Sorotnesia.com – Di tengah padatnya permukiman Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta, sebuah ruang hijau tumbuh perlahan menjadi denyut kehidupan warga. Kebun Markisa Blunyahrejo, yang dahulu hanya berupa lahan kosong tak terurus, kini menjelma menjadi ruang publik yang hidup. Di tempat ini, tanaman rambat markisa berpadu dengan tawa anak-anak, alunan musik panggung warga, serta aroma makanan dari lapak UMKM yang menggoda selera.
Perubahan wajah Kebun Markisa tidak terjadi seketika. Inisiatif warga yang didukung pemerintah dan komunitas menjadi kunci utama. Dari kerja gotong royong itulah kawasan ini dikembangkan sebagai kebun edukatif berbasis komunitas. Tanaman markisa dipilih sebagai ikon, bukan sekadar karena bunganya yang indah, tetapi juga karena potensi buahnya yang dapat diolah dan memberi nilai ekonomi bagi warga sekitar.
Markisa tumbuh subur di sepanjang kebun, menjalar di para-para sederhana yang tertata rapi. Buahnya menjadi sumber inspirasi berbagai olahan, mulai dari jus segar, sirup, hingga camilan ringan. Dari kebun kecil inilah identitas Blunyahrejo dibangun, menjadikan markisa bukan hanya tanaman, tetapi simbol kemandirian dan kreativitas warga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih dari sekadar ruang hijau, Kebun Markisa dirancang sebagai tempat berjumpa dan belajar. Pengunjung dapat melihat langsung proses budidaya markisa, memahami cara perawatan tanaman, hingga mencicipi hasil olahannya di lokasi.
Konsep urban farming yang diusung membuat kebun ini menjadi sarana edukasi pertanian perkotaan yang ringan dan menyenangkan. Warga maupun pengunjung dari luar kampung dapat menikmati suasana rekreasi sambil menyerap pengetahuan praktis tentang pertanian skala kecil.
Di sudut kebun, sebuah panggung sederhana berdiri menghadap area terbuka. Panggung hiburan ini menjadi jantung aktivitas sosial warga. Setiap pekan atau pada momen tertentu, panggung tersebut diisi beragam pertunjukan. Musik akustik, tari tradisional, pembacaan puisi, hingga kegiatan keagamaan dan peringatan hari besar kerap digelar bergantian. Anak-anak muda dan komunitas seni menjadikan panggung ini sebagai ruang berekspresi, tempat mereka belajar tampil dan berani menunjukkan karya.

Kehadiran panggung hiburan memberi dampak yang lebih luas. Selain memperkuat identitas budaya kampung, aktivitas seni menjadi daya tarik yang mengundang pengunjung datang. Saat panggung mulai ramai, kawasan kebun pun ikut hidup. Orang-orang berkumpul, berbincang, dan menikmati suasana, menciptakan perputaran ekonomi yang mengalir ke lapak-lapak UMKM di sekitarnya.
Tak jauh dari panggung, deretan foodcourt warga menjadi magnet berikutnya. Lapak-lapak sederhana itu dikelola langsung oleh UMKM Blunyahrejo. Menu yang ditawarkan beragam, mulai dari olahan khas markisa seperti jus segar dan wedang hangat, hingga makanan rumahan yang akrab di lidah warga Yogyakarta. Mie ayam, bakso, sate, gorengan, dan jajanan pasar tersaji berdampingan, menciptakan suasana kuliner yang merakyat.
Foodcourt ini memberi ruang bagi pelaku UMKM untuk berkembang. Jika sebelumnya mereka hanya berjualan dari rumah ke rumah, kini produk mereka dikenal lebih luas. Interaksi langsung dengan pengunjung juga membuka ruang dialog. Penjual dan pembeli saling menyapa, bertukar cerita, dan membangun kedekatan yang jarang ditemui di pusat kuliner modern. Suasana kekeluargaan inilah yang membuat banyak pengunjung betah berlama-lama.
Keberadaan foodcourt turut berdampak pada kesejahteraan warga. Lapangan kerja tercipta, jaringan usaha menguat, dan inovasi produk terus bermunculan. Markisa yang semula hanya dijual sebagai buah segar, kini diolah menjadi berbagai varian produk bernilai tambah. Dari dapur-dapur sederhana, kreativitas warga tumbuh seiring meningkatnya kepercayaan diri pelaku UMKM.
Keunikan Kebun Markisa Blunyahrejo terletak pada sinergi yang terbangun. Edukasi pertanian, hiburan seni, dan aktivitas ekonomi berjalan beriringan. Setiap kegiatan melibatkan partisipasi aktif warga, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Kebun ini bukan sekadar destinasi wisata kampung, tetapi ruang bersama yang merekatkan solidaritas sosial.
Selain dampak ekonomi dan sosial, Kebun Markisa juga memberi manfaat ekologis. Ruang terbuka hijau ini menjadi paru-paru kecil di tengah permukiman padat. Anak-anak bermain dengan aman, remaja menyalurkan kreativitas, sementara orang tua mengisi waktu dengan berdagang atau mengikuti kegiatan komunitas. Semua berlangsung dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Kebun Markisa Blunyahrejo membuktikan bahwa ruang publik yang dikelola secara gotong royong mampu menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus pusat kehidupan sosial budaya. Panggung hiburan dan foodcourt UMKM menjadi dua pilar penting yang menghidupkan kawasan ini. Lebih dari sekadar kebun, Kebun Markisa adalah wajah ekonomi kreatif berbasis komunitas, tempat alam, budaya, dan usaha kecil berpadu dalam harmoni sehari-hari.
Penulis : Widiya Ayu Safitri | Prodi S1 Ekonomi | Universitas Amikom Yogyakarta
Editor : Anisa Putri









