Ketika Hukum Tidak Berpihak pada Masyarakat Kecil

- Redaksi

Minggu, 26 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indonesia, negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia, semestinya menjadi contoh dalam menegakkan nilai keadilan sebagaimana diajarkan oleh agama. Namun, realitas di lapangan jauh dari harapan. Hukum yang seharusnya menjadi pelindung justru sering tampak tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Sebuah ironi yang terus mengusik nurani publik.

Pernah kita dengar, seorang warga kecil dijatuhi hukuman berat karena mencuri makanan untuk bertahan hidup, sementara koruptor yang merugikan negara hingga miliaran rupiah justru mendapat potongan hukuman atau fasilitas istimewa di penjara. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa hukum seolah lebih keras pada rakyat kecil dan begitu lunak pada mereka yang berkuasa?

Sistem hukum di Indonesia kerap kali tidak mampu berdiri tegak karena lemahnya integritas penegak hukum. Uang dan kekuasaan menjadi faktor penentu arah keadilan. Ketika koruptor bisa menyuap atau memanfaatkan celah hukum, rakyat kecil hanya bisa pasrah karena tak memiliki daya untuk melawan. Prinsip “semua orang sama di hadapan hukum” seolah menjadi kalimat hampa tanpa makna di hadapan kenyataan sosial.

Baca Juga :  Pembongkaran Makam, Luka bagi Kemanusiaan dan Akal Sehat

Padahal, hukum seharusnya netral dan tidak berpihak pada siapa pun. Namun, netralitas hukum tidak akan berarti apa-apa jika keadilan substantif justru dikalahkan oleh kepentingan dan transaksi di balik meja. Hukum tanpa nurani hanya akan menjadi alat untuk menindas yang lemah.

Sudah saatnya penegakan hukum di Indonesia dibenahi secara menyeluruh. Pengawasan terhadap aparat hukum harus diperketat agar mafia peradilan tidak lagi leluasa bermain. Proses hukum mesti dilakukan secara transparan, tidak bertele-tele, dan bebas dari intervensi kekuasaan. Hakim dan jaksa harus menegakkan hukum dengan hati nurani, bukan dengan kalkulasi politik atau keuntungan pribadi.

Baca Juga :  Ketika Sopir Pulang Tanpa Nyawa, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Selain itu, pendidikan dan kesadaran hukum masyarakat perlu diperkuat. Masyarakat harus memahami hak-haknya agar tidak mudah ditindas. Prinsip keadilan universal seperti kesetaraan, kejujuran, dan tanggung jawab harus menjadi dasar dalam setiap keputusan hukum.

Mewujudkan hukum yang adil bukanlah tugas satu pihak. Diperlukan komitmen kolektif dari pemerintah, lembaga hukum, dan masyarakat sipil untuk memastikan bahwa hukum benar-benar menjadi panglima, bukan alat kekuasaan. Hanya dengan begitu, keadilan sejati dapat dirasakan oleh seluruh rakyat, terutama mereka yang selama ini terpinggirkan.


Penulis : Selpi Rahmadani | UIN Raden Intan Lampung

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Candaan Menjadi Alat Penyebar Hoaks
Di Balik Bilik Plastik dan Stigma Publik: Beban Ganda dan Dilema Perempuan Berdaya
Hak atas Udara Bersih: Menuntut Ketegasan Kawasan Tanpa Rokok di Kampus
Dinamika Duka dan Apresiasi Penggemar: Dampak Keputusan Mark Lee terhadap Fandom NCTzen
Patriarki dalam Kehidupan Sehari-hari: Ketika Ketimpangan Gender Dianggap Normal
Karhutla: Ketika Masyarakat Membayar dengan Napas
Esensi Pendidikan Politik: Membangun Keadilan dan Kepentingan Umum di Era Digital
Media Sosial dan Opini Publik: Bagaimana Perhatian Masyarakat Memengaruhi Kebijakan Publik?

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 07:07 WIB

Ketika Candaan Menjadi Alat Penyebar Hoaks

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Di Balik Bilik Plastik dan Stigma Publik: Beban Ganda dan Dilema Perempuan Berdaya

Minggu, 25 Oktober 2026 - 08:57 WIB

Hak atas Udara Bersih: Menuntut Ketegasan Kawasan Tanpa Rokok di Kampus

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Dinamika Duka dan Apresiasi Penggemar: Dampak Keputusan Mark Lee terhadap Fandom NCTzen

Kamis, 22 Oktober 2026 - 22:28 WIB

Patriarki dalam Kehidupan Sehari-hari: Ketika Ketimpangan Gender Dianggap Normal

Berita Terbaru

Ilustrasi create by AI

Opini

Ketika Candaan Menjadi Alat Penyebar Hoaks

Selasa, 3 Nov 2026 - 07:07 WIB

Ilustrasi create by AI

Esai

Chat Tak Terbalas, Mengapa Kita Merasa Diabaikan?

Senin, 2 Nov 2026 - 22:04 WIB