Olahraga pernah lama dipandang sebagai ruang yang lebih identik dengan laki-laki. Perempuan kerap diarahkan pada cabang olahraga yang dianggap lebih “sesuai”, memperoleh hadiah lebih kecil, serta menerima porsi pemberitaan yang terbatas. Kini, cara pandang tersebut mulai berubah. Kesetaraan gender dalam olahraga tidak lagi sekadar berbicara tentang hak untuk berpartisipasi, melainkan tentang akses, dukungan, dan penghargaan yang diberikan secara setara kepada setiap atlet.
Perubahan tersebut terlihat dari semakin terbukanya berbagai cabang olahraga bagi perempuan. Hampir seluruh nomor pertandingan di Olimpiade kini menyediakan kategori putra dan putri. Di Indonesia, perkembangan serupa tampak pada cabang sepak bola, tinju, angkat besi, hingga panjat tebing. Meski demikian, tantangan sesungguhnya masih berada di tingkat akar rumput. Tidak sedikit sekolah maupun klub olahraga yang masih memprioritaskan fasilitas, pelatih, jadwal latihan, dan beasiswa bagi tim putra. Padahal, kesempatan yang sama sejak usia dini menjadi fondasi penting untuk melahirkan atlet berprestasi tanpa dibatasi oleh stereotip gender.
Kesetaraan juga harus diwujudkan melalui kualitas dukungan yang diterima atlet. Program latihan, nutrisi, hingga pemulihan fisik bagi atlet perempuan memerlukan pendekatan yang mempertimbangkan kondisi fisiologis mereka. Karena itu, semakin banyak organisasi olahraga yang melibatkan tenaga medis dan pelatih dengan kompetensi khusus. Selain itu, ketersediaan ruang ganti yang layak, perlengkapan yang sesuai, jadwal kompetisi yang mendukung pendidikan, serta sistem perlindungan dari pelecehan menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan olahraga yang aman dan profesional.
Di sisi lain, kesenjangan masih terlihat dalam aspek penghargaan dan eksposur media. Nilai hadiah, kontrak sponsor, maupun hak siar di sejumlah cabang olahraga masih belum seimbang antara kompetisi putra dan putri. Final Piala Dunia Putri 2023, misalnya, berhasil menarik sekitar dua miliar penonton di berbagai platform. Namun, nilai komersial yang diterima masih tertinggal dibandingkan kompetisi putra. Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas pertandingan belum selalu diikuti dengan penghargaan ekonomi yang setara.
Media memiliki peran penting dalam mengubah keadaan tersebut. Liputan yang menitikberatkan pada strategi, statistik, dan prestasi atlet akan membangun apresiasi publik terhadap kemampuan mereka, bukan pada identitas gender ataupun kehidupan pribadinya. Semakin besar perhatian publik, semakin besar pula peluang hadirnya sponsor dan investasi bagi perkembangan olahraga perempuan.
Tantangan lain datang dari budaya dan stereotip yang masih melekat di masyarakat. Anggapan bahwa cabang olahraga tertentu hanya cocok untuk laki-laki atau perempuan sering kali membuat banyak talenta berhenti sebelum berkembang. Kehadiran figur seperti Eko Yuli Irawan dan Windy Cantika Aisah, yang sama-sama mengharumkan nama Indonesia melalui prestasi internasional, membuktikan bahwa keberhasilan dalam olahraga ditentukan oleh disiplin, kerja keras, dan dedikasi, bukan oleh gender.
Ke depan, upaya mewujudkan kesetaraan perlu diperkuat melalui kebijakan yang lebih inklusif, peningkatan riset mengenai kebutuhan atlet perempuan, serta pemberian ruang yang lebih luas bagi kisah-kisah inspiratif dari berbagai latar belakang. Ketika sistem pembinaan, dukungan, dan penghargaan dibangun secara adil, olahraga akan menjadi ruang yang benar-benar memberikan kesempatan yang sama bagi setiap individu untuk meraih prestasi. Di atas lapangan maupun di podium, yang seharusnya menjadi penentu hanyalah kemampuan, kerja keras, dan semangat untuk terus berkembang.
Penulis : Muhammad Rasya Ramadhan
Editor : Anisa Putri









