Jambu Kulon, Sorotnesia.com – Pemahaman orang tua menjadi salah satu perhatian dalam mendukung tumbuh kembang anak usia dini. Hal itu menjadi fokus kegiatan edukasi stimulasi sensorik dan motorik anak usia 0–3 tahun yang digelar Karyabhaga KKN UIN Walisongo Semarang Posko 51 di Posyandu Madya Raras, Desa Jambu Kulon, Senin (24/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–11.30 WIB tersebut diikuti sembilan anak usia 0–3 tahun bersama orang tua atau pendamping masing-masing. Sejumlah kader Posyandu Madya Raras juga turut mendampingi pelaksanaan kegiatan.
Berbeda dari kegiatan penyuluhan yang hanya berfokus pada penyampaian materi, mahasiswa KKN menggabungkan edukasi bagi orang tua dengan aktivitas bermain yang melibatkan anak secara langsung. Pendekatan tersebut memungkinkan orang tua melihat contoh stimulasi yang dapat dilakukan menggunakan bahan sederhana di lingkungan rumah.
Dalam kegiatan itu, orang tua diperkenalkan dengan pengertian sensorik dan motorik, perkembangan kemampuan anak berdasarkan tahapan usia, serta manfaat pemberian stimulasi yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak.
Kemampuan sensorik berkaitan dengan cara anak menerima dan merespons rangsangan melalui pancaindra, seperti melihat, mendengar, menyentuh, mencium, dan mengecap. Adapun kemampuan motorik berkaitan dengan kemampuan anak mengendalikan dan mengoordinasikan gerakan tubuh.
Kedua kemampuan tersebut merupakan bagian dari perkembangan anak yang perlu mendapat stimulasi secara tepat. Pemberian stimulasi juga tidak harus dilakukan melalui kegiatan yang kompleks atau menggunakan peralatan khusus.
Melalui kegiatan bermain yang sederhana, orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenali berbagai rangsangan sekaligus mengembangkan kemampuan geraknya. Aktivitas tersebut dapat dilakukan secara rutin dalam suasana menyenangkan agar anak tidak merasa tertekan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pertemuan pembuka dan perkenalan antara mahasiswa KKN, orang tua, anak-anak, serta kader Posyandu Madya Raras. Setelah itu, mahasiswa memberikan penjelasan mengenai pentingnya stimulasi sensorik dan motorik serta cara memberikan rangsangan yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak.

Materi disampaikan menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Dengan cara tersebut, orang tua tidak hanya memperoleh informasi mengenai perkembangan anak, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai aktivitas yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di rumah.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan permainan yang memberikan pengalaman sensorik kepada anak. Anak-anak diajak mengenali berbagai tekstur melalui bahan yang telah disiapkan. Mereka diberi kesempatan untuk menyentuh, merasakan, dan mengamati bahan tersebut dengan pendampingan mahasiswa KKN dan orang tua.

Sejumlah bahan yang digunakan antara lain jelly, biji chia seed, tepung maizena, dan tepung terigu. Masing-masing bahan memberikan pengalaman tekstur yang berbeda bagi anak.
Jelly memiliki permukaan lembut dan licin. Sementara itu, biji chia seed memberikan sensasi berbeda ketika disentuh. Tepung maizena dan tepung terigu memiliki tekstur lebih halus sehingga anak dapat mengenali perbedaan karakteristik bahan melalui indra peraba.
Aktivitas tersebut memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi bahan menggunakan tangan. Selain merangsang indra peraba, kegiatan juga menjadi ruang bagi anak untuk membangun rasa ingin tahu dan keberanian dalam berinteraksi dengan benda di sekitarnya.
Biskuit Regal turut digunakan sebagai salah satu objek yang dapat dikenali anak berdasarkan bentuk dan teksturnya. Anak-anak juga diajak bermain menggunakan mainan dinosaurus dan mobil-mobilan.
Dalam permainan tersebut, anak memegang, menggerakkan, dan memindahkan mainan. Aktivitas sederhana itu melibatkan gerakan tangan dan tubuh sehingga dapat menjadi bagian dari permainan yang memberikan stimulasi terhadap kemampuan motorik anak.
Anak-anak kemudian mengikuti aktivitas memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lainnya. Permainan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan masing-masing anak.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa KKN, orang tua, dan kader posyandu memberikan pendampingan. Anak-anak juga diberi keleluasaan untuk mengeksplorasi bahan yang tersedia sesuai dengan keberanian dan kemampuan mereka.
Pendampingan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan karena setiap anak memiliki respons yang berbeda terhadap rangsangan. Ada anak yang dapat langsung berinteraksi dengan bahan permainan, sementara anak lainnya membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
Melalui aktivitas tersebut, orang tua juga dapat mengamati secara langsung bagaimana anak merespons tekstur, benda, maupun permainan tertentu. Pengalaman tersebut diharapkan membantu orang tua memahami bahwa stimulasi tumbuh kembang anak dapat dimasukkan ke dalam aktivitas bermain sehari-hari.
Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa bahan sederhana yang tersedia di rumah dapat dimanfaatkan untuk menciptakan aktivitas bermain yang memberikan rangsangan bagi anak. Namun, penggunaan bahan tetap perlu memperhatikan keamanan, kebersihan, serta kenyamanan anak selama bermain.
Mahasiswa KKN Posko 51 berharap edukasi tersebut dapat membantu orang tua memahami pentingnya stimulasi tumbuh kembang anak dan mendorong keterlibatan keluarga dalam memberikan stimulasi secara berkelanjutan di rumah.
Bagi orang tua, keterlibatan dalam aktivitas bermain tidak hanya menjadi sarana memberikan stimulasi. Kegiatan tersebut juga dapat menjadi kesempatan untuk mengamati perkembangan kemampuan anak sekaligus membangun interaksi antara orang tua dan anak.
Dalam konteks kegiatan di Posyandu Madya Raras, mahasiswa KKN tidak hanya menyampaikan informasi secara teoritis. Orang tua juga memperoleh contoh aktivitas yang dapat diamati dan dipraktikkan kembali bersama anak.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk kontribusi mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Fokusnya tidak hanya pada pengenalan konsep sensorik dan motorik, tetapi juga pada bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam aktivitas sederhana di lingkungan keluarga.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan rangkuman dan pengulangan sejumlah poin penting mengenai stimulasi sensorik dan motorik. Orang tua kembali mendapatkan penjelasan mengenai aktivitas sederhana yang dapat dilakukan bersama anak di rumah.
Melalui kegiatan tersebut, orang tua diharapkan dapat menjadikan waktu bermain sebagai bagian dari proses stimulasi tumbuh kembang anak. Aktivitas sederhana yang dilakukan secara rutin, menyenangkan, dan disesuaikan dengan kemampuan anak dapat menjadi salah satu cara keluarga memberikan dukungan terhadap perkembangan anak usia dini.
Penulis : KKN 51 | UIN Walisongo Semarang
Editor : Intan Permata









