Inovasi KKN UNTAG Surabaya Dorong Efisiensi Produksi UMKM Pisang di Pacet Mojokerto

- Redaksi

Rabu, 14 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim KKN Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menyerahkan mesin slicer pisang kepada pelaku UMKM Kurnia di Desa Bendungan Jati, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, sebagai upaya meningkatkan efisiensi produksi dan pemanfaatan bahan baku pisang secara optimal. Foto: Pribadi

Tim KKN Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menyerahkan mesin slicer pisang kepada pelaku UMKM Kurnia di Desa Bendungan Jati, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, sebagai upaya meningkatkan efisiensi produksi dan pemanfaatan bahan baku pisang secara optimal. Foto: Pribadi

Mojokerto, Sorotnesia.com – Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menghadirkan inovasi teknologi tepat guna berupa mesin pemotong pisang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Bendungan Jati, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Inovasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku pisang yang selama ini belum tergarap maksimal.

Program pengabdian masyarakat itu dilaksanakan oleh Tim KKN R11 Sub Kelompok 1 UNTAG Surabaya pada 7–18 Januari 2026 di UMKM Kurnia yang berlokasi di RT 003 Dusun Merak. Kegiatan berlangsung di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan, Dr. Tan Evan Tandiyono, S.E., S.Pd.K., M.PSDM.

Dalam keterangan tertulis yang disampaikan pada 14 Januari 2026, tim KKN menjelaskan bahwa pelaku UMKM pengolahan pisang di desa tersebut menghadapi persoalan klasik dalam proses produksi. Pemotongan pisang yang masih dilakukan secara manual menyebabkan irisan tidak seragam, sehingga berpengaruh pada kualitas produk akhir, baik sale pisang maupun keripik pisang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain berdampak pada mutu produk, proses manual juga menyita waktu dan tenaga kerja. Kondisi tersebut membuat peningkatan kapasitas produksi sulit dicapai. Di sisi lain, pisang hasil sortasi yang tidak memenuhi standar bahan baku sale kerap terbuang, padahal masih berpotensi diolah menjadi produk bernilai tambah.

Berangkat dari persoalan itu, tim KKN merancang mesin slicer pisang yang sederhana, terjangkau, dan mudah dioperasikan. Mesin ini dirancang agar dapat digunakan pelaku UMKM tanpa memerlukan keahlian teknis khusus. Alat tersebut mampu menghasilkan irisan pisang dengan ketebalan seragam dan mempercepat proses pemotongan secara signifikan.

Baca Juga :  Radya Nasywa Zahira, Mahasiswi UGM yang Terpilih Sebagai Delegasi Fully Funded SMI Youth Exchange 2025

Tim KKN yang terlibat dalam perancangan dan implementasi alat ini terdiri atas Kamalya Gavra Jacinda, Aloysius Lionel Moise, Odilia Taek, Shinta Rizki Oktaviani, dan Muhammad Ridho Fahreza. Selain menyerahkan mesin, mereka juga memberikan pendampingan intensif kepada pelaku usaha.

Pendampingan mencakup pelatihan pengoperasian alat, pengaturan ketebalan irisan, perawatan rutin, serta sosialisasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Langkah ini dilakukan untuk memastikan alat dapat digunakan secara berkelanjutan dan aman dalam aktivitas produksi harian.

Mahasiswa KKN Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya mendampingi pelaku UMKM Kurnia saat uji coba pengoperasian mesin slicer pisang di Desa Bendungan Jati, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, sebagai bagian dari upaya peningkatan efisiensi proses produksi olahan pisang. Foto: Pribadi
Mahasiswa KKN Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya mendampingi pelaku UMKM Kurnia saat uji coba pengoperasian mesin slicer pisang di Desa Bendungan Jati, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, sebagai bagian dari upaya peningkatan efisiensi proses produksi olahan pisang. Foto: Pribadi

“Kami tidak hanya menyerahkan alat, tetapi juga memastikan mitra memahami cara penggunaan dan perawatannya. Harapannya, mesin ini benar-benar membantu operasional usaha,” ujar salah satu perwakilan tim KKN dalam kegiatan tersebut.

Dosen pembimbing lapangan, Dr. Tan Evan Tandiyono, menilai inovasi berskala kecil seperti mesin slicer pisang dapat memberikan dampak signifikan bagi keberlangsungan UMKM desa. Menurut dia, peningkatan volume produksi tanpa mengorbankan kualitas merupakan kunci agar usaha kecil mampu bertahan dan berkembang.

