Sumberharjo, Krajan.id – Limbah cangkang telur yang selama ini kerap berakhir di tempat sampah diperkenalkan sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan di tingkat rumah tangga. Kelompok KKN 241 Universitas Sebelas Maret (UNS) mengajarkan ibu-ibu PKK Desa Sawo, Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, mengolah cangkang telur menjadi tepung untuk mendukung pemupukan tanaman.
Pelatihan yang digelar pada 30 Juli 2026 tersebut menyasar ibu-ibu PKK RT 04, RT 05, dan RT 06. Kegiatan tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga praktik pengolahan menggunakan peralatan yang relatif mudah ditemukan di rumah.
Anggota KKN UNS Kelompok 241, Nasya Falaqya Azzahra, mengatakan cangkang telur dipilih karena limbah tersebut umumnya langsung dibuang setelah telur digunakan. Padahal, cangkang masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali.
“Persoalan yang menjadi dasar kegiatan adalah masih adanya limbah rumah tangga berupa cangkang telur yang umumnya langsung dibuang setelah telur digunakan,” ujar Nasya.
Menurut Nasya, kelompok KKN tidak melakukan penghitungan khusus mengenai volume cangkang telur yang dihasilkan setiap rumah tangga sebelum pelatihan. Karena itu, kegiatan lebih diarahkan untuk memperkenalkan alternatif pengelolaan limbah sekaligus memberikan keterampilan yang dapat diterapkan masyarakat secara mandiri.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada kandungan cangkang telur, antara lain kalsium karbonat, fosfor, dan sejumlah mineral. Materi juga mencakup potensi pemanfaatan cangkang telur, manfaat tepung cangkang telur bagi tanaman, peralatan yang dibutuhkan, serta tahapan pengolahannya.
Peserta kemudian mempraktikkan langsung proses pembuatan tepung. Cangkang telur terlebih dahulu dikumpulkan dan dibersihkan, kemudian direbus. Setelah itu, cangkang dikeringkan sebelum dihaluskan menggunakan blender. Hasil penghalusan selanjutnya diayak hingga menjadi tepung dan disimpan untuk digunakan.
Kesederhanaan tahapan menjadi salah satu aspek yang membuat pengolahan tersebut dapat dilakukan di lingkungan rumah. Peralatan yang digunakan juga tidak memerlukan teknologi khusus.
“Tidak ada bagian tertentu sebagai tahapan yang paling sulit bagi ibu-ibu karena tahapan memang tergolong cukup simpel dan mudah,” kata Nasya.
Kemudahan tersebut mendapat respons positif dari peserta. Ibu-ibu PKK mengikuti praktik pembuatan tepung cangkang telur dengan antusias karena bahan dan alat yang dibutuhkan tersedia di lingkungan rumah.

“Respons ibu-ibu sangat antusias melihat cara membuat tepung kerabang ini, karena pembuatannya sangat simpel dan bisa dilakukan dengan bahan dan alat yang ada di rumah,” ujar Nasya.
Dalam kegiatan itu, tepung cangkang telur diperkenalkan sebagai salah satu bahan pendukung pemupukan tanaman. Pemanfaatannya diarahkan untuk membantu menyediakan mineral yang dibutuhkan tanaman serta mendukung kondisi media tanam, termasuk membantu menetralkan tanah yang terlalu asam.
Ketertarikan peserta tidak berhenti pada praktik selama pelatihan. Sejumlah peserta menyampaikan rencana untuk mengumpulkan dan mengolah cangkang telur secara mandiri setelah kegiatan selesai.
“Ada peserta yang menyampaikan akan mengumpulkan dan mengolah cangkang telurnya secara mandiri, dan digunakan untuk pakan ternaknya, bahkan ada yang akan digunakan untuk tanaman mereka seperti bunga anggrek,” kata Nasya.
Bagi KKN 241 UNS, respons tersebut menunjukkan bahwa materi yang diberikan mulai diterima dan dipahami masyarakat. Program tidak hanya diarahkan untuk mengenalkan manfaat cangkang telur, tetapi juga membangun kebiasaan baru dalam melihat limbah rumah tangga sebagai sesuatu yang masih dapat dimanfaatkan.
Nasya mengatakan keberlanjutan program sangat bergantung pada kemauan masyarakat untuk membiasakan pemilahan dan pengumpulan limbah sejak dari rumah.
“Keberlanjutan program sangat berkaitan dengan kemauan masyarakat untuk membiasakan pemilahan dan pengumpulan cangkang telur sejak dari rumah,” ujarnya.
Hal tersebut menjadi penting karena keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh pelaksanaan pelatihan selama mahasiswa berada di desa. Pengetahuan dan keterampilan yang diberikan diharapkan tetap digunakan masyarakat setelah masa pengabdian KKN berakhir.
Kegiatan pengolahan cangkang telur tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian edukasi lingkungan yang dilakukan KKN 241 UNS. Pada 13 Agustus 2026, kelompok tersebut melanjutkan kegiatan melalui program Sosialisasi, Edukasi, dan Pembentukan Kelompok Sedekah Sampah.
Program tersebut memperlihatkan upaya kelompok KKN untuk menghubungkan pengelolaan sampah dengan keterlibatan masyarakat. Cangkang telur menjadi salah satu contoh limbah rumah tangga yang dapat dipilah dan diolah sebelum dibuang.
Nasya mengatakan sebagian masyarakat Desa Sawo telah mulai memilah sampah rumah tangga secara mandiri. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi modal untuk memperluas praktik pengelolaan limbah, termasuk pemanfaatan cangkang telur.
“Sebagian masyarakat Desa Sawo sudah memilah sampah rumah tangga mereka sendiri, sehingga kolaborasi tersebut diharapkan akan memberikan perubahan untuk masyarakat Sawo dengan mengolah cangkang telurnya dan dimanfaatkan kembali,” ujarnya.

Dari sisi SDG 17 atau Partnerships for the Goals, kegiatan tersebut ditempatkan sebagai bentuk kemitraan antara mahasiswa dan masyarakat. Mahasiswa berperan memberikan edukasi serta keterampilan, sedangkan masyarakat menjadi pihak yang diharapkan dapat melanjutkan praktik tersebut secara mandiri.
“Program ini merupakan bentuk kemitraan berupa pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan desa,” kata Nasya.
Dengan pendekatan tersebut, pemanfaatan cangkang telur tidak semata-mata diposisikan sebagai kegiatan mengurangi sampah. Program KKN 241 UNS juga berupaya mendorong masyarakat memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar rumah untuk kebutuhan tanaman.
Kelompok KKN 241 UNS berharap praktik sederhana tersebut dapat terus dilakukan setelah program berakhir. Konsistensi dalam memilah dan mengumpulkan cangkang telur menjadi langkah awal agar limbah yang sebelumnya dibuang dapat dialihkan menjadi bahan yang masih memiliki manfaat.
Kelompok KKN 241 UNS terdiri atas Dyah Intan Maharani, Nurul Fadhillah, Rizqiana Wardahani, Nasya Falaqya Azzahra, Khrisna Putri Maharani, Dewi Mayasari, Fajarina Wahyu Rahmawati, Nawra Rahmafalah Dewandaru, Muhammad Yusuf Raihan, dan Dewangga Kusuma Tirta. Kelompok tersebut berada di bawah bimbingan DPL Dr. Tetri Widiyani, S.Si., M.Si.
Penulis : Wira Pratama
Editor : Intan Permata









