Pengabdian Masyarakat Lewat Sekolah Lansia Tangguh, Upaya Tingkatkan Kualitas Hidup Lansia di Sukolilo Surabaya

- Redaksi

Kamis, 4 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peserta Program Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) berfoto bersama usai mengikuti kegiatan edukasi dan pemberdayaan lansia di Kecamatan Sukolilo, Surabaya, Sabtu (11/4/2026). Foto: Pribadi

Peserta Program Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) berfoto bersama usai mengikuti kegiatan edukasi dan pemberdayaan lansia di Kecamatan Sukolilo, Surabaya, Sabtu (11/4/2026). Foto: Pribadi

Surabaya, Sorotnesia.com – Indonesia tengah menghadapi perubahan demografis yang signifikan dengan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia). Fenomena yang dikenal sebagai ageing population ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah dan masyarakat dalam menyiapkan ekosistem yang mendukung kehidupan lansia agar tetap sehat, mandiri, dan produktif.

Berdasarkan data Sensus Penduduk Indonesia, jumlah lansia saat ini mencapai hampir 12 persen dari total populasi atau sekitar 29 juta jiwa. Angka tersebut diperkirakan meningkat hingga 20 persen pada 2045. Kondisi serupa juga terjadi di Kota Surabaya yang mencatat jumlah lansia sebanyak 351.957 orang dan terus mengalami peningkatan setiap tahun.

Meningkatnya populasi lansia memunculkan tantangan baru terkait pelayanan sosial, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Di sisi lain, kelompok usia lanjut juga memiliki potensi besar untuk tetap berkontribusi dalam kehidupan keluarga maupun lingkungan sosial apabila mendapatkan pendampingan dan fasilitas yang memadai.

Merujuk pada amanat Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, pemerintah memiliki tanggung jawab dalam memberikan pelayanan dan perlindungan sosial kepada lansia. Sebagai implementasi dari kebijakan tersebut, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya meluncurkan program Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) pada 2024.

Program ini dirancang sebagai pendidikan nonformal sepanjang hayat bagi kelompok pra-lansia dan lansia mandiri. Melalui Selantang, peserta dibekali pemahaman mengenai konsep SMART, yakni Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif, dan Bermartabat, yang diwujudkan melalui pemenuhan tujuh dimensi lansia tangguh.

Pelaksanaan program tersebut turut melibatkan berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi melalui skema Magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Salah satunya adalah Ratri Nur Fadila, mahasiswa magang yang bertugas mendampingi pelaksanaan Selantang di unit Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) Kecamatan Sukolilo, Surabaya, selama periode 9 Februari hingga 11 Mei 2026.

Baca Juga :  Mahasiswa KKN-T UNS Tingkatkan Literasi Siswa SDN 2 Sanggrahan Lewat Deskripsi Potensi Komoditas Unggulan Desa

Selama menjalani magang selama 90 hari kerja, Ratri terlibat langsung dalam berbagai aktivitas pendampingan dan edukasi kepada peserta lansia. Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata mengenai implementasi kebijakan publik di tingkat akar rumput melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan DP3APPKB, kader TP PKK, puskesmas, serta pemerintah kecamatan dan kelurahan.

“Selama 90 hari kerja, penulis menyaksikan bagaimana sebuah kebijakan publik di sektor kependudukan diimplementasikan secara nyata di akar rumput melalui sinergi lintas sektor yang melibatkan DP3APPKB, kader TP PKK, pihak puskesmas, serta jajaran kecamatan dan kelurahan,” tulis Ratri dalam laporannya.

Sebagai mahasiswa Administrasi Negara, keterlibatan di lapangan memberikan pemahaman mendalam mengenai pentingnya komunikasi kebijakan yang efektif. Dalam praktiknya, pendekatan kepada lansia tidak dapat dilakukan dengan metode komunikasi formal yang kaku. Sebaliknya, diperlukan penyampaian materi yang sederhana, humanis, dan mudah dipahami.

“Penggunaan media visual yang komunikatif dan ruang diskusi dua arah menjadi kunci utama agar materi kesehatan fisik, gizi, hingga kesehatan mental dapat dicerna dengan baik oleh para lansia yang memiliki daya tangkap beragam,” tulisnya.

Materi yang diberikan dalam kegiatan Selantang mencakup berbagai aspek kehidupan lansia, mulai dari kesehatan fisik, pola makan dan gizi, kesehatan mental, hubungan sosial, hingga penguatan peran lansia dalam keluarga dan masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup lansia secara menyeluruh.

