Mojokerto, Sorotnesia.com – Persoalan limbah peternakan masih menjadi tantangan di banyak wilayah pedesaan. Di Dusun Pringwulung, Desa Bendungan Jati, Kabupaten Mojokerto, kotoran sapi selama ini hanya ditumpuk atau dibuang ke lingkungan sekitar. Praktik tersebut tidak hanya memicu pencemaran, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan warga.
Kondisi itu mendorong mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menghadirkan solusi berbasis teknologi tepat guna. Melalui program pengabdian masyarakat, mereka memperkenalkan inovasi pengolahan kotoran sapi menjadi briket biomassa sebagai sumber energi alternatif.
Kegiatan ini berada di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan, Dr. Tan Evan Tandiyono, S.E., S.Pd.K., M.PSDM., CHCM., CKWU. Tim pelaksana terdiri atas mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum UNTAG Surabaya, yakni Danendra Raditya Ramiro, Muhammad Bangun Saputra, Diana Eka Shintia, Fitrah Yunanda, dan Achmad Alifi Albastomi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Teknologi yang diperkenalkan berupa tungku pirolisis berbahan drum sederhana. Melalui proses karbonisasi, kotoran sapi diubah menjadi arang, kemudian dicetak menjadi briket biomassa. Briket ini memiliki nilai kalor yang relatif stabil serta menghasilkan asap yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar konvensional berbasis kayu bakar.
Keunggulan utama teknologi ini terletak pada kesederhanaannya. Seluruh peralatan dirancang agar mudah dirakit dan dioperasikan oleh peternak tanpa ketergantungan pada listrik atau mesin mahal. Bahan yang digunakan pun berasal dari material lokal, seperti kaleng cat bekas dan besi penyangga sederhana, sehingga biaya produksi dapat ditekan.
Dari sisi lingkungan, penerapan teknologi ini membantu mengurangi pencemaran air tanah dan bau tidak sedap di sekitar kandang. Selama ini, sebagian peternak membuang limbah ternak langsung ke aliran air atau tempat pembuangan terbuka. Dengan pengolahan menjadi briket, limbah tersebut memperoleh nilai guna baru sekaligus memperbaiki sanitasi lingkungan.
Manfaat ekonomi juga mulai dirasakan warga. Desa Bendungan Jati membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) untuk mengelola produksi dan pemasaran briket. Target produksi awal ditetapkan sekitar 50 hingga 75 kilogram per minggu. Briket tersebut diproyeksikan sebagai produk energi ramah lingkungan yang dapat bersaing di pasar lokal.
Dalam pengembangannya, mahasiswa turut mendorong strategi pemasaran berbasis digital. Produk briket rencananya dipasarkan melalui media sosial seperti WhatsApp dan Facebook, serta dikembangkan ke platform e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Program ini menjadi contoh bahwa inovasi energi tidak selalu memerlukan teknologi canggih dan investasi besar. Dengan pendekatan sederhana dan partisipasi masyarakat, limbah yang sebelumnya dianggap masalah kini berubah menjadi peluang ekonomi dan sumber energi alternatif. Warga Pringwulung berharap inisiatif ini dapat berlanjut secara mandiri, bahkan setelah program mahasiswa berakhir.
Penulis : Muhammad Bangun Saputra | Program Studi Ilmu Komunikasi | Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Editor : Intan Permata









