Fasilitas itu menjadi salah satu sarana awal untuk mendukung pemilahan dan pengumpulan sampah yang masih memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi.

Leni Triastuti, ST. dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) saat memarkan materi di Padukuhan Sawo, Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Dok. Pribadi/KKN 241 UNS)
Leni Triastuti, ST. dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) saat memarkan materi di Padukuhan Sawo, Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Dok. Pribadi/KKN 241 UNS)

Program tersebut berangkat dari kondisi pengelolaan sampah di Dukuh Sawo yang masih perlu diperkuat. Berdasarkan pengamatan kelompok KKN, sebagian warga masih memiliki kebiasaan membakar sampah. Di sisi lain, inisiatif pengelolaan sampah sebenarnya telah mulai tumbuh. Setidaknya terdapat dua RT yang sudah melaksanakan kegiatan sedekah sampah.

“Di Dukuh Sawo yang sering terlihat pengolahan sampah kebanyakan masih dibakar, tetapi ada dua RT yang sudah melaksanakan sedekah sampah,” ujar Rizqiana Wardahani.

Kondisi itu menjadi salah satu alasan kelompok KKN memilih botol plastik sebagai fokus awal pengumpulan. Jenis sampah tersebut relatif mudah ditemukan dalam aktivitas sehari-hari dan dapat dipilah dari sampah rumah tangga lainnya.

Melalui sosialisasi, warga diperkenalkan pada pentingnya memilah sampah dari sumbernya. Edukasi tidak hanya menekankan persoalan kebersihan lingkungan, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Respons warga terhadap kegiatan tersebut dinilai positif. Masyarakat mengikuti sosialisasi dengan antusias. Namun, pertanyaan yang muncul justru berkaitan dengan persoalan yang lebih penting, yakni bagaimana memastikan program tetap berjalan setelah kegiatan KKN selesai.

Baca Juga :  Atasi Genangan Air, Mahasiswa KKN UNS Kenalkan Biopori di Desa Gunungsari
Antusias peserta menyima materi yang disampaikan saat pelaksanaan program Sosialisasi, Edukasi, dan Pembentukan Kelompok Sedekah Sampah di Padukuhan Sawo, Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Dok. Pribadi/KKN 241 UNS)
Antusias peserta menyima materi yang disampaikan saat pelaksanaan program Sosialisasi, Edukasi, dan Pembentukan Kelompok Sedekah Sampah di Padukuhan Sawo, Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Dok. Pribadi/KKN 241 UNS)

“Responnya sangat antusias dan hanya ada satu pertanyaan tentang bagaimana program tersebut berjalan tanpa ada hambatan,” kata Rizqiana.

Pertanyaan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi kelompok KKN 241. Sebab, keberadaan mahasiswa hanya berlangsung selama masa KKN. Setelah mahasiswa meninggalkan Dukuh Sawo, keberlangsungan program akan bergantung pada kesediaan masyarakat untuk melanjutkan kegiatan secara mandiri.

“Kami takut jika warga tidak konsisten, tetapi di sana ada tangan bawah dari DLH yaitu P3K, jadi saya harap bisa menjaga keberlanjutannya,” ujarnya.

Kelompok KKN kemudian melihat perlunya penggerak lokal yang dapat menjaga kegiatan tetap berjalan. Ibu-ibu PKK di masing-masing RT diharapkan dapat mengambil peran tersebut sehingga kegiatan sedekah sampah tidak bergantung pada pendampingan mahasiswa.

Muhammad Yusuf mengatakan, pengelolaan sampah juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Sampah yang terkumpul dapat dijual dan hasilnya dimasukkan ke kas RT untuk mendukung kegiatan di lingkungan setempat.

“Ya, pasti kita mengharapkan ada manfaatnya dari sampah yang terkumpul. Misalnya hasil penjualan sampah terkumpul lalu masuk ke kas per RT dan hasil tersebut bisa digunakan untuk kegiatan RT,” ujar Muhammad Yusuf.

Menurut Yusuf, kesadaran warga mulai terlihat setelah pelaksanaan sosialisasi dan penyediaan fasilitas pengumpulan botol plastik. Meski demikian, kelompok KKN belum dapat mengukur perkembangan partisipasi masyarakat secara lebih jauh karena masa pelaksanaan KKN telah berakhir.

“Untuk saat ini partisipasi besar, warga sudah mulai sadar, tetapi kami belum mengetahui dikarenakan kita sudah selesai KKN,” katanya.

