Mahasiswa PGSD UNISRI Hidupkan Kearifan Lokal Lewat Eksperimen Motif Batik di SD Negeri 1 Sorogaten

- Redaksi

Rabu, 13 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa KKN PPM UNISRI Kelompok 97 membimbing siswa kelas V SD Negeri 1 Sorogaten, Klaten, dalam praktik eksperimen pewarnaan motif batik menggunakan larutan asam dan basa sebagai bagian dari pembelajaran P5 bertema Kearifan Lokal. Foto: pribadi

Mahasiswa KKN PPM UNISRI Kelompok 97 membimbing siswa kelas V SD Negeri 1 Sorogaten, Klaten, dalam praktik eksperimen pewarnaan motif batik menggunakan larutan asam dan basa sebagai bagian dari pembelajaran P5 bertema Kearifan Lokal. Foto: pribadi

Klaten, Sorotnesia.com – Upaya melestarikan warisan budaya tak selalu harus dilakukan lewat metode konvensional. Mahasiswa Kelompok 97 KKN PPM Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta berhasil memadukan nilai kearifan lokal dengan pendekatan pembelajaran sains sederhana.

Melalui program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) bertema “Kearifan Lokal”, mereka mengajak siswa kelas V SD Negeri 1 Sorogaten, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, mengenal ragam motif batik sekaligus bereksperimen dengan pewarnaan menggunakan larutan asam dan basa.

Program ini merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi di bidang pengabdian masyarakat. Rofi’ Hani Hangganingtyas, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNISRI, menjadi penggagas utama kegiatan. Ia menekankan pentingnya mengenalkan batik, tidak hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai identitas budaya bangsa.

“Banyak siswa Sekolah Dasar yang belum mengenal nama-nama motif batik dan asal daerahnya. Padahal, pengetahuan ini penting agar mereka bisa menghargai dan melestarikan budaya sendiri,” jelas Rofi’.

Rofi’ Hani Hangganingtyas saat mengenalkan motif dan asal batik. Foto: pribadi
Rofi’ Hani Hangganingtyas saat mengenalkan motif dan asal batik. Foto: pribadi

Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 30 Juli 2025 ini diawali dengan pengenalan sepuluh motif batik dari berbagai daerah di Indonesia. Siswa tidak hanya diberi informasi tentang pengertian batik, cara pembuatannya, dan sejarah Hari Batik, tetapi juga diajak memahami momen yang tepat untuk mengenakan batik dalam berbagai acara.

Baca Juga :  Mahasiswa KKN UNS Kelompok 297 Perkuat Budaya Literasi dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Segorogunung

Setelah sesi teori, siswa diajak masuk ke bagian paling menarik: praktik eksperimen pewarnaan motif batik dengan larutan asam dan basa. Proses ini memanfaatkan bahan-bahan sederhana seperti kertas, sketsa 10 motif batik, cuttonbud, cup plastik kecil, kunyit bubuk, deterjen bubuk, cairan cuka, air mineral, dan kapas.

Berbagai macam motif batik yang dikenal oleh Rofi’ Hani Hangganingtyas kepada para siswa. Foto: pribadi
Berbagai macam motif batik yang dikenal oleh Rofi’ Hani Hangganingtyas kepada para siswa. Foto: pribadi

Eksperimen dilakukan dengan beberapa langkah:

  1. Memilih motif batik yang diinginkan.
  2. Menyiapkan larutan basa – campuran kunyit dan air pada satu wadah, serta campuran deterjen dan air pada wadah lain.
  3. Menyiapkan larutan asam dengan menuangkan cuka ke wadah terpisah.
  4. Mengoleskan larutan kunyit ke kertas motif batik secara hati-hati.
  5. Menambahkan larutan deterjen pada bagian motif tertentu sehingga warna berubah menjadi merah.
  6. Menghapus kelebihan warna menggunakan cuka jika diperlukan.
  7. Menjemur hasil karya di bawah sinar matahari hingga kering.

Hasilnya, siswa dapat melihat perubahan warna secara langsung dan memahami reaksi kimia sederhana yang terjadi antara bahan-bahan tersebut.

Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dimensi kreatif, bernalar kritis, dan berkebinekaan global dalam Profil Pelajar Pancasila. Tema “Kearifan Lokal” dipilih untuk mengaitkan nilai budaya dengan proses pembelajaran yang menyenangkan.

Menurut Rofi’, perpaduan antara pengenalan budaya dan eksperimen sederhana dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa. “Anak-anak jadi lebih antusias karena mereka bukan hanya mendengar, tetapi juga mempraktikkan. Dengan begitu, pengetahuan tentang batik akan lebih melekat,” ujarnya.

