Eco-Enzyme dan Biomefertilizer: Inovasi Pertanian Berkelanjutan dari Mahasiswa Unair dan BIOME

- Redaksi

Minggu, 26 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Praktik perbanyakan Biomefertilizer bersama Prof. Drs. Agus Supriyanto, M.Kes. (doc. Pribadi)

Praktik perbanyakan Biomefertilizer bersama Prof. Drs. Agus Supriyanto, M.Kes. (doc. Pribadi)

Mahasiswa Unair menggelar penyuluhan eco-enzyme dan biomefertilizer di Desa Bening. Inovasi ini mendorong pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan melalui teknologi sederhana berbasis limbah organik. Program ini menyasar petani dan ibu rumah tangga sebagai peserta utama.

Mojokerto, Sorotnesia.com – Eco-enzyme dan biomefertilizer hadir sebagai solusi inovatif untuk mendukung pertanian berkelanjutan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Inisiatif ini diusung oleh mahasiswa KKN BBK 5 Universitas Airlangga (Unair) yang bekerja sama dengan BIOME dalam program penyuluhan bertajuk “Penyuluhan Eco-Enzyme dan Biomefertilizer”.

Acara ini berlangsung pada Minggu (19/1/2025), di Balai Dusun Bening, Desa Bening, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dengan menyasar petani dan ibu rumah tangga sebagai peserta utama.

Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Prof. Drs. Agus Supriyanto, M.Kes., perwakilan BIOME, dan Sulthan Abdillah, ketua tim KKN BBK 5 Unair Desa Bening.

Dalam sambutannya, Sulthan menekankan pentingnya penerapan teknologi ramah lingkungan seperti eco-enzyme dan biomefertilizer untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga ekosistem.

Baca Juga :  Senyum Ceria & Tangan Bersih! Mahasiswa KKN BBK 5 Unair Edukasi Hidup Sehat di SDN Kuripansari

Muhammad Adrian Wirakusumah dan Fidela Rachmadiani Azra, anggota tim KKN BBK 5 Unair, menjelaskan secara rinci tentang eco-enzyme. Mereka menyebutkan bahwa eco-enzyme adalah cairan fermentasi berbahan limbah organik yang memiliki berbagai manfaat, seperti sebagai pupuk organik, penghilang bau, dan pembersih alami. Proses pembuatannya melibatkan bahan sederhana, yaitu limbah organik, air, gula merah, dan wadah tertutup.

Dalam demonstrasi, takaran yang digunakan adalah 1 kg limbah organik, 3,3 liter air, dan 330 gram gula merah. Dengan penambahan tetes tebu, waktu fermentasi yang biasanya memakan waktu 1–3 bulan dapat dipangkas menjadi beberapa minggu saja.

“Dengan eco-enzyme, kita tidak hanya memanfaatkan limbah menjadi lebih berguna, tetapi juga membantu mengurangi pencemaran lingkungan,” ujar Fidela.

Penyuluhan Eco-Enzyme dan Biomefertilizer di Balai Dusun Bening. (doc. Pribadi)
Penyuluhan Eco-Enzyme dan Biomefertilizer di Balai Dusun Bening. (doc. Pribadi)

Prof. Drs. Agus Supriyanto, M.Kes. menjelaskan cara kerja biomefertilizer, pupuk hayati yang membantu meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman. Dalam demonstrasi, tetes tebu kembali digunakan sebagai bahan utama untuk mempercepat proses pembentukan biomefertilizer.

Baca Juga :  Ukir Pencapaian Prestasi Internasional, Esai Mahasiswa PBI FKIP Uhamka Lolos dalam Konferensi Internasional

Prof. Agus menambahkan, “Dengan biomefertilizer, petani bisa meningkatkan hasil panen secara signifikan, hemat biaya, dan tetap ramah lingkungan.”

Beliau juga menyebutkan manfaat lain dari eco-enzyme. “Selain untuk pertanian, eco-enzyme juga dapat menjadi solusi sederhana untuk mengatasi permasalahan toilet di desa. Cairan ini bisa membantu melancarkan aliran WC tanpa perlu biaya mahal,” jelas Prof. Agus.

Kegiatan ini mendapatkan respons positif dari peserta. Muhammad Adrian mengatakan, “Limbah organik seperti sisa sayuran layu dapat diolah menjadi eco-enzyme yang berguna, baik untuk pertanian maupun kebutuhan rumah tangga. Kami berharap pengetahuan ini dapat disebarkan lebih luas di masyarakat.”

Melalui program ini, mahasiswa KKN BBK 5 Unair berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat Desa Bening mengenai pentingnya penggunaan bahan alami untuk mendukung pertanian berkelanjutan sekaligus menjaga kesehatan lingkungan.

Mereka berharap inovasi ini tidak hanya diterapkan di Desa Bening, tetapi juga di daerah lain untuk menciptakan pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Penulis : Muhammad Adrian Wirakusumah / Program Studi Sistem Informasi / Universitas Airlangga

Editor : Faldi AKbar

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Laboratorium ke Ruang Kelas, Tim Teman Riset 1790 UNS Kenalkan Kimia Hijau lewat Riset Senyawa Antibakteri di SMA Al-Islam Surakarta
Kajian Tim JARPAK UNS Ungkap Posisi Strategis Desa Sumbung sebagai Penopang Ekonomi Wilayah Cepogo
Identitas dan Legalitas Usaha Jadi Kunci Penguatan UMKM Desa Sumbung, Warga Didorong Naik Kelas
Limbah Kulit Lamtoro Jadi Penangkap Antibiotik di Air, Mahasiswa UNS Edukasi Siswa SMAN 1 Banyuduono Lewat Riset Green Chemistry
Sorotan Kampus Berbasis Industri di Jakarta untuk Calon Mahasiswa
Limbah Serbuk Gergaji di Klaten Disulap Jadi Briket Arang, Mahasiswa UNS Dorong Peluang Usaha Berbasis Energi Terbarukan
Limbah Sekam Padi di Boyolali Disulap Jadi Media Tanam Jamur, Buka Peluang Usaha Baru bagi Warga Desa
FKIP UNS Dorong Transformasi Pembelajaran Digital di SD melalui Pelatihan Guru Cilacap Utara

Berita Terkait

Senin, 6 Juli 2026 - 13:02 WIB

Dari Laboratorium ke Ruang Kelas, Tim Teman Riset 1790 UNS Kenalkan Kimia Hijau lewat Riset Senyawa Antibakteri di SMA Al-Islam Surakarta

Sabtu, 4 Juli 2026 - 12:29 WIB

Kajian Tim JARPAK UNS Ungkap Posisi Strategis Desa Sumbung sebagai Penopang Ekonomi Wilayah Cepogo

Sabtu, 4 Juli 2026 - 11:59 WIB

Identitas dan Legalitas Usaha Jadi Kunci Penguatan UMKM Desa Sumbung, Warga Didorong Naik Kelas

Jumat, 3 Juli 2026 - 12:38 WIB

Limbah Kulit Lamtoro Jadi Penangkap Antibiotik di Air, Mahasiswa UNS Edukasi Siswa SMAN 1 Banyuduono Lewat Riset Green Chemistry

Kamis, 2 Juli 2026 - 10:14 WIB

Sorotan Kampus Berbasis Industri di Jakarta untuk Calon Mahasiswa

Berita Terbaru