Selain persoalan konsistensi, keterlibatan warga dalam pembentukan kelompok sedekah sampah juga masih perlu diperkuat. Menurut Yusuf, fasilitas saja tidak cukup untuk menjamin keberlangsungan program. Diperlukan warga yang bersedia menjadi penggerak sekaligus dukungan dari pihak yang dapat mendampingi kegiatan.

Baca Juga :  Mahasiswa KKN UNTAG Surabaya Terapkan Mesin Slicer Pisang untuk Dukung UMKM Kurnia di Pacet

“Menurut kami yang terpenting dari warga sendiri yang bisa menggerakkan program tersebut lalu juga bisa dibantu dengan tangan bawah dari DLH yaitu P3K, yaitu Pak Singgih dan Bu Rika selaku P3K di Dukuh Sawo,” kata Muhammad Yusuf.

Dukungan tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan antara program yang diperkenalkan mahasiswa dan pelaksanaan pengelolaan sampah oleh masyarakat. Dengan demikian, kegiatan sedekah sampah dapat berkembang dari program sementara menjadi bagian dari aktivitas warga.

Program KKN 241 juga diarahkan untuk mendukung SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan. Namun, kelompok KKN menempatkan perubahan perilaku sebagai capaian yang tidak kalah penting dibandingkan perubahan kondisi lingkungan secara fisik.

“Perubahan yang ingin diwujudkan bukan hanya lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga terbentuknya kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah,” ujar Muhammad Yusuf.

Harapan tersebut menjadi penanda bahwa keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan selama kegiatan KKN. Keberhasilan justru bergantung pada kemampuan masyarakat mempertahankan kebiasaan memilah dan mengelola sampah setelah mahasiswa tidak lagi berada di Dukuh Sawo.

“Kami harap bukan sekadar program KKN, tapi bisa menjadi program kebiasaan di Dukuh Sawo bersama,” tuturnya.

Kelompok KKN 241 UNS terdiri atas Dyah Intan Maharani, Nurul Fadhillah, Rizqiana Wardahani, Nasya Falaqya Azzahra, Khrisna Putri Maharani, Dewi Mayasari, Fajarina Wahyu Rahmawati, Nawra Rahmafalah Dewandaru, Muhammad Yusuf Raihan, dan Dewangga Kusuma Tirta. Kelompok tersebut berada di bawah bimbingan DPL Dr. Tetri Widiyani, S.Si., M.Si.

Penulis : Wira Pratama

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Tetesan Tinta, Siswa SD Kradenan 01 Belajar Berani Menafsirkan dan Berkreasi
Inovasi Literasi Pagi: Mahasiswa Magang Kependidikan Terintegrasi UNTIDAR Hadirkan Bacaan Berbasis TKA di SMP N 1 Muntilan
Dari Rumah ke Rumah, KKN UNS 165 Petakan Kebutuhan UMKM Progowati
Siswa SDN 01 Sumberdem Kenali Potensi Bambu Kampung Deling melalui Kreasi Layang-Layang
Ibu PKK Desa Sumberdem Praktik Olah Cangkang Telur Menjadi Pupuk Organik
Siap Hadapi Keadaan Darurat, Pokdarwis dan Dewasa Muda Desa Sumberdem Belajar Pertolongan Pertama  
Sosialisasi Pemanfaatan Cangkang Telur sebagai Pupuk Organik melalui Literasi Lingkungan dan Pengelolaan Limbah berbasis Keterlibatan Masyarakat di Desa Sumberdem
Kreatif dengan Canva, Siswa SMP PGRI 03 Wonosari Belajar Promosikan Pariwisata Desa Sumberdem

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 11:37 WIB

KKN 241 UNS Dorong Warga Dukuh Sawo Jadikan Sedekah Sampah sebagai Kebiasaan

Senin, 7 September 2026 - 22:48 WIB

Dari Tetesan Tinta, Siswa SD Kradenan 01 Belajar Berani Menafsirkan dan Berkreasi

Senin, 7 September 2026 - 22:40 WIB

Inovasi Literasi Pagi: Mahasiswa Magang Kependidikan Terintegrasi UNTIDAR Hadirkan Bacaan Berbasis TKA di SMP N 1 Muntilan

Minggu, 6 September 2026 - 18:38 WIB

Dari Rumah ke Rumah, KKN UNS 165 Petakan Kebutuhan UMKM Progowati

Minggu, 6 September 2026 - 08:05 WIB

Ibu PKK Desa Sumberdem Praktik Olah Cangkang Telur Menjadi Pupuk Organik

Berita Terbaru