Klaten, Sorotnesia.com – Upaya membangun desa yang mandiri dan berkelanjutan ditunjukkan Kelompok 67 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) di Desa Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Melalui program bertajuk GALANTARA DESA (Galon Bekas Lestari untuk Tanaman Pangan dan Obat Keluarga), mahasiswa menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) dan pengurus Bank Sampah Tegalrejo untuk mengolah limbah galon air mineral sekali pakai menjadi produk bernilai guna dan bernilai jual.
Kegiatan pemberdayaan tersebut digelar pada 18 Januari 2026 di rumah salah satu perangkat desa. Program ini dirancang sebagai ruang transfer pengetahuan sekaligus praktik langsung, dengan tujuan memperkuat sinergi antara mahasiswa dan masyarakat dalam mengatasi persoalan sampah serta mendukung ketahanan pangan keluarga.
Program KKN tidak lagi diposisikan sekadar agenda pengabdian rutin. Di Kebondalem Lor, mahasiswa mencoba menghadirkan inovasi berbasis potensi lokal yang dapat terus berjalan setelah masa pengabdian berakhir. Pendekatan yang digunakan memadukan aspek lingkungan dan ekonomi kreatif.
Permasalahan utama yang diangkat adalah melimpahnya limbah galon air mineral sekali pakai di lingkungan warga. Selama ini, galon bekas tersebut umumnya dijual ke pengepul dengan harga rendah, bahkan kerap menumpuk dan berpotensi mencemari lingkungan. Kondisi itu dinilai tidak hanya berdampak pada kebersihan, tetapi juga pada estetika kawasan permukiman.
Dari persoalan tersebut, mahasiswa mengintegrasikannya dengan kebutuhan warga akan media tanam sederhana dan terjangkau. Hasilnya, lahirlah program GALANTARA DESA, yang berfokus pada pemanfaatan galon bekas sebagai pot tanaman pangan dan tanaman obat keluarga (TOGA).
Kegiatan dilaksanakan melalui sosialisasi dan pelatihan teknis. Warga diajak membersihkan, memotong, serta menghias galon bekas agar memiliki nilai estetika. Setelah itu, pot dimanfaatkan untuk menanam sayuran maupun tanaman obat yang dapat menunjang kebutuhan dapur rumah tangga.
Program ini tidak berhenti pada penyampaian materi. Mahasiswa menyediakan alat dan bahan agar peserta dapat langsung mempraktikkan teknik yang dipelajari. Dengan metode tersebut, keterampilan yang diberikan diharapkan benar-benar dikuasai dan dapat diterapkan secara mandiri.

Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Kelompok Bank Sampah Tegalrejo membuat pot kreasi dari limbah galon bekas dan menanam tanaman.
Foto: Tim KKN 67 Desa Kebondalem Lor, Prambanan, Klaten
Selama masa KKN, pendampingan dilakukan secara intensif. Mahasiswa turut terlibat dalam setiap tahap produksi, mulai dari proses pembersihan dan pemotongan galon hingga teknik pengecatan dan dekorasi. Pendekatan ini bertujuan menjaga kualitas produk sekaligus memastikan keberlanjutan program.
Seiring berjalannya waktu, KWT dan Bank Sampah Tegalrejo mulai menunjukkan kemandirian dalam produksi. Produk pot galon hasil olahan warga bahkan telah menerima pesanan dari masyarakat sekitar. Hal ini menandakan adanya respons positif sekaligus peluang ekonomi yang terbuka.
Ketua RT 20 Tegalrejo, Hariyanti, menilai program tersebut memberi dampak nyata bagi warga. Menurut dia, nilai jual galon bekas meningkat signifikan setelah diolah menjadi produk kreatif.
“Kami berterima kasih atas pendampingan dari adik-adik Kelompok 67 KKN UNS. Awalnya galon paling banter kami jual ke pengepul dengan harga murah. Galon yang biasanya hanya dihargai Rp1.000 per buah, setelah dibuat menjadi pot bisa dijual seharga Rp20.000 hingga Rp30.000,” ujar Hariyanti.
Kenaikan nilai jual tersebut memberi tambahan pendapatan bagi warga. Di sisi lain, kesadaran untuk memilah dan mengumpulkan sampah plastik juga meningkat karena masyarakat melihat adanya manfaat ekonomi langsung.
Program pemberdayaan masyarakat ini sekaligus membuka peluang pengembangan produk kreatif lain berbasis limbah rumah tangga. Bank Sampah Tegalrejo tidak lagi terbatas pada aktivitas pengumpulan dan penjualan sampah, tetapi mulai bergerak ke arah produksi barang bernilai tambah.

Kebondalem Lor, Prambanan, Klaten
Selain berdampak pada aspek ekonomi, program GALANTARA DESA turut menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Warga semakin memahami bahwa limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk bermanfaat. Kesadaran ini menjadi modal penting dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan di tingkat desa.
Keberhasilan inisiatif tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat desa mampu melahirkan solusi konkret. Dari limbah sederhana, tercipta produk yang tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga memperkuat ekonomi warga.
Ke depan, program GALANTARA DESA diharapkan terus berkembang dengan dukungan pemerintah desa dan kelembagaan lokal. Jika dikelola secara konsisten, model ini berpotensi menjadi rujukan pengelolaan sampah berbasis komunitas di wilayah lain.
Penulis : Tim KKN 67 UNS
Editor : Anisa Putri