Baca Juga :  Diversifikasi Produk, Mahasiswa UNTAG Bantu UMKM Sate Komoh Perluas Pasar

Mahasiswa KKN Kelompok 97 tidak hanya membimbing, tetapi juga ikut berpartisipasi dalam eksperimen, menciptakan suasana belajar kolaboratif. Kegiatan ini diharapkan mendorong seluruh warga sekolah untuk turut melestarikan batik, baik melalui pemahaman sejarah maupun pemakaian dalam kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa PGSD UNISRI Kelompok 97 KKN PPM bersama siswa kelas V SD Negeri 1 Sorogaten, Klaten, dengan bangga menunjukkan hasil karya eksperimen pewarnaan motif batik menggunakan larutan asam dan basa dalam pembelajaran bertema kearifan lokal, Rabu (30/7/2025). Foto: pribadi
Mahasiswa PGSD UNISRI Kelompok 97 KKN PPM bersama siswa kelas V SD Negeri 1 Sorogaten, Klaten, dengan bangga menunjukkan hasil karya eksperimen pewarnaan motif batik menggunakan larutan asam dan basa dalam pembelajaran bertema kearifan lokal, Rabu (30/7/2025). Foto: pribadi

Bagi siswa SD Negeri 1 Sorogaten, pengalaman ini lebih dari sekadar pelajaran sains atau seni. Mereka belajar bahwa batik bukan hanya kain bermotif indah, tetapi juga simbol identitas bangsa yang patut dijaga. Dengan memahami asal-usul motif batik, siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang bangga dan berperan aktif dalam pelestarian budaya.

Melalui kegiatan ini, P5 tidak hanya menjadi program formal sekolah, tetapi juga jembatan yang menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata. Batik yang selama ini mereka lihat dalam bentuk pakaian kini memiliki makna lebih dalam sebagai karya yang lahir dari proses kreatif dan sarat nilai sejarah.

Rofi’ berharap pengalaman ini menjadi awal dari kebiasaan positif. “Kalau sejak SD sudah kenal dan bangga memakai batik, kelak mereka akan lebih mudah meneruskan tradisi ini di masa depan,” tutupnya.

Dengan menggabungkan unsur budaya dan eksperimen ilmiah, KKN PPM UNISRI Kelompok 97 telah membuktikan bahwa pembelajaran dapat dirancang kreatif, menyenangkan, sekaligus bermakna.

Penulis : Rofi’ Hani Hangganingtyas | UNISRI

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serai Merah Tak Sekadar Tanaman, KKN UNS Kenalkan Potensinya untuk Produk Rumah Tangga
Dorong Persiapan Kehamilan Sehat, Mahasiswa Gizi UAD Edukasi Calon Pengantin di KUA Ngaglik
Penerapan K3 di Sekolah: Membangun Lingkungan Belajar yang Aman, Nyaman, dan Tangguh
Lomba Seni Literasi KKN 292 UNS Dorong Kreativitas Anak Desa Tawangsari
Dorong Daya Saing UMKM Desa Brunosari, KKN 214 UNS Inovasikan Produk dan Perkuat Identitas Kemasan
KKN-T UAA Bekali Pelaku UMKM Ngablak Magelang Kelola Keuangan lewat Program 30 Hari
Tak Hanya Edukasi, Mahasiswa KKN 142 UNS Ajak Pemuda Pemudi Tegalgondo Tingkatkan Kesadaran Hidup Sehat 
KKN 54 UNS Dorong Ibu-ibu PKK Pilangrejo Olah Jambu Air Menjadi Produk Bernilai Jual

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 19:58 WIB

Serai Merah Tak Sekadar Tanaman, KKN UNS Kenalkan Potensinya untuk Produk Rumah Tangga

Rabu, 30 September 2026 - 10:47 WIB

Dorong Persiapan Kehamilan Sehat, Mahasiswa Gizi UAD Edukasi Calon Pengantin di KUA Ngaglik

Rabu, 23 September 2026 - 18:02 WIB

Penerapan K3 di Sekolah: Membangun Lingkungan Belajar yang Aman, Nyaman, dan Tangguh

Minggu, 20 September 2026 - 11:51 WIB

Lomba Seni Literasi KKN 292 UNS Dorong Kreativitas Anak Desa Tawangsari

Sabtu, 19 September 2026 - 15:42 WIB

Dorong Daya Saing UMKM Desa Brunosari, KKN 214 UNS Inovasikan Produk dan Perkuat Identitas Kemasan

Berita Terbaru

Ilustrasi

Opini

Karhutla: Ketika Masyarakat Membayar dengan Napas

Selasa, 20 Okt 2026 - 13:24 WIB