Yogyakarta, Sorotnesia.com – Ketahanan pangan tidak selalu dimulai dari lahan pertanian yang luas. Kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia, mengatur kebutuhan, mencatat keuangan, serta memanfaatkan teknologi juga menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian pangan. Gagasan tersebut menjadi perhatian Kelompok KKN-PPM Reguler XLIX Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Kelompok 18 melalui program “Pertanian Terpadu: Ketahanan Pangan Mandiri” di Dusun Bono.
Program dengan slogan “Menumbuhkan Harapan, Memanen Kemandirian” itu dirancang sebagai ruang edukasi bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu Dusun Bono dan tamu undangan, untuk mengenal pengelolaan pertanian secara lebih terpadu. Materi yang diberikan tidak berhenti pada bagaimana menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menyentuh aspek penggunaan alat, perencanaan modal, keberlanjutan, pencatatan keuangan, serta pemanfaatan media digital.
Kepala Dusun Bono, Eko Budianto, menilai kegiatan tersebut memiliki manfaat yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Menurut dia, pemahaman yang diberikan mahasiswa dapat membantu warga mengurangi pengeluaran dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
“Menurut saya program kerja ini sangat membantu masyarakat, khususnya ibu-ibu, dalam memperkecil atau menghemat pengeluaran keseharian mereka dalam memenuhi kebutuhan pangan nantinya,” kata Eko.
Pernyataan tersebut menunjukkan salah satu sisi yang ingin dibangun melalui program KKN tersebut. Pertanian ditempatkan bukan hanya sebagai aktivitas menghasilkan komoditas, melainkan sebagai salah satu cara masyarakat mengelola kebutuhan pangan secara lebih efisien.
Dalam kegiatan itu, mahasiswa terlebih dahulu memberikan pemaparan mengenai konsep pertanian terpadu. Peserta diajak memahami bagaimana berbagai potensi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.
Penyampaian materi menggunakan presentasi dengan bahasa yang disesuaikan dengan kondisi audiens. Setelah pemaparan, mahasiswa melanjutkan kegiatan dengan demonstrasi pembuatan alat yang berkaitan dengan materi pertanian terpadu.
Demonstrasi tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat secara langsung penerapan materi yang sebelumnya disampaikan. Pendekatan ini membuat kegiatan tidak hanya berorientasi pada pemberian informasi, tetapi juga memberikan pengalaman kepada masyarakat mengenai kemungkinan penerapan konsep pertanian dalam kegiatan sehari-hari.
Salah satu hal yang membedakan program tersebut dari edukasi pertanian yang hanya berfokus pada produksi adalah adanya materi mengenai perencanaan modal dan keberlanjutan.
Mahasiswa memberikan gambaran bahwa sebuah kegiatan atau usaha pertanian membutuhkan perencanaan agar dapat berjalan secara berkelanjutan. Modal menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan sejak awal, termasuk bagaimana kegiatan tersebut dapat dipertahankan dan dikembangkan.
Pembahasan kemudian berlanjut pada pencatatan dan pengelolaan keuangan usaha. Peserta diperkenalkan pada pentingnya mengetahui pemasukan dan pengeluaran secara teratur.
Pencatatan keuangan diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh gambaran mengenai kondisi keuangan kegiatan atau usaha yang dijalankan. Dengan pencatatan yang lebih teratur, perencanaan juga dapat dilakukan berdasarkan kondisi keuangan yang diketahui.

Materi tersebut memperluas pemahaman mengenai pertanian terpadu. Jika produksi menjadi bagian awal, maka pengelolaan modal dan keuangan menjadi bagian yang mendukung keberlanjutan kegiatan.
Aspek lain yang diperkenalkan mahasiswa adalah pemanfaatan website. Kelompok KKN-PPM 18 UMBY mengenalkan website yang telah dibuat sebagai salah satu media pendukung informasi dan kegiatan pertanian.
Peserta tidak hanya diberi penjelasan mengenai manfaat dan fitur website. Mahasiswa juga mengajak audiens melakukan praktik secara langsung. Peserta didampingi untuk mengakses website dan mengenali fitur-fitur yang tersedia.
Penggunaan media digital tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan alternatif sarana informasi kepada masyarakat. Teknologi ditempatkan sebagai alat pendukung, bukan menggantikan aktivitas pertanian yang dilakukan masyarakat.
