Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Cara belajar mahasiswa kini jauh berbeda dibandingkan satu dekade lalu. Akses informasi semakin cepat, materi pembelajaran semakin beragam, dan proses belajar tidak lagi terbatas ruang kelas. Generasi Z, yang tumbuh bersama gawai dan internet, menjadi kelompok yang paling dekat dengan perubahan ini. Bagi mereka, teknologi bukan sekadar alat bantu, melainkan bagian dari keseharian.
Salah satu teknologi yang paling banyak dimanfaatkan adalah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Dalam konteks pendidikan, AI digunakan untuk membantu mencari referensi, menjelaskan materi sulit, hingga menyusun strategi belajar yang lebih efisien. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa integrasi AI yang disertai kemampuan belajar mandiri dapat mendorong motivasi belajar mahasiswa. Pembelajaran pun menjadi lebih fleksibel dan menyesuaikan kebutuhan masing-masing individu.
Namun, kemudahan ini juga menyimpan tantangan. Penggunaan AI yang terlalu intens berpotensi menumbuhkan ketergantungan. Ketika mahasiswa lebih sering mengandalkan jawaban instan, proses berpikir mandiri bisa terabaikan. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memengaruhi motivasi belajar dan kualitas pemahaman jangka panjang. Maka, penting untuk melihat secara seimbang bagaimana AI memengaruhi motivasi belajar Gen Z.
Motivasi belajar sendiri merupakan dorongan internal yang membuat mahasiswa tetap berusaha meski menghadapi kesulitan. Motivasi yang sehat tidak hanya berorientasi pada nilai akhir, tetapi juga pada proses memahami dan mengembangkan kemampuan diri. Di sinilah peran teknologi, termasuk AI, perlu ditempatkan secara tepat.
Peran Kecerdasan Buatan dalam Proses Pembelajaran Generasi Z
Bagi Generasi Z, penggunaan AI dalam belajar terasa alami. Mereka terbiasa mencari jawaban cepat dan penjelasan ringkas melalui teknologi. AI membantu mahasiswa mengakses sumber akademik, merangkum materi, hingga menyesuaikan kecepatan belajar sesuai kemampuan masing-masing. Sistem pembelajaran adaptif berbasis AI bahkan mampu merekomendasikan materi berdasarkan kebutuhan pengguna.
Selain itu, AI juga berperan dalam personalisasi pembelajaran. Mahasiswa dapat belajar dengan ritme sendiri tanpa tekanan untuk selalu menyamai orang lain. Ketika menemui materi yang rumit, AI dapat memberikan penjelasan alternatif yang lebih sederhana. Umpan balik yang cepat ini sering kali meningkatkan rasa percaya diri dan membuat proses belajar terasa lebih ringan.
Di sisi lain, AI juga mendorong kemandirian belajar jika digunakan dengan tepat. Mahasiswa yang mampu mengatur tujuan dan strategi belajar akan memanfaatkan AI sebagai pendamping, bukan pengganti berpikir. Dalam konteks ini, AI menjadi alat yang memperkuat motivasi, bukan melemahkannya.
Dampak Ketergantungan Kecerdasan Buatan terhadap Motivasi Belajar Generasi Z
Ketergantungan terhadap AI memiliki dua sisi. Dampak positif muncul ketika AI membantu mengurangi kecemasan belajar dan membuka minat pada materi yang sebelumnya dianggap sulit. Mahasiswa menjadi lebih berani mencoba dan terlibat dalam pembelajaran.
Namun, masalah muncul ketika AI digunakan tanpa kontrol. Ketergantungan berlebihan dapat membuat mahasiswa kurang terbiasa berpikir kritis. Proses belajar berubah menjadi sekadar mencari hasil, bukan memahami proses. Motivasi intrinsik, yaitu dorongan belajar dari dalam diri, perlahan bisa melemah karena mahasiswa terbiasa mendapatkan jawaban instan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menurunkan kemandirian belajar. Mahasiswa bisa kesulitan menyelesaikan tugas ketika teknologi tidak tersedia. Oleh karena itu, kesadaran dalam menggunakan AI menjadi faktor penting agar motivasi belajar tetap terjaga.
Strategi Pemanfaatan Kecerdasan Buatan secara Bijak pada Peningkatan Motivasi Belajar Generasi Z
Agar AI memberi dampak positif, penggunaannya perlu diarahkan secara bijak. AI sebaiknya dimanfaatkan untuk memahami konsep, memperluas sudut pandang, dan mengeksplorasi materi, bukan sekadar mencari jawaban cepat. Keterampilan belajar mandiri atau self-directed learning menjadi kunci agar mahasiswa tetap aktif mengelola proses belajarnya.
Peran dosen juga sangat penting sebagai pendamping dan pengarah. Dosen dapat membantu menetapkan batasan penggunaan AI sekaligus menanamkan etika akademik. Interaksi langsung tetap dibutuhkan agar pembelajaran tidak kehilangan sisi manusiawi.
Selain itu, literasi digital perlu terus diperkuat. Mahasiswa yang paham manfaat dan risiko teknologi akan lebih mampu mengontrol penggunaannya. Dengan keseimbangan antara teknologi dan usaha belajar mandiri, motivasi belajar dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.
Penulis : Wafiq Nur Azizah | S1 Manajemen | Fakultas Ekonomi dan Bisnis | Universitas Muhammdiyah Malang
Editor : Fadli Akbar