Meski demikian, implementasi program di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan jumlah Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) yang harus menangani beberapa lokasi kegiatan secara bersamaan. Kondisi tersebut membuat pendampingan belum dapat dilakukan secara maksimal di seluruh titik pelaksanaan.

Baca Juga :  Pengajian Selapanan Mahasiswa KKN Posko 26 UIN Walisongo Semarang Berlangsung Khidmat dan Penuh Makna

Selain itu, perbedaan kondisi fisik dan kemampuan menerima materi di antara peserta juga menjadi tantangan tersendiri. Sebagian lansia memerlukan pendampingan yang lebih intensif agar dapat mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran dengan baik.

Tantangan lain yang ditemukan adalah fluktuasi tingkat kehadiran peserta. Tidak semua lansia dapat hadir secara konsisten dalam setiap pertemuan. Di samping itu, partisipasi lansia laki-laki masih relatif rendah dibandingkan lansia perempuan.

Temuan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara program untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan Selantang ke depan. Upaya yang dapat dilakukan antara lain memperluas sosialisasi kepada masyarakat, meningkatkan keterlibatan keluarga, serta mengembangkan materi pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan lansia masa kini.

Penguatan materi mengenai literasi keuangan dan literasi digital juga dinilai penting agar lansia mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan menjaga kemandirian ekonomi. Selain itu, dukungan anggaran untuk pelatihan ekonomi produktif perlu diperkuat melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta dan lembaga pendidikan.

Program Selantang di Kecamatan Sukolilo menunjukkan bahwa usia lanjut tidak harus identik dengan ketergantungan. Dengan pendampingan yang tepat, lansia tetap dapat menjadi individu yang aktif, produktif, dan berdaya.

Kolaborasi antara pemerintah, kader masyarakat, tenaga kesehatan, serta perguruan tinggi menjadi modal penting dalam membangun ekosistem lansia tangguh yang berkelanjutan. Kehadiran program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mempersiapkan masyarakat menghadapi era ageing population yang diperkirakan akan semakin nyata dalam dua dekade mendatang.

Melalui penguatan kapasitas lansia sejak dini, pemerintah tidak hanya meningkatkan kesejahteraan kelompok usia lanjut, tetapi juga membangun fondasi ketahanan keluarga dan ketahanan sosial yang lebih kuat di masa depan.

Penulis : Ratri Nur Fadila | Mahasiswi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kolaborasi Kelembagaan Jadi Ruang Belajar Mahasiswa Administrasi Negara Untag Surabaya
Tak Sekadar Urusan Istri, Suami di Wonocolo Surabaya Mulai Aktif Ikut Program KB
Diskusi Pancasila, UM Soroti Relevansi Trisakti di Tengah Dinamika Global
Dorong Pola Makan Sehat, Mahasiswa Departemen Pendidikan IPS UNY Dampingi Program GEBYUR
Dari Indonesia ke Singapura: Pengalaman Exchange Semester@NIE Mahasiswa Universitas Sebelas Maret di NIE/NTU Singapore
Kolaborasi UPITRA dan RS Mata Solo Dorong Integrasi Sistem Lewat Pelatihan API
Cegah Sejarah Desa Luntur, Mahasiswa KKN UNS Luncurkan Buku “Desa Geneng: Babat Alas dan Sejarah”
Tingkatkan Taraf Pendidikan di Lingkup Anak-Anak Sekolah Dasar, Mahasiswa KKN-T UNS Gelar Pelatihan dan Kompetisi Bahasa Inggris untuk Siswa SD di Desa Sanggrahan

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 16:00 WIB

Pengabdian Masyarakat Lewat Sekolah Lansia Tangguh, Upaya Tingkatkan Kualitas Hidup Lansia di Sukolilo Surabaya

Rabu, 3 Juni 2026 - 19:54 WIB

Kolaborasi Kelembagaan Jadi Ruang Belajar Mahasiswa Administrasi Negara Untag Surabaya

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:22 WIB

Tak Sekadar Urusan Istri, Suami di Wonocolo Surabaya Mulai Aktif Ikut Program KB

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:55 WIB

Diskusi Pancasila, UM Soroti Relevansi Trisakti di Tengah Dinamika Global

Minggu, 17 Mei 2026 - 19:55 WIB

Dorong Pola Makan Sehat, Mahasiswa Departemen Pendidikan IPS UNY Dampingi Program GEBYUR

Berita Terbaru