Pacitan, Sorotnesia.com – Kabupaten Pacitan kembali berduka setelah diguncang gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,4 pada awal Februari 2026. Peristiwa tersebut menegaskan kembali tingginya risiko bencana alam di wilayah pesisir selatan Jawa Timur yang memiliki karakteristik geografis perbukitan dan lereng curam.
Merespons kondisi itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 101 dari Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar program edukasi kebencanaan bagi siswa sekolah dasar di Desa Gembuk, Kecamatan Kebonagung, Pacitan. Program bertajuk “Sosialisasi dan Simulasi Mitigasi Bencana Tanah Longsor dan Gempa Bumi” ini dilaksanakan pada 19 Januari, 21 Januari, dan 23 Januari 2026.
Kegiatan difokuskan pada siswa Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang dinilai sebagai kelompok rentan saat terjadi bencana. Edukasi diberikan melalui pendekatan interaktif, mulai dari pengenalan tanda-tanda awal longsor hingga praktik evakuasi mandiri.
Mahasiswa KKN menjelaskan langkah-langkah mitigasi bencana sebelum, saat, dan setelah gempa maupun longsor. Siswa diajarkan mengenali suara gemuruh dari tebing, munculnya retakan tanah, serta perubahan kondisi lingkungan sebagai indikator awal potensi longsor. Mereka juga dilatih untuk menjauhi area lereng dan mencari tempat terbuka ketika terjadi gempa.
Pelaksana kegiatan, Zulfa Nadifah, mengatakan simulasi dilakukan secara langsung di halaman sekolah agar siswa terbiasa merespons situasi darurat. “Kami ingin anak-anak tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kesiapan fisik dan mental ketika bencana benar-benar terjadi,” ujarnya.
Antusiasme siswa terlihat saat mengikuti instruksi evakuasi. Mereka berbaris menuju titik aman yang telah ditentukan, sembari tetap menjaga ketertiban. Pendekatan praktik ini dinilai penting mengingat topografi Desa Gembuk yang didominasi lereng dan berpotensi terjadi tanah longsor, terutama saat curah hujan tinggi.
Program tersebut berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Djoko Nugroho, S.Pd., M.Or. Menurut tim KKN, kegiatan ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 11 tentang kota dan komunitas berkelanjutan serta poin 13 tentang penanganan perubahan iklim. Edukasi kebencanaan dipandang sebagai langkah penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko hidrometeorologi.
Selain simulasi, kegiatan juga diisi dengan sesi diskusi dan pembagian materi visual mengenai prosedur pascabencana. Siswa diingatkan untuk tidak kembali ke area longsoran, menghindari bangunan yang retak, serta segera melaporkan kondisi darurat kepada perangkat desa atau pihak berwenang.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa, sekolah, dan pemerintah desa, program ini diharapkan dapat menumbuhkan budaya kesiapsiagaan bencana sejak dini. Edukasi tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat yang tinggal di kawasan rawan.
Upaya preventif seperti ini dinilai penting untuk meminimalkan risiko korban jiwa, terutama di wilayah seperti Pacitan yang kerap menghadapi ancaman gempa dan longsor. Dengan peningkatan literasi kebencanaan di tingkat sekolah dasar, generasi muda diharapkan lebih tangguh dalam menghadapi situasi darurat di masa mendatang.
Penulis : Zulfa Nadifah (KKN Kelompok 101 UNS)
Editor : Anisa Putri