Setelah seluruh materi dan praktik selesai, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Peserta dapat menyampaikan pertanyaan mengenai pertanian terpadu, perencanaan modal, keberlanjutan, pengelolaan keuangan, hingga penggunaan website.
Ibu Umi Sitirohana, salah seorang peserta, mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berkesan. Ia menilai kesempatan memperoleh penjelasan langsung dari mahasiswa membuat peserta dapat memahami materi dengan lebih baik.
“Kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak KKN Dusun Bono sangat berkesan sekali, karena dengan adanya rasa ingin tahu kita yang tinggi kami dapat memperoleh pemahaman langsung dari anak-anak KKN. Untuk ke depannya saya ingin lebih tahu lagi dengan praktik langsung pembuatannya,” ujar Umi.
Keinginan Umi untuk memperoleh praktik lebih lanjut memperlihatkan adanya ketertarikan peserta terhadap aspek penerapan dari materi yang diberikan. Demonstrasi menjadi salah satu bagian yang membuat materi pertanian tidak berhenti pada penjelasan teoritis.
Ketua Kelompok KKN-PPM 18 UMBY, Renada Eliza, mengatakan program tersebut diharapkan dapat membantu warga menggunakan sumber daya secara lebih efisien.
“Dengan adanya program kerja kami ini harapannya warga lebih mampu dalam efisiensi lahan, air, dan lain-lain sehingga lebih hemat dalam membeli kebutuhan pangan seperti sayur dan lauk,” kata Renada.
Pernyataan Renada menjadi gambaran mengenai arah program yang dibawa mahasiswa. Efisiensi lahan dan air menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat memanfaatkan potensi yang tersedia. Ketika kebutuhan pangan tertentu dapat dipenuhi dari sumber daya yang ada, pengeluaran untuk membeli kebutuhan tersebut diharapkan dapat ditekan.
Program tersebut sekaligus memperkenalkan pemahaman bahwa ketahanan pangan berkaitan erat dengan kemampuan masyarakat mengelola sumber daya. Karena itu, mahasiswa tidak hanya membahas aspek pertanian, tetapi juga memasukkan unsur pengelolaan usaha dan pemanfaatan teknologi.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh KKN-PPM Reguler XLIX UMBY Kelompok 18 dengan pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Astri Fatwasari, M.Psi., Psikolog.
Anggota KKN-PPM 18 UMBY yang terlibat dalam kegiatan tersebut adalah Victorianus Febrini Yeremi Ndona Peco, Dewa Ayu Sri Natalia Wulandari, Novita R. Laode Mido, Chika Elenna Putri, Renada Eliza, Durrotun Nafisah, Nabila Cahaya Ramadhani Puteri, Desy Amilda Fitriyani, Kalvin Philipus Fasse, dan Wahyudi Syaputra.
Melalui program tersebut, mahasiswa membawa pendekatan yang menggabungkan pengetahuan pertanian dengan kemampuan mengelola kegiatan secara lebih terencana. Masyarakat dikenalkan pada konsep pertanian terpadu, penggunaan alat, perencanaan modal, keberlanjutan, pencatatan keuangan, hingga teknologi digital.

Bagi warga Dusun Bono, pendekatan tersebut memberikan perspektif bahwa pemenuhan kebutuhan pangan dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lahan dan air dapat dimanfaatkan secara lebih efisien, kegiatan dapat direncanakan, keuangan dapat dicatat, sementara teknologi dapat digunakan sebagai media pendukung.
Program “Pertanian Terpadu: Ketahanan Pangan Mandiri” akhirnya tidak hanya berbicara mengenai bagaimana masyarakat menghasilkan pangan, tetapi juga bagaimana potensi yang tersedia dikelola agar memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan.
Semangat “Menumbuhkan Harapan, Memanen Kemandirian” yang diusung Kelompok 18 UMBY tersebut diterjemahkan melalui rangkaian edukasi, demonstrasi, praktik, dan dialog dengan masyarakat. Seluruh rangkaian diarahkan pada satu gagasan utama, yakni memperkuat kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk mendukung kebutuhan pangan secara mandiri.
Penulis : Fitri Handayani
Editor : Anisa Putri









