Mojokerto, Sorotnesia.com – Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Dusun Keduk Banteng, Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pada Januari 2026. Program ini difokuskan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat desa melalui pengolahan pangan lokal berbasis ubi jalar.
Kegiatan KKN tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan akademik secara langsung di tengah masyarakat. Selain menjalankan kewajiban akademik, mahasiswa juga didorong untuk berperan aktif dalam membantu warga mengoptimalkan potensi lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Salah satu mahasiswa peserta KKN, Aanso Ferdiansyah, mengatakan bahwa KKN menjadi pengalaman penting dalam memahami dinamika pembangunan desa. Menurut dia, pengabdian kepada masyarakat tidak cukup hanya dengan menjalankan program kerja, tetapi juga membangun relasi sosial dan memahami kebutuhan warga secara nyata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Di desa, kami belajar bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kemampuan kami beradaptasi dengan kondisi sosial masyarakat dan membangun kepercayaan,” ujarnya.
Selama berada di Dusun Keduk Banteng, mahasiswa turut terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Mereka mengikuti kerja bakti lingkungan, membantu kegiatan desa, serta menjalin kolaborasi dengan perangkat desa dan kelompok warga. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai gotong royong dan kebersamaan sebagai fondasi kerja kolektif.
Keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas sosial ini sekaligus memperkuat semangat nasionalisme dalam konteks keseharian. Nilai patriotisme tidak diwujudkan melalui simbol formal, melainkan melalui praktik sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan, saling membantu, dan mendukung usaha ekonomi warga.
Dalam pelaksanaan KKN, mahasiswa UNTAG Surabaya terbagi ke dalam sejumlah subkelompok kerja. Aanso Ferdiansyah tergabung dalam Sub Kelompok 6 yang memfokuskan program pada pengolahan ubi jalar sebagai upaya peningkatan nilai tambah produk pertanian lokal.
Selama ini, ubi jalar di Dusun Keduk Banteng umumnya dijual dalam bentuk mentah kepada pengepul dengan harga relatif rendah. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa untuk merancang program yang dapat membantu masyarakat mengolah ubi menjadi produk pangan bernilai jual lebih tinggi.

Program diawali dengan observasi lapangan untuk memetakan potensi ubi jalar dan kebiasaan produksi masyarakat setempat. Setelah itu, mahasiswa melakukan sosialisasi kepada warga, khususnya ibu-ibu PKK, mengenai peluang ekonomi dari produk olahan berbasis ubi.
Kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan praktik pengolahan pangan. Mahasiswa memperkenalkan sejumlah produk olahan, antara lain stik ubi renyah, lumpia ubi manis, serta ubi cheese bread yang dinilai memiliki daya tarik bagi konsumen muda. Proses pelatihan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan warga secara langsung.
Selain mengajarkan teknik pengolahan, mahasiswa juga memberikan pendampingan terkait kebersihan pangan, pengemasan produk, serta dasar-dasar pemasaran sederhana. Pendekatan ini dilakukan agar warga tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga memahami aspek kualitas dan nilai jual produk.
Aanso menjelaskan bahwa tantangan utama di lapangan bukan terletak pada ketersediaan bahan baku, melainkan pada perubahan pola pikir masyarakat. Ubi selama ini dipandang sebagai bahan pangan sederhana dengan nilai ekonomi terbatas.
“Mengubah cara pandang itu tidak mudah. Kami harus pelan-pelan menjelaskan manfaat ekonomi dan memberi contoh nyata agar warga mau mencoba,” kata dia.
Pendekatan persuasif dan komunikatif menjadi kunci dalam menjalankan program. Mahasiswa menyesuaikan metode penyampaian dengan kebiasaan dan konteks sosial masyarakat desa. Tidak semua konsep yang umum di perkotaan dapat diterapkan secara langsung tanpa penyesuaian.
Melalui proses tersebut, mahasiswa memperoleh pembelajaran penting mengenai pengabdian masyarakat. Mereka menyadari bahwa program yang efektif harus berangkat dari kebutuhan warga dan dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat sebagai subjek, bukan sekadar penerima manfaat.
Pelaksanaan KKN ini memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa, baik dari sisi akademik maupun pengembangan karakter. Mahasiswa belajar bahwa pengembangan ekonomi desa tidak selalu membutuhkan modal besar atau teknologi canggih, tetapi dapat dimulai dari pengelolaan potensi lokal yang sederhana.
Mahasiswa juga menilai bahwa keberlanjutan program menjadi aspek penting. Oleh karena itu, dokumentasi kegiatan dan komunikasi dengan warga terus dilakukan agar program pengolahan ubi jalar dapat dilanjutkan setelah masa KKN berakhir.
“Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi pemicu lahirnya usaha kecil berbasis ubi jalar yang dikelola warga secara mandiri,” ujar Aanso.
Program KKN di Dusun Keduk Banteng diharapkan dapat menjadi contoh kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat desa dalam mendorong kemandirian ekonomi lokal. Bagi mahasiswa, pengalaman ini sekaligus menjadi bekal penting untuk menumbuhkan kepedulian sosial dan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.
Penulis : Aanso Ferdiansyah | Prodi Administrasi Negara | Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Editor : Intan Permata