“Inovasi teknologi tepat guna harus berangkat dari kebutuhan riil di lapangan. Pendekatan partisipatif seperti ini penting agar solusi yang diberikan tidak berhenti sebagai proyek sesaat,” kata Tan Evan.

Kegiatan pengabdian juga dilengkapi dengan sosialisasi pemasaran sederhana melalui media sosial. Tim KKN memperkenalkan strategi dasar promosi digital yang relevan dengan karakter UMKM desa, sebagai upaya memperluas jangkauan pasar produk olahan pisang.

Baca Juga :  Dari Limbah Jadi Peluang Ekonomi, Mahasiswa UNS Olah Daun Jati Jadi Teh Herbal

Pemilik UMKM Kurnia, Iwan, mengapresiasi kehadiran mahasiswa KKN dan inovasi yang dihasilkan. Ia menilai mesin slicer pisang tersebut sesuai dengan kebutuhan usahanya.

“Terima kasih sudah mendukung dari awal. Banyak ilmu dan informasi yang dibagikan. Alat yang diberikan bisa saya manfaatkan sebaik mungkin untuk usaha,” ujar Iwan.

Ia menambahkan, kehadiran mahasiswa juga membuka ruang berbagi pengetahuan dan peluang kerja sama ke depan. “Kami terbuka untuk terus belajar dan bekerja sama,” katanya.

Manfaat penggunaan mesin slicer pisang dirasakan secara langsung. Proses produksi menjadi lebih cepat dan rapi, penggunaan tenaga kerja lebih efisien, serta limbah pisang dapat dikurangi melalui pemanfaatan bahan sisa menjadi keripik pisang. Diversifikasi produk tersebut turut membuka peluang peningkatan pendapatan.

Pemerintah desa dan masyarakat setempat turut memberikan apresiasi terhadap program KKN tersebut. Inisiatif ini dinilai sebagai contoh sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mendukung penguatan ekonomi lokal berbasis potensi desa.

Pengalaman KKN UNTAG Surabaya di Desa Bendungan Jati menunjukkan bahwa teknologi tepat guna masih memiliki peran strategis dalam pengembangan UMKM pedesaan. Dengan pendekatan yang kontekstual dan berkelanjutan, inovasi sederhana dapat menjadi pendorong efisiensi, adaptasi usaha, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat desa.

Penulis : Kamalya Gavra Jacinda | Administrasi Negara | Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswa KKN UNTAG Surabaya Kembangkan Rapelan untuk Atasi Serangan Serangga di Peternakan Sapi Perah
Hilirisasi Ubi di Pacet, Mahasiswa KKN Dorong UMKM Desa Lepas dari Ketergantungan Pengepul
Resmikan 166 Sekolah Rakyat, Prabowo Sebut sebagai Terobosan Pengentasan Kemiskinan
Inovasi Briket dari Kotoran Sapi, Solusi Limbah Peternakan di Pringwulung
Inovasi Briket Kotoran Sapi di Pringwulung, Mojokerto
Konservasi Lahan melalui Pemanfaatan Lahan Marginal sebagai Apotek Hidup di Kelurahan Gerung Selatan Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat
Inovasi Briket Kotoran Sapi, Solusi Limbah dan Energi Alternatif di Dusun Pringwulung
Teknologi Briket Kotoran Sapi Dikembangkan Mahasiswa UNTAG di Pringwulung

Berita Terkait

Kamis, 15 Januari 2026 - 23:57 WIB

Mahasiswa KKN UNTAG Surabaya Kembangkan Rapelan untuk Atasi Serangan Serangga di Peternakan Sapi Perah

Kamis, 15 Januari 2026 - 22:54 WIB

Hilirisasi Ubi di Pacet, Mahasiswa KKN Dorong UMKM Desa Lepas dari Ketergantungan Pengepul

Kamis, 15 Januari 2026 - 06:34 WIB

Resmikan 166 Sekolah Rakyat, Prabowo Sebut sebagai Terobosan Pengentasan Kemiskinan

Rabu, 14 Januari 2026 - 18:45 WIB

Inovasi Briket dari Kotoran Sapi, Solusi Limbah Peternakan di Pringwulung

Rabu, 14 Januari 2026 - 18:30 WIB

Inovasi Briket Kotoran Sapi di Pringwulung, Mojokerto

Berita Terbaru