Mojokerto, Sorotnesia.com – Dusun Keduk Banteng, Desa Bendunganjati, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, dikenal sebagai salah satu sentra produksi ubi di wilayah lereng pegunungan. Tanahnya subur, hasil panennya melimpah. Namun, selama bertahun-tahun, kondisi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan petani setempat.
Sebagian besar petani di dusun ini masih menjual ubi dalam bentuk mentah kepada pengepul. Harga ditentukan sepihak oleh pasar dan pembeli besar, sementara petani berada pada posisi tawar yang lemah. Situasi ini membuat hasil panen kerap hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian, tanpa ruang bagi peningkatan ekonomi keluarga.
Kondisi tersebut mendorong kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya untuk menginisiasi program pemberdayaan berbasis hilirisasi produk pertanian. Melalui pelatihan pengolahan ubi menjadi makanan ringan, mahasiswa berupaya membuka alternatif ekonomi bagi warga agar tidak sepenuhnya bergantung pada pengepul.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Program bertajuk Pelatihan Olahan Ubi Mentah Menjadi Makanan Ringan ini menyasar kelompok ibu-ibu PKK yang mayoritas merupakan istri petani ubi. Kelompok ini dinilai memiliki peran strategis dalam pengelolaan ekonomi rumah tangga sekaligus potensi besar sebagai pelaku usaha mikro berbasis pangan lokal.
Mahasiswa KKN Muchammad Ridho Alfarizy mengatakan, ketergantungan pada sistem jual beli tradisional membuat petani rentan terhadap fluktuasi harga.
“Selama ini, ubi dijual apa adanya. Padahal, jika diolah, nilainya bisa meningkat berkali lipat,” ujarnya.
Untuk memastikan keberlanjutan program, mahasiswa menggandeng Kepala Dusun Keduk Banteng sebagai mitra utama. Keterlibatan perangkat dusun dinilai penting agar program tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan benar-benar menjawab kebutuhan warga.
Dalam sambutannya saat pembukaan pelatihan, Kepala Dusun Keduk Banteng menekankan pentingnya keterampilan mengolah hasil pertanian sendiri. Ia menyebut, potensi ubi di wilayahnya sangat besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kalau hanya dijual mentah, hasilnya habis untuk kebutuhan harian. Kalau diolah, bisa disisihkan untuk pendidikan anak dan kebutuhan jangka panjang,” ujarnya.
Kegiatan ini berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Tan Evan Tandiyono, S.E., S.Pd.K., M.PSDM., CHCM., CKWU. Ia menilai hilirisasi produk pertanian merupakan langkah penting untuk memperkuat ekonomi desa. Menurut dia, desa tidak boleh hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga harus mampu menghasilkan produk bernilai tambah.
Selain Muchammad Ridho Alfarizy, kegiatan ini melibatkan empat mahasiswa UNTAG Surabaya lainnya, yakni Atika Aflatus Najwa, Riyandhika Surya Kurniawan, Aanso Ferdiansyah, dan Adinda Nibros Zahira Fasya. Mereka merancang pelatihan yang aplikatif dan mudah diterapkan di dapur rumah tangga.
Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa memperkenalkan tiga produk olahan utama berbahan dasar ubi. Produk pertama adalah stik ubi crispy yang dirancang sebagai camilan kering dengan tekstur renyah dan masa simpan relatif panjang. Produk ini diproyeksikan sebagai oleh-oleh khas Pacet yang dapat dipasarkan ke luar daerah.
Produk kedua adalah lumpia ubi, yakni perpaduan ubi manis dengan kulit lumpia gurih. Makanan ini diposisikan sebagai camilan siap santap yang cocok dijual di pasar kaget, lapak UMKM, maupun kawasan wisata Pacet yang ramai dikunjungi wisatawan.
Sementara itu, produk ketiga adalah cheese bread ubi. Olahan ini menyasar segmen pasar yang lebih premium dengan memadukan ubi dan keju sebagai isian roti. Mahasiswa menilai produk ini memiliki potensi margin keuntungan lebih tinggi sekaligus membuktikan bahwa bahan pangan lokal dapat diolah menjadi produk bernilai modern.
Melalui contoh sederhana, mahasiswa menunjukkan perbedaan nilai ekonomi antara ubi mentah dan ubi olahan. Jika satu kilogram ubi mentah hanya dihargai beberapa ribu rupiah, jumlah yang sama dapat diolah menjadi beberapa kemasan camilan dengan nilai jual tiga hingga lima kali lipat lebih tinggi.
Selain keterampilan teknis, peserta juga dibekali pengetahuan dasar tentang pengemasan dan pemasaran. Mahasiswa menekankan pentingnya kemasan yang menarik sebagai identitas produk, sekaligus mengenalkan pemanfaatan media sosial dan aplikasi pesan singkat untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Mahasiswa KKN berharap pelatihan ini menjadi titik awal tumbuhnya usaha mandiri di Dusun Keduk Banteng. Mereka mendorong warga untuk membentuk kelompok usaha bersama di bawah naungan PKK agar produksi dan pemasaran dapat berjalan lebih berkelanjutan.
“Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti sebagai pelatihan satu hari. Harapannya, dusun ini ke depan tidak hanya dikenal sebagai penghasil ubi mentah, tetapi juga sebagai sentra olahan ubi,” ujar salah satu mahasiswa.
Dengan kolaborasi antara mahasiswa, perangkat dusun, dan kelompok PKK, program ini diharapkan menjadi langkah awal transformasi ekonomi desa. Peralihan dari penjual bahan mentah menjadi produsen olahan dinilai sebagai kunci untuk meningkatkan daya saing UMKM sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat Desa Bendunganjati.
Penulis : Muchammad Ridho Alfarizy | Prodi Ilmu Komunikasi | Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Editor : Fadli Akbar